Dosen - Nikah Muda

Terima kasih saya ucapkan khusus untuk bapak dosen yang hari ini telah membuat saya berhenti berpikir tentang rencana nikah muda. Yah..buka sajalah,ngaku saya..
Jadi, siang tadi saya masuk kelas mata kuliah tentang keperilakuan. Ya, meskipun melulu tentang keperilakuan, tapi kali ini beda. Diawali dengan profil pak dosen. Sebut saja beliau bapak X, asli tanah Karo, dan seperti pada umumnya dosen perantau, beliau selalu masuk kelas dan mengajar full and always on time *tipe-tipe yang selalu jadi bahan olokan mahasiswa tua* hahaha

Perkuliahan dimulai pukul 13.00, dan berakhir 15.30. Selama 2,5 jam itu, si bapak banyak bercerita tentang banyak hal, dari yang nggak penting sampai yang nggak penting banget. Awalnya memang ceritanya masih terkait dengan penerapan keperilakuan, tapi entah bagaimana tiba-tiba sudah membahas tentang bagaimana dosa orangtua yang menelantarkan anak yang dia bikin dengan 'kesenangan', juga dosa anak yang nggak punya tujuan buat membahagiakan orangtuanya, dan nggak ketinggalan bagaimana bumbu-bumbu dalam pacaran, tatacara nikah, cara merawat anak dengan kasih sayang plus cara mengganti popok bayi dengan baik dan benar.. -______-
Sekilas memang tampak nggak banget, dengan kondisi di luar hujan deras, dan jumlah mahasiswa yang hanya 8 orang (maklum kelas pilihan) ditambah suara si bapak yang berat dan basah *halah*, bikin tambah ngantuk. Tapi setelah sampai di sesi diskusi *lebih tepat disebut sesi curhat*, rasa kantuk di pelupuk mata mulai hilang. Gimana rasanya, saat kamu terkantuk-kantuk, dosen tiba-tiba menceritakan kisah hidupnya,  kisah betapa beratnya jadi orangtua yang ujung-ujungnya selalu ditinggal anaknya kalau anaknya sudah  dewasa dan menikah, kisah tentang penyakitnya yang muncul karna anak perempuannya menikah *call this father's syndrome*. Ya, cerita tentang perasaan seorang bapak. Degg! Beliau bercerita tentang perasaannya saat si anak tetap pada pendiriannya untuk menikah sama lelaki pilihannya yang *alasannya nggak mungkin disebutin* nggak sreg sama pilihan bapak dosen. tapi setelah perjuangan 4 tahun akhirnya mau nggak mau beliau merelakan anak perempuannya 'diambil' laki-laki itu. uuuwwwooooo... :')))

dan beberapa nasehatnya yang sempat saya dengar:
  1. kalau anda yakin dengan sesuatu yang pantas anda pertahankan, pertahankanlah!
  2. jangan pernah durhaka sama orangtua, buatlah mereka selalu tersenyum
  3. jangan pernah berkata 'saya tidak pernah terlambat/bohong' karna saat itu sama saja anda sedang berbohong,meskipun anda tidak tahu, Tuhan lah yang paling tahu
  4. cari tahu apa tujuan anda 'ADA', ingat dosa terbesar anda yang akan dibenci Tuhan
  5. kalau popok anak anda nanti basah karna pup atau pipis di tengah malam, segeralah menggantinya,karna kalau tidak, kasian baby anda, kulitnya bisa merah-merah dan sakit -_____-

Asli, detik itu juga saya langsung kepikiran bapak yang sudah sepuh dan ibu yang sudah mulai sakit-sakitan di rumah. Saya sendiri nggak habis pikir, kenapa si bapak memberikan nasehat seperti itu di saat saya ingin serius memikirkan rencana masa depan hidup saya sendiri, setelah lulus,cari atau bikin lapangan kerja, dan menikah maksimal usia 24 tahun. Ditambah, kemarin saya baru mendapat kabar duka, bayi dalam kandungan seorang teman kuliah sudah kembali dipanggil Alloh, (nggak bisa dibayangkan perasaan si ibu, teman saya itu, lagi seneng-senengnya mau lahiran 9 bulan, tapi... semoga si dede sudah bahagia dan tumbuh besar di surga, dan kelak bisa jadi penolong orantuanya di akhirat,aamiiin...) makin lengkaplah bom yang meruntuhkan pijakan selama ini. Saya harus tunda nikah muda. masih ada yang harus saya lakukan dan kumpulkan sebelum usia 25. Dan seperti baru terangkat dari danau mimpi, saya baru ingat kalau sekarang saya masih 19, dan masih banyak tanggungjawab saya untuk minimal 2 tahun ke depan. Ya..nampaknya tunda dulu nikah mudanya, semoga mas calon yang sudah dipilihkan Alloh juga masih terus berusaha, dan akhirnya semoga bisa indah pada waktunya, amin.. :)

Ya, meskipun katanya nikah muda itu enak, ngurangin dosa juga, tapi mau nggak mau saya harus banting stir memenuhi tanggungjawab dulu, tanggung jawab sebagai mbak, sebagai adek, juga sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga.. tapi kalau ternyata Alloh punya kehendak lain, tiba-tiba di usia 24 eh mas calon future husband sudah datang minta ijin Alloh lewat perantara bapak ibu, ya terima saja,hihi.. Nikah muda nggak terlalu mainstream lah.. :p

Komentar

  1. nikah nggak nikah yang penting nggak lupa sama orang tua :)

    BalasHapus
  2. nikah wajib lah bismillah, yang penting orangtua ttp prioritas utama mas :)

    BalasHapus

Posting Komentar