There's Always a Reason Behind


Pagi ini pikiran saya sedikit terdistraksi dengan sebuah thread di twitter yang menuliskan tentang fakta psikologis yang terjadi dibalik kasus pembunuhan beberapa waktu lalu yg dilakukan seorang remaja umur 15 tahun terhadap saudara/kawannya yg masih kecil. IaDIa diketahui menyerahkan diri ke polisi setelah melakukan pembunuhan. Termuat si adek ini dianggap punya gangguan kejiwaan, terlihat dari gambar² dark side yang ia buat.

Dulu saat membaca berita tentangnya, sy merasa ada yg tidak beres dengan alur ceritanya, karena selain sy orang yg tidak mudah percaya dg berita media sekarang, sy juga termasuk orang yg selalu meyakini selalu ada alasan dibalik segala sesuatu hal, selain takdir terntunya.

Dan ternyata dugaan sy benar, ada yg tidak beres. Dalam thread tertulis, si adek tidak dimasukkan penjara karena dia dianggap memiliki gangguan kejiwaan. Belakangan terungkap, setelah diusut oleh psikolog dan peran dinsos setempat yang menyediakan fasilitas rehab, si adek ini ternyata korban perkosaan oleh mantan pacar dan pamannya sendiri. Dia mendapat ancaman bertubi-tubi kalau sampai melapor. Dan rupanya gambar² dark side yg dia buat merupakan representasi dirinya sendiri yg merasa tertekan.

Jadi si adek ini pada akhirnya 'puas' setelah melakukan pembunuhan karena dia pada akhirnya bisa ke kantor polisi utk 'berlindung' dari kebejatan pemerkosa yang terus menekan dia. Naudzubillah..

😢

Ini yang membuat sy makin percaya there is always a reason behind every things. Mau separah apapun itu. Mau sejahat apapun itu.

Karena itulah sy selalu berusaha memahami mengapa orang sampai berbuat ini itu, bersikap begini, sampai begitu, dan ketika bisa mengulik lebih dalam, mengerti keadaan mereka dan alasannya, I feel so lucky, somehow..

Apalagi ketika sy bisa ada untuk mereka,
Menemani mereka melewati masa-masa sulitnya, apalagi kalau mereka punya masalah yg pernah saya alami dan saya bisa membantu menguatkan mereka agar tidak melakukan kesalahan yang pernah sy lakukan atas masalah itu,

Benar-benar sebuah kebahagiaan tersendiri utk jiwa saya.

Sayangnya tidak semua orang paham,
Tidak semua orang bisa mengerti mengapa saya melakukan ini, tidak semua orang mau mengerti bahwa saya melakukan ini juga untuk menguatkan jiwa, memberi makan jiwa yang punya hobi sok-membantu orang ini.

Tapi tidak ada yang mau berusaha mengerti.

Dan beberapa menolak untuk dimengerti, menolak karena malu lukanya terlalu dalam,  menolak karena takut keburukannya terlihat, menolak karena ia meyakini tak ada yang bisa 'dibereskan' lagi dalam diri.

Dan pada mereka sy tidak menyalahkan apapun
Karena sekali lagi, sy yakin mereka punya alasan tersendiri.

Komentar