Jasmerah - Lupa Diri

Salah satu alasan saya menyukai sejarah adalah selain karena saya suka berimajinasi, juga karena dengan sejarah kita bisa selalu ingat siapa diri kita sebenarnya, dan apa tugas kita di dunia ini pada akhirnya (ceilah agamis bener wkwk). 

Seorang pernah berkata, jangan pernah lupa dari mana kita berasal, agar kita tidak gampang terhantam realita kehidupan.

And that's true.

Sama seperti semalam, waktu datang sebuah chat yang cukup membuat saya merasa seperti mati lampu (ya sayang~) karena mempertanyakan eksistensi kehidupan saya, lalu saya menangis semalaman hingga akhirnya memilih meminum antimo to the rescue karena diri ini sadar butuh tidur. Paginya saat terbangun, entah bagaimana Allah tiba-tiba menghadirkan ingatan kejadian obrolan saya dan adik di mobil waktu dia mengantar saya ke stasiun.

Adik bercerita kalau dia pernah mengajak bapak ibu ziarah ke makam salah satu sesepuh tokoh penyebar agama Islam di Banyumas, yg kalau dari cerita masih ada hubungan darah sama bapak. Tapi ketika sampai di sana, sang Juru Kunci makam malah kaget ketika melihat ibu, dan usut punya usut katanya yang memiliki hubungan darah justru ibu, bukan bapak, wkwkwk.

Berlanjut, juru kunci menceritakan silsilah keluarga sampai ke ibu. Gak lama, beliau memandang adik dan bilang kalau adik saya punya kemiripan fitur badan, wajah, dan darah agama yang kuat mirip mbah Singadipa (mari ambil positifnya saja). Lalu dikatakan juga, anak perempuan keluarga kami (padahal saya juga gak ikut, dan gak ada yg cerita kalau bapak ibu punya anak perempuan alias saya) juga dapet 'warisan' darah kepemimpinan beliau. Percaya gak percaya, tapi kalau yg ini saya ingin mencoba yakini aja wkwkwk.

Memikirkan obrolan tempo lalu itu, membuat saya merasa seperti mendapat dorongan untuk bangkit. Ibarat kata, selama ini saya juga tidak tau apa yang membawa saya bisa kuat hidup sendiri di tanah rantau, jadi pribadi yang lebih tangguh dibandingkan saya yang dulu, disuruh ngehandle banyak hal dan tim (yang jelas ini tanggung jawab kepemimpinannya besar), selain karena saya yakin Allah akan selalu membimbing saya dimanapun saya berada.

dan dengan belajar sejarah, saya jadi merasa 'kuat', karena rasanya punya spion besar di kanan kiri saya. ketika saya merasa down, saya cukup berhenti sejenak dan melihat spion itu, and says:

"Yas, lihat tuh, mbah-mbahmu dulu kuat banget lho mentalnya, bisa mimpin ini itu, bahkan bisa mempertanggungjawabkan setiap amanah yang dikasih. 

Look, di dalam darahmu ada darah mereka juga lho. gapapa kalau sekarang capek, tapi cepet berdiri lagi ya, karena kamu itu diciptakan setangguh mereka, sekuat mereka. Kamu  hidup jauh di sini pun kuat krn Allah kasih kesempatan kamu untuk bisa memaknai semuanya dari jauh kayak mereka dulu yang semuanya perantau. 

Coba kalau kita gak pernah merantau, mungkin hidupmu akan stuck gitu-gitu aja, gak ada upgrading diri, bakal di rumah terus banyak berantem sama kakak adek bahkan ribut sama ortu, bisa jadi kamu gak akan pernah bisa memaknai nikmatnya bakti sama orangtua di setiap kesempatan yang ada. 

Ya, memang lebih sulit dan berat berlipat-lipat rasanya. Tapi sulit bukan berarti gak bisa. karena ingat aja: 'tsumma atba'a sababa', dan tempuhlah jalan yang lain (lagi). Allah aja udah mengingatkan hamba-Nya dengan selembut itu lho, sampai diulang-ulang. Artinya ya kita emang gak perlu menyerah, krn Allah pasti akan kasih jalan terus. Jadi kalau sampai ada yg menggoyahkan keyakinanmu, membuatmu jadi mempertanyakan eksistensimu, keputusanmu, bahkan memintamu utk menyerah demi sebuah hal yg belum pasti, woooh sleding ae! Dah lepasin. Manut. InsyaAllah bakal diganti sama yg lebih baik di jalan yg lain. Aamiin."

***  

Makanya kadang saya suka heran, 

Banyak orang yang bisa dengan mudahnya melupakan kehidupan yang dia jalani sebelumnya. Banyak orang yang langsung berubah menjadi sosok lain setelah pindah ke tempat yang lebih penuh kemudahan. Kayak bener-bener lupa jati dirinya. Lupa kalau dia pernah ada di posisi yang susah dan berat juga. Lupa kalau dia bisa memperlakukan orang lain yang sedang ada di posisinya dulu dengan lebih baik dan lembut lagi. 

Dari awal saya berdoa juga minta ditunjukkan yg terbaik, jika memang tidak berjodoh maka minta dijauhkan. Mungkin ini cara Allah menjauhkan (meski rasanya kek kecepetan wkwkwk) biar saya gak berlarut-larut.

Tapi yasudahlah (Bondan~)

mari kita lihat spion kita, dan bangkit lagi, karena masih ada 3 laporan menanti. 

Yashhhh! 


Komentar