Flight or Fight
Agak sedikit bisa bernapas lega jumat ini,
Setelah kemarin kejar target laporan yang formatnya berubah² dari pusat,
Setelah sebelumnya mudik, dg kondisi perasaan yg berantakan, harus tetap menjalankan tugas negara ((negara gak tuh wkek), dinas luar ke Tobelo di Halmahera Utara, lanjut ke Bacan di Halmahera Selatan, 3 minggu berturut-turut.
Capek fisik,
Capek perasaan,
Kayak cuti lebaran tuh gak ada bekasnya 🤣
Tapi selalu ada hal yg bisa disyukuri dalam perjalanan hidup kita, bukan?
Yep.
Jadi perjalanan jauh kemarin adalah pertama kalinya sy diperankan jd ketua tim 'ekspedisi' hehe. Tahun lalu pernah, di Morotai dan Tidore. Tapi karena pandemi, minim interaksi, jadi betul² sy gabisa total.
Bermain peran seperti ini, jadi sebuah hal yg membuat sy excited, tapi juga takut, karena bebannya lebih tinggi.
Saya yg biasa 'mbuntut', tiba² jadi punya buntut yaitu anggota tim. Sy yg tadinya selalu manut, dituntut untuk selalu menjadi yg diturut.
Agak lucu dan menggemaskan jatuhnya, wkwk. Karena kalau diturut secara mental, sudah pasti sy akan selalu menolak. Wong tipe di balik layar kok disuruh jadi garda depan. Wkwk.
Mungkin jika sy masih seperti yg dulu, sy akan lebih banyak menangis krn takut omongan orang, takut ini itu, dll yg sebenernya semua ketakutan itu hanya berasal dari ketidakpercayaan diri sy saja.
Tapi pada akhirnya semua itu proses kan?
Sama seperti hidup, ada hal yg mau tidak mau, suka tidak suka, tetap saja harus kita jalani.
Sama dengan perasaan, Ketika ada hal yg membuat kita emosi, sakit hati, sudah pasti pilihannya hanya flight or fight. Kalau memilih flight, mungkin kita akan dapat ketenangan sesaat. Namun ketika kelak kita bertemu lagi dg emosi yg sama, kita akan kembali kabur kabur dan terus kabur tanpa pernah bisa stand up to face it.
Aku memilih fight.
Karena mau tidak mau, semua ini pada akhirnya harus dihadapi juga kan meski dengan tangis, tapi kelak kita yg akan tersenyum juga ketika kita berhasil menghadapinya dan mendewasa.
Tte, 3 juni 2022.
Komentar
Posting Komentar