Knowing You Better

I thank you for being my shield,

A shield that protects me from my trauma, and all my wounds behind.

I'm sorry for dragging you this far,

And makes you feel bad all the time.

Maaf sudah menjadikanmu tameng,

Bagiku yg terlalu sering berlindung di balik kesakitan. 

Maaf anak kecil ini belum sedewasa inangnya, ia masih saja suka mencari perkara.

Maaf.

***

Aku tak sadar pernah menuliskan ini sebelumnya. 

Talking about protector that always keep me 'awake', yang kemarin dibahas pada sesi Trauma Processing Therapy (TPT) mirip-mirip ini.

Tentang bagaimana keberadaan protector melindungi person dari pain,
agar tercipta persona yang sesuai dengan value masyarakat.

Kalau dipikir, design manusia unik adanya, ya?

Kok bisa otomatis switch tanpa disadari tanpa diajari?

Aku pun baru sadar, kalau ternyata 'aku' saat ini ya sebenernya hanya 'persona' aja bukan aku person yang authentic atau asli. Dan memang sangat jauh dari yang aku kenal dulu wkwk.

Banyak orang melihatku sebagai sosok tangguh, kuat, ceria, mandiri, sayang sama keluarga dan penokohan ideal lainnya. Padahal kalau diingat, aku tak pernah seasli itu. Semuanya hanya topeng persona yang kupakai agar 'fit in society'.

Coba telaah lagi,

Tangguh? Kuat? Mandiri? itu semua tempaan lingkungan. Merantau memaksaku berubah ke mode survival agar bisa tetap selamat dan bisa enjoy menjalani kehidupan sendiri. Ya meski itu juga didukung dengan sisi introvertku yg merasa bisa berkembang justru di lingkungan yang orang-orangnya gak kenal aku. Lalu aslinya? aku ya manja, seorang yang gampang terbawa arus, hilang arah, terlalu mengalir, wkwk.

Sayang dengan keluarga? ya memang sayang. tapi ini tuntutan social value, agar aku bisa diterima di masyarakat, kalau aku merantau, aku ya harus sering menunjukkan kasih sayangku dengan 'uang'. Mulai dari membiayai adek kuliah, menyokong keluangan keluarga, beliin apa-apa yang mereka mau, ya pokoknya nunjukin ajalah. Padahal sebenernya? dalam hati mah pengennya itu semua duit ya punyaku, semuanya ya yang berhak makai cuma aku. Keluargaku bukan tanggung jawabku. Itu kalau ego yang berbicara sih.

Persona ini, emang selalu stick to the society. jadi mau apapun kondisi kita, persona ini tugasnya 'menjaga' biar kita bisa tetap diterima di masyarakat. 

Dan sekarang, 

lebih ke berpikir "percuma juga ya ngatain diri sendiri ga guna dll, krn toh itu semua ilusi"

yang bisa ku lakukan hanya mencoba menggali lagi pelan-pelan,

mengenal diriku lebih dalam,

agar aku bisa mencintaiku dengan lebih baik lagi,

sebelum aku bisa kembali memberikan cintaku pada oranglain yang ku sayang. :)



Komentar