Berdamai dengan Ekstrovert
Siang itu dalam sebuah diskusi setelah presentasi ibu dosen mengucapkan sebuah kalimat yang cukup menarik untuk dipelajari,
"Jangan pernah menyerah walaupun kalian berbeda jalan. Karna perbedaan itulah yg bisa membuat kalian bersatu,untuk saling melengkapi. Itulah mengapa Tuhan tidak menciptakan semua orang dengan sempurna, karna kalau udah sempurna, pasti manusia nggak akan saling membutuhkan. Kalau ada perbedaan, kalian seharusnya bisa saling mengisi kosongnya kesempurnaan kalian dengan orang lain. Maka dari itu jangan pernah mencari kesempurnaan."
"Mau kalian introvert atau ekstrovert, berusahalah menghargai dan menghormati orang lain. apapun yang oranglain pikir tentang kalian, masa bodohlah! selama kalian bertindak sesuai kebenaran, jangan pernah takut. Ingat selalu filosofi batu yang ditetesi air hujan, kelak orang-orang yang tadinya menganggap kalian remeh, akan terpengaruh tindakan baik kalian. Buat yang ekstro,jangan pernah memaksa si intro untuk berubah secepat kehendak kalian,karna mereka nggak akan mau. dan buat intro, jangan meminta si ekstro untuk tau isi hati kalian secara langsung,karna mereka nggak akan pernah bisa membaca kalian."
Jujur waktu mendengar apa yang diucapkan ibu dosen yang notabene juga seorang introvert, aku merasa mendapat secercah semangat yang kemarin sempat down gara-gara suatu masalah. Apa yg dikatakan dosen tadi mungkin susah diterapkan dalam kenyataan. Apalagi buatku yang seorang introvert melankolis *ceileee...
Dalam pertemanan, mungkin juga sangat sulit buat nglakuin yang namanya "mengisi kekosongan kesempurnaan" buat oranglain. Karna orang pengin selalu dimaklumi kekurangannya,tapi nggak selamanya mau memaklumi orang lain dan orang pengin dimengerti kebutuhannya,tapi nggak selamanya mau berusaha mengerti kebutuhan oranglain.
Yes, Iam an Introvert, so what??
Dulu memang aku sempat mengalami fase dimana aku anti banget berteman
sama orang ekstrovert, waktu aku belum tau perbedaan antara ekstro dan
intro. yang aku rasakan adalah ketidaknyamanan yang besar saat harus
berhadapan dengan mereka yang nggak pernah mau berusaha masuk pikiran
kita, yang hanya tau sesuatu itu "jadi" dan "beres". Sampai saat kuliah
aku baru tau perbedaan antara ekstro dan intro, baik buruknya mereka,
dan bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi dua jenis manusia
tersebut.
Di hasil tes psikologi dulu juga aku cenderung intro. tapi sekarang aku
merasa sedikit lebih bisa "mengekstrovert-kan diri", alias bisa sedikit
terbuka dengan dunia luar tanpa meninggalkan keintrovertanku, karna
memang itu suatu kebutuhan. Lucunya, banyak orang yang nggak percaya kalau aku dan keluargaku (bapak, mamas, adek) ini intro. Pernah suatu hari saat pelantikan pengurus UKM, salah satu kakak angkatan bertanya :
"apa si sifat unik yang kamu punya?"
saat ku jawab aku introvert, sontak mereka tertawa terbahak sambil komentar:
"mana ada orang intro cerewetnya kaya kamu Din..hahaha"
Dalam hati gantian aku yang ngakak mendengar kalimat mereka yang ekstro,yang bener bener nggak mengerti bagaimana orang intro itu.
Si introvert, bukanlah manusia antisosial yang ada di mindset orang selama ini. salah kaprah jelas. Manusia intro itu lebih suka melihat dan berpikir ke dalam, mereka lebih nyaman dengan segala sesuatu yang mereka "bahas" dalam pikiran mereka sendiri. Kalau ada suatu masalah, mereka lebih suka "mengolah dan menyortir" dalam pikiran mereka sendiri, baru kemudian kalau memungkinkan mengeluarkannya ke oranglain. itulah sebabnya mereka cenderung lebih suka menutup diri untuk lebih mendalami pikirannya sendiri.
Tapi orang intro juga nggak selamanya menutup diri kok. Mereka bisa juga terlihat seperti orang ekstro normal lainnya,contohnya aku ini.hehe.. Lha kok bisa? yap. si intro, kalau udah berada di sebuah lingkungan yang membuat dirinya nyaman, dia akan dengan enjoy berbuat sesuka hati mengeluarkan unek-uneknya tanpa harus takut akan ancaman dari luar. tapi kalau emang gak ada sesuatu di lingkungan tersebut yang bikin dia nyaman, jangan harap deh bisa ngeliat intro tersenyum atau good mood saat itu.hehe. Begitu juga dengan pertemanan. Si intro bisa kok berteman sama ekstro, asalkan si ekstro itu bener-bener bisa memahami mood dia. Yap, pada beberapa intro, mood sangat berperan penting dalam pertemanan lho.
Tapi orang intro juga nggak selamanya menutup diri kok. Mereka bisa juga terlihat seperti orang ekstro normal lainnya,contohnya aku ini.hehe.. Lha kok bisa? yap. si intro, kalau udah berada di sebuah lingkungan yang membuat dirinya nyaman, dia akan dengan enjoy berbuat sesuka hati mengeluarkan unek-uneknya tanpa harus takut akan ancaman dari luar. tapi kalau emang gak ada sesuatu di lingkungan tersebut yang bikin dia nyaman, jangan harap deh bisa ngeliat intro tersenyum atau good mood saat itu.hehe. Begitu juga dengan pertemanan. Si intro bisa kok berteman sama ekstro, asalkan si ekstro itu bener-bener bisa memahami mood dia. Yap, pada beberapa intro, mood sangat berperan penting dalam pertemanan lho.
the chemistry between us
dari tulisan di atas mungkin ada yang mengira, berarti intinya si intro cuma mau punya teman sesama intro biar nyambung? jawabannya belum tentu.
Aku sendiri punya 6 orang sahabat yang semuanya dominan ekstro. tapi kami nyaman menjalani semua bareng-bareng. Di sisi lain, aku juga punya seorang sahabat yang intro, namun kadang kami sering merasa aneh dan malah nggak nyambung. hal ini mungkin bisa membuktikan perkataan ibu dosen di atas tadi.
Aku dan teman introvert-ku itu diibaratkan sempurna, karna memiliki sifat yang sama. Namun justru aku sering merasa bosan karna selalu mudah dimengerti dan cenderung hubungan kami datar karna kami sudah saling mengerti. aneh? ya memang.
Sedangkan dengan teman ekstro-ku, kami memang sering salah paham tentang sesuatu, mungkin karna intensitas komunikasi yang kurang juga karna jarang ketemu, namun kami selalu merasa terikat dalam suatu hubungan yang sulit untuk diuraikan. Kami masing-masing merasa saling memiliki dan berhak untuk selalu tau tentang kehidupan masing-masing. Apalagi mereka berenam selalu penasaran dengan apa isi hati dan pikiranku, dan aku selalu penasaran dengan tindakan spontanistas dan kecerobohan apa yang akan mereka lakukan.
Mungkin chemistry inilah yang dimaksudkan ibu dosen :
"isilah kekosongan kesempurnaan oranglain".
Tanpa disadari, kami sudah saling mengisi selama ini. Mereka akan dengan senang hati menjaga perasaan dan moodku, berusaha membuat aku enjoy dimanapun kami berada, dan aku akan dengan senang hati menyediakan mata hati telinga dan pikiranku untuk mendengarkan setiap keluh kesah kecerobohan mereka. Hingga mungkin karna itulah sampai saat ini udah ada 6 tahunan, (dan semoga sampai ajal memisahkan kita) aku dan keenam sahabatku masih bisa bertahan.aamiin..

kunjungan silaturahmi
BalasHapussalam kenal sob..
waaah.. ternyata banyak juga blogger purbalingga perwira..
salam kenal juga, :)
Hapusmasnya dari purbalingga juga ya?
mbak bisa minta tolong ga
BalasHapusminta emailna to hpna pak halomoan ompusunggu
makasi
wah maaf, saya ndak tau.
BalasHapuspasti anda salah blog ya? yg cerita tentang beliau ada di blog oranglain judulnya "chemistry seorang dosen", bukan The Chemistry yang ini,hehe