Setitik
I was sitting outside in the balcony when suddenly I feel de javu.
Seseorang di masa lalu, pernah bercerita di telpon saat dia berkunjung ke Malaysia.
Saat itu ia sedang beristirahat di sebuah hotel, dengan view menghadap kolam renang dan laut dari kejauhan. Dia duduk di balkon, sambil menikmati udara malam, sambil menceritakan perjalanannya seharian. Dia pun berjanji membelikanku jilbab pashmina dan akan memilihkanku sebuah buku, yang pada keesokan harinya betul-betul dia belikan.
Ah, seandainya saja kau tidak memilih child-free, mungkin saat ini kita sudah bersama, kak.
Membahas seluruh kejadian hari ini,
bertukar pikiran tentang segala hal yang ada di pikiran kita,
saling memberikan ketenangan dengan menafsirkan hikmah dari apa yang ada di hari ini,
atau bahkan, aku saat ini sedang sibuk membantumu menerjemahkan jurnal-jurnal pilihanmu.
Tapi itulah hidup.
Realitanya bukan aku yang sekarang ada di hidupmu.
Karena jalan yang kita pilih tak sama.
Tapi kak,
Berkatmu kini aku mengerti, orang seperti apa yang ku butuhkan untuk membersamaiku jadi teman hidupku.
Berkatmu, aku tau bahwa belas luka yang kau tinggalkan akan menjadi pembelajaran seumur hidupku, untuk tetap berhati-hati tidak menyerahkan hatiku pada sembarang orang lagi.
Dan untuk malam ini,
Izinkan aku mengenang kehadiranmu sejenak, membersamai tulisan ini, setitik.
Komentar
Posting Komentar