Melepas Kepala Satu

Semua berjalan cepat akhir-akhir ini, terlalu cepat malah, atau mungkin hanya aku saja yang belum bisa mengikuti jalannya waktu?

menjelang berkhirnya November, 
sebentar lagi aku harus melepas kepala satu, setengah bulan menyambut datangnya hari perpanjangan kesempatan hidup *kalau masih dikasih* :) menuju kepala dua, menuju masa dimana tanggungjawab yang bakal aku emban semakin banyak dan besar. Resiko hidup memang,hehe
Jadi teringat obrolan santai siang tadi setelah seharian penuh bertempur dengan tugas. Beberapa teman langsung menegurku saat aku tanpa sadar mengatakan bahwa aku nggak ingin melepas kepala satu, aku nggak ingin jadi tua, aku belum siap menyambut apa yang ada di depanku..  kacau banget memang,haha. 
tapi jujur, dalam hati aku belum siap,sama sekali belum siap. Aku takut melepas apa yang aku punya sekarang, aku takut melepasnya, aku takut bertemu hal baru di masa depan, aku juga takut berjalan tanpa pegangan manusia lain yang akan membimbingku.
Apalagi dengan hadirnya lelahku
aku rindu ingin kembali ke masa lalu saat semua orang yang lebih tua memanggilku 'dek tyas' dengan kasih sayang dan senyum, memandangku tidak semata lewat fisik tapi dengan hati, saat mereka yang lebih muda memanggilku 'mba iyas' dengan sopan dan penuh kelembutan, juga saat mereka memanggilku 'tyas' dengan penuh kehangatan yang seakan mereka selalu melindungiku, ah benar-benar... :(

dan jika boleh meminta satu lagi,
aku ingin bisa percaya dan menyandarkan semua perasaan ini padanya yang saat ini ingin bisa ku percaya, aku ingin mendapat pelukan erat sahabat bangku sekolah dulu yang kini jauh, aku ingin melepaskan segala kelelahan ini pada pangkuan ibu dan merasakan lagi elusan dan doa di atas kepalaku, aku ingin meninju keras-keras lengan adik dan mamas seperti semasa dulu, aku ingin duduk di teras menikmati malam bersama secangkir teh hangat di samping bapak, aku ingin mendapat kecupan dari bibir sepupu kecil manisku yang setiap pagi membangunkan lelapnya tidurku dulu, aku ingin semua yang ku rindukan kembali menghangatkan dan mencairkan semua yang mulai membeku, di sini.

Secara logika nggak mungkin kembali memang, tapi aku ingin setidaknya menciptakan suasana kasih sayang seperti dulu, sebelum aku harus melepas kepala satu..sendiri..


Komentar