Aku dan Terlambatku
Just because you took longer than others,
doesn't mean you failed.
*Kamu tidak bodoh, kamu hanya perlu mencari jalan lain untuk mencapainya.
Dari dulu aku selalu butuh waktu ekstra untuk mencerna segala sesuatunya.
Umur 5-7 tahun, aku tak punya teman bermain. Saat bergabung dengan mbak-mbak tetangga yang lebih tua aku dikucilkan, mereka asyik main lompat tali bergantian. Di saat yang lain sudah mulai balapan sepeda, aku masih memandang iri pada mereka, karena aku baru mendapat sepeda pertama saat mendapat ranking 1 di kelas dua. Pun aku takut mengendarainya, karenanya aku baru bisa bersepeda di jalan raya saat aku lulus SMA. :D
Saat sebayaku di Taman Kanak-kanak sudah bisa berjalan lurus di atas balok, aku masih takut ketinggian. Saat aku mulai bisa berjalan lurus, yang lain sudah mahir melakukan gerakan senam.
Saat sebayaku di Taman Kanak-kanak sudah bisa berjalan lurus di atas balok, aku masih takut ketinggian. Saat aku mulai bisa berjalan lurus, yang lain sudah mahir melakukan gerakan senam.
Ketika teman-teman di SMP sudah paham aljabar, aku masih gemetaran sambil menangis teringat nilai 20 yang ditorehkan bapak guru di kertas ulangan. Aku baru sedikit mengerti konsep aljabar di kelas 9, mendekati Ujian Nasional.
Di SMA, saat yang lain sudah asyik membahas penjurusan, aku masih terombang ambing dalam tekanan antara bapak yang ingin salah satu anaknya masuk jurusan IPA, dan aku yang benci kimia fisika, tapi di sisi lain aku juga benci geografi karena selalu remidi saat membahas masalah geologi. Pun ketika ternyata aku masuk IPA, aku nekat menemui bapak waka dan mengajukan diri untuk pindah ke IPS, di saat teman-teman lain sudah mulai fokus pada pelajarannya.
Berlanjut di IPS, tak membuatku berubah pintar. Tidak, Justru semakin payah di awal. Di saat anak-anak lain sudah mahir dengan jurnal dan neraca, aku masih belum mengerti perbedaan akun debet dan kredit. Beruntunglah aku lahir dari rahim seorang ibu yang dulunya kuliah akuntansi, setidaknya aku bisa mendapat les privat setiap malam, walaupun harus sering mendapat makian dan cubitan gemas karena otakku yang tidak nyandhakan. Alhamdulillah pada akhirnya perlahan aku bisa mengejar ketertinggalan, dan mulai berani iseng mengikuti seleksi untuk lomba mapel, yang malah menjadi pintu pembuka semangat otakku. Oh ya, di saat teman sebayaku sudah membuat SIM motornya, aku masih berkutat di jalan raya karena bapak belum mengizinkanku latihan hingga lulus SMA.Haha!
Saat kuliah elok rasanya memandang teman-teman lancar mengendarai mobil. Sedangkan aku hanya bisa tertunduk menciut, karena suatu hari setelah lumayan berani, nyaliku harus menguap karena kecelakaan motor di jalan raya bersama ibu. Sempat terbesit rasa penasaran juga ketika melihat teman-teman yang pandai membagi waktu untuk berorganisasi bahkan kerja magang, atau pergi ke luar negeri mengikuti pertukaran mahasiswa, fasih berbahasa inggris, keren mereka! Lagi-lagi aku harus menahan rasa penasaranku untuk berada di posisi mereka, karena saat itu, untuk membedakan was dan were saja aku masih kebingungan, haha!
But now, aku bersyukur dan bahagia dengan kemajuan yang dibuat diriku sendiri. Nggak nyangka aja, untuk sekedar translate bahasa jerman, sekarang aku malah kebingungan jika tidak menggunakan bahasa inggris. Ajaibnya sejak belajar bahasa jerman, bahasa inggrisku perlahan mulai meningkat ke arah yang lebih baik. Aku bahkan sering tertawa gemas jika teringat betapa sulitnya aku memahami tenses. Melawan bahasa: in progress, kerja magang: done, dapat kerja kantoran santai dan tetap bisa jaga ibu: done. Berarti yang belum tinggal ke luar negeri, prioritas pertama umroh, barulah kejar short course scholarship atau apalah kelak, baru haji sama suami masa depan. Aamiin aamiin yaa rabb.. Bismillah.. :D
But now, aku bersyukur dan bahagia dengan kemajuan yang dibuat diriku sendiri. Nggak nyangka aja, untuk sekedar translate bahasa jerman, sekarang aku malah kebingungan jika tidak menggunakan bahasa inggris. Ajaibnya sejak belajar bahasa jerman, bahasa inggrisku perlahan mulai meningkat ke arah yang lebih baik. Aku bahkan sering tertawa gemas jika teringat betapa sulitnya aku memahami tenses. Melawan bahasa: in progress, kerja magang: done, dapat kerja kantoran santai dan tetap bisa jaga ibu: done. Berarti yang belum tinggal ke luar negeri, prioritas pertama umroh, barulah kejar short course scholarship atau apalah kelak, baru haji sama suami masa depan. Aamiin aamiin yaa rabb.. Bismillah.. :D
*Mungkin memang butuh waktu lebih lama lagi untuk mengembalikan keberanian itu. Entah kapan, tapi aku yakin suatu saat pasti ada masanya aku bisa. *
Aku semakin yakin semua ada masanya. Tak usah iri, karena semua pasti akan kembali. Sama juga dengan jodoh. Sama juga dengan ilmu hidup yang akan terus aku cari. Mungkin Alloh menciptakan skenario ini agar aku bisa mengambil hikmah dan pelajarannya untuk masa depan, agar lebih mengerti dan menikmati konsep sabar dan tawakal serta qonaah. Mungkin aku diciptakan dengan segala 'keterlambatan' versi manusia ini, agar aku bisa merasakan syukur yang lebih banyak dan besar di masa depan. Dan ingat, terlambat bukan berarti gagal. Bismillah..
Ruang tamu, setelah hujan, 14 Januari 2017.
Terlambat bukan berarti tertinggal, kan? Ada masa nya kita mampu mengejar, asalkan mau.
BalasHapus