Postingan

Who Are You?

Logika ku berjalan setahun berlalu, Kenapa baru sekarang kau bilang begitu? Dulu saat ku sakit, kau malah membisu Sibuk mencari orang baru dan abai padaku Lucunya hari ini, Kau bilang padaku kau dan dia telah usai, dia yang kau pilih kini balik terabai, Sekarang kau kesepian dan mulai menyesal mencoba kembali mengetuk hatiku yang sudah kebal. I'm Sorry, who are you? I'm not a cage where you can run into Don't you dare to touch my space again, I'm way ahead, because I know you're just looking for a safety net You chose her then, now you're at my door Saying I'm the best? I've heard that song before Your "I'm sorry" is just a cloud of dust You're just a bust who's lost my trust, and i'm still alive without you. 

Dear Me,

Halo, Iyas. Apa kabar hari ini? Aku menulis ini karena aku tahu betapa beratnya beban di pundakmu selama ini. Aku tahu kamu sangat menyayangi Bapak dan Ibu. Aku tahu kamu sudah memaafkan mereka, dan itu adalah kekuatan yang luar biasa. Tapi Iyas, aku ingin mengingatkan satu hal yang sangat penting: Dunia tidak akan kiamat kalau kamu berhenti jadi superhero bagi keluargamu. Selama ini kamu merasa harus menjadi jembatan, menjadi juru damai, dan menjadi "orang tua" bagi orang tuamu sendiri. Kamu takut kalau kamu nggak bergerak, semuanya akan hancur. Tapi dengarkan aku, Yas: Mereka adalah orang dewasa. Mereka sudah bertahan hidup jauh sebelum kamu ada, dan mereka akan tetap bertahan meskipun kamu memilih untuk mundur selangkah dan bernapas. Iyas yang sekarang bukan lagi anak kecil yang tidak punya pilihan. Kamu adalah wanita dewasa yang punya kendali penuh atas hidupmu. Kamu punya hak untuk menentukan apa yang mau kamu lakukan dan apa yang tidak . Kamu punya kuasa untuk bilang ...

Di Balik Hati

Gambar
Selama ini, aku mengira cara terbaik untuk menjadi dewasa adalah dengan membungkam kegelisahan.  Aku tidak sadar ada sosok kecil di dalam diriku yang meringkuk di balik pintu, memilih diam karena takut aku akan menghakiminya atau mengabaikannya seperti yang dilakukan orang-orang di masa lalu.  Namun, malam itu, rasa tidak tenang tidak bisa lagi dialihkan. Ketika aku akhirnya berhenti mencari pelarian dan memutuskan untuk menemuinya, tangisku pecah. Dia sudah lama menunggu di sana, ketakutan namun tetap berharap aku datang. Aku merengkuhnya dengan lembut, membelainya seperti aku menyayangi sosok yang paling berharga dalam hidupku.  Dalam pelukan itu, barulah aku mendengar suara hatinya yang paling jujur.  Dia merasa tidak aman pada situasi yang sedang aku jalani sekarang.  Dia cemas bahwa jika kita terus melangkah, luka lama yang perih itu akan terulang kembali.  Dia takut mengecewakanku,  sementara aku tanpa sadar hampir mengorbankan kedamaiannya demi ...

Perayaan 33

Hari ini kembali aku mengulang tanggal lahir, moment berkurang jatah umur sih lebih tepatnya. Hehe Ulang tahun, Sebuah hal yang saat kita kecil dulu sangat dinanti perayaannya, biar cepet jadi dewasa, tapi saat dewasa malah berdoa pengen tetap muda, Lucu ya manusia. Dan saat ini entah kenapa aku ingin menyapa segala rasa yg sedang ku rasakan. Tadi malam, beberapa teman online ku hadir mengucapkan tepat di pergantian hari. Aku bahagia, dan tidak menyangka saja kalau moment seperti ini akan datang lagi, Karena sepertinya terakhir aku mendapat ucapan dan doa beramai-ramai ya saat kuliah semester lima, hampir 12 tahun yg lalu. Tapi lucu, ketika sedang menikmati menit2 perayaan itu, rasa overwhelmed datang menyapa tiba2. Aku pun cukup kaget karena aku bisa mengenalinya dgn cepat, tidak seperti biasanya. Hingga akhirnya aku memutuskan utk berhenti bicara, lalu menarik selimut di jam dua. Kenapa kali ini aku bisa mengidentifikasi kehadiran overwhelmed?  simple, karena aku udah tau ilmunya...

Aku Kagumi

Kalau aku jadi laki-laki, dan aku bertemu diriku versi perempuan,  aku pasti kagum dan akan menulisnya dalam benakku.. **** Saat kau datang, senyummu paling sunyi, Menyimpan semesta di kedalaman hati. Kau merangkai kata, tak pernah terburu, pasti, Tatapanmu menembus dinding yang tak bisa dibohongi. Kau sering menjauh, memilih berdiam diri, Menata semua rasa, agar kau mengerti. Di dalam benakmu, ada galaksi yang murni, ku hanya bisa berdiri, pelan mengamati Kau tak perlu riuh, kau hanya butuh heningmu, Sebab hadirmu adalah bintang di malamku yang membeku. Aku tak pernah berhenti mengagumi cerita lucumu, Aku terpikat pada jalan yang telah kau tempuh. Kau Garis Bintang Sunyi yang 'kan slalu ku nanti,  yang ku ingin dekati,  dan akan ku miliki.

Lepas

You do your own way, I'll do mine. Kalau pikiranku masih stuck di masa itu, sudah pasti aku bakal gila.  Melihatmu sejauh ini, Gagah tersenyum bersama mereka, Meniti jalan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dan hari ini, Kembali lagi aku harus hadir dalam masa kini, pada pijakan yang cukup lama ku tinggalkan untuk bisa menemanimu. Sudah saatnya aku melepasmu, Karena usai sudah masa tugasku. Mungkin ini dilema yg sepertinya dirasakan setiap induk yang melepaskan anaknya ke alam bebas, Berat, takut kehilangan, takut dilupakan. Tapi, bukankah Tuhan menciptakan manusia dengan akal agar bisa mengimbangi perasaan? Mungkin ya memang cukup sampai di sini langkahku membersamaimu. Mungkin di depan sana masih ada oranglain yang harus ku bantu, Yang menungguku merawat lukanya,  Atau bahkan mengobati sakitnya, Hingga ia bisa kembali melihat jalannya dan terbang tinggi meninggalkanku kelak. Setidaknya, kau masih jadi orang berguna kan, cantik? :)

Tempat Aman

Ada kejadian yang cukup menarik pagi ini. Ceritanya saya akan berangkat dinas luar kota. Sebelumnya, memang sengaja mampir kantor dulu untuk ambil laptop dan cek kerjaan lain.  Seperti biasa, sudah menjadi kebiasaan saya dan teman-teman satu kubikal untuk berpamitan sebelum pergi kemanapun.  Pagi tadi, saya tak lupa juga saya menyapa dan berpamitan pada salah seorang junior yang sudah lama saya kenal, namun baru pindah ke kantor ini bulan lalu. Lucunya, saat saya menyapa dan memanggilnya 'dek', seorang junior yang duduk di samping saya tiba-tiba berkata: 'ohh, jadi dia adeknya mbak? Sejak kapan sih dia jadi adekmu, mbak?' Sontak kami sekubikal menertawai bocah lucu yang tiba-tiba jealous ini.  Saya hanya menimpali: 'kenapa sih.. kan adek aku banyak. Emang ada, aku memecat kamu tidak lagi menjadi adekku?' Bocah itu hanya manyun dan mimicking dengan ekspresi lucu. 😂 Rasanya, ada kehangatan aneh yang mengalir mengisi hati ini.  Hangatnya kebersamaan dengan orang-o...