Kebanggaan Pingitan

Sore ini saya kembali mendapat sebuah pelajaran yang benar-benar mengena tentang kehidupan, tentang bangganya saya jadi orang jawa. Diawali dari perasaan ngebet pulang ke rumah, dan ternyata sampai di rumah kembali harus melihat ibu yang sedang menahan sakitnya yang kebetulan kumat (memang terkadang ikatan batin ibu-anak bisa sekuat ini). Seperti biasa sudah menjadi kewajiban tidak langsung sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga, menggantikan tugas ibu dari mulai masak sampai beres-beres rumah harus saya lakoni secara rutin tiap kali ibu sakit, sebuah tugas "mbabu" kalau dalam istilah teman-teman yang jarang atau tidak pernah melakukannya.

Dulu, saya sering berpikir kalau tugas "mbabu" itu memang sangaaaaat memberatkan. alasan kenapa saya sangat benci mengerjakan tugas rumah tangga adalah karna pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan. Sejak kecil saya memang mendapat didikan semacam "pingitan" khas tradisi jawa yang mengharuskan anak perempuannya dibekali dengan ketrampilan wanita jawa (aslinya pingitan merupakan tradisi 'mengurung' anak perempuan yang akan dinikahkan, tujuannya supaya siap menjadi wanita "seutuhnya" dari mulai sopan santun dan tata krama, pengaturan sikap selayaknya orang jawa yang harus lembut,sabar,legowo di berbagai situasi, melakukan pekerjaan rumah tangga, sampai cara bergaul pun diatur secara ketat). Mungkin karna "bosan" dengan aturan di masa kecil dulu, lama kelamaan saya menjadi sedikit nakal dengan cara membangkang alias tidak mau lagi melakukan tradisi jawa itu. Efeknya, saya pun selalu jadi bahan omelan eyang putri,hehehe 

Namun, seperti apa kata orang, semua hal itu butuh proses. Ternyata langkah pembangkangan saya berangsur menghilang ketika saya mulai duduk di bangku SMP. Meskipun pada awalnya saya membenci "adat" dalam keluarga jawa, lucunya di SMP saya malah menjadi maniak bahasa jawa,dan mata pelajaran favorit saya adalah muatan lokal Bahasa Jawa. hehe.. Kenapa? bukan bermaksud membanggakan diri, tapi dulu di kelas saya hanya ada segelintir siswa yang lancar berbahasa jawa krama inggil dan saya termasuk di dalamnya alhamdulillah, sehingga mau tidak mau nilai bahasa jawa saya termasuk menonjol diantara yang lainnya. Hal seperti itu terus terbawa hingga SMA dan menjadi kebanggan tersendiri buat saya pribadi.

Satu poin plus mulai muncul lagi saat Ayah saya masih bertugas sebagai Camat di suatu daerah, waktu itu ada kunjungan Bapak dan Ibu Bupati ke kecamatan. Sepulang sekolah,  tiba-tiba masuklah seorang wanita dengan baju batik ke dalam rumah, dan langsung mengajak saya mengobrol ngalor-ngidul dengan bahasa indonesia yang saya balas dengan menggunakan bahasa krama inggil (bahasa untuk orang yang lebih tua/dituakan). Sesaat si Ibu itu diam, lalu tiba-tiba mengelus kepalaku dan berkata, 
"pinter banget si kamu mbak.. semoga kelak tetap bisa njaga budaya jawa kita ya.. kalau saja anak-anak di Purbalingga bisa berbahasa jawa krama lancar seperti kamu,"
Deg! detik itu juga saya baru sadar, siapa lagi wanita itu kalau bukan Ibu bupati.. Haduhalaaah.. Benar-benar malu saat itu karna saya bahkan tidak tahu sedang berbicara dengan istri orang nomor satu di kota saya kala itu, yang untuk anak seusia saya saat itu sangat membanggakan bisa bertemu beliau langsung, hahaha

Kalau di flashback mungkin sudah banyaaaak sekali kejadian lain yang membuktikan bahwa didikan "pingitan" yang saya terima dulu benar-benar bermanfaat bagi kehidupan saya sekarang. Mulai dari hal kecil dirumah seperti menghandle tugas rumah tangga seorang ibu dirumah, masak masakan tradisional jawa dengan rasa pas (ini asli susah banget lho) sampai bisa beramah tamah dengan orang lain dengan bahasa jawa, disaat anak jaman sekarang dididik hanya untuk mengenal bahasa indonesia sebagai bahasa keseharian dan bahasa inggris sebagai bahasa pergaulan, rasanya keren lho, berasa jadi duta budaya jawa apalagi bis krama inggil,hehehe

Di tengah perkembangan zaman yang semakin "menindas" keberadaan budaya jawa, saya merasa sangat bersyukur sampai saat ini setidaknya saya masih bisa mengemban amanat dari keluarga untuk tetap memelihara budaya jawa dengan cara kami sendiri. Mungkin kelak saya pun akan mendidik anak-anak saya dengan kekhasan budaya jawa. Karna seperti yang Ibu katakan,
"bahasa Indonesia dan Inggris itu bisa diajarkan oleh lingkungan, tapi bahasa jawa harus kita sendiri yang mengajarkannya pada anak cucu kita."
Memang benar, kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi?

Komentar