Di Balik Hati
Selama ini, aku mengira cara terbaik untuk menjadi dewasa adalah dengan membungkam kegelisahan.
Aku tidak sadar ada sosok kecil di dalam diriku yang meringkuk di balik pintu, memilih diam karena takut aku akan menghakiminya atau mengabaikannya seperti yang dilakukan orang-orang di masa lalu.
Namun, malam itu, rasa tidak tenang tidak bisa lagi dialihkan. Ketika aku akhirnya berhenti mencari pelarian dan memutuskan untuk menemuinya, tangisku pecah. Dia sudah lama menunggu di sana, ketakutan namun tetap berharap aku datang.
Aku merengkuhnya dengan lembut, membelainya seperti aku menyayangi sosok yang paling berharga dalam hidupku.
Dalam pelukan itu, barulah aku mendengar suara hatinya yang paling jujur.
Dia merasa tidak aman pada situasi yang sedang aku jalani sekarang.
Dia cemas bahwa jika kita terus melangkah, luka lama yang perih itu akan terulang kembali.
Dia takut mengecewakanku, sementara aku tanpa sadar hampir mengorbankan kedamaiannya demi sesuatu yang belum pasti.
Akhirnya, kami sampai pada titik di mana rasa tenang menjadi satu-satunya kompas.
Aku membisikkan janji ini padanya:
"Sayang, rasa amanmu adalah bahagiaku. Jika kamu merasa cemas, jika kamu merasa tidak aman, katakan padaku. Aku tidak akan memarahimu. Kita tidak butuh oranglain yang hanya membuat kita merasa sendirian di dalam hidup kita."
Jika sebuah hubungan mulai membuat kita cemas dan kehilangan arah,
maka tidak ada lagi alasan untuk menggenggamnya kuat-kuat.
Aku meyakinkannya bahwa kini aku adalah "rumah teraman" baginya,
aku punya kekuatan untuk melindunginya dan kemampuan untuk membuatnya bahagia tanpa harus bergantung pada orang lain lagi, tanpa harus takut dihakimi.
Lalu Kami sepakat untuk melepaskan tali yang selama ini mengikat sesak,
membiarkan beban yang berat itu terbang menjauh dan retak.
Sebab hidup dalam kejujuran hati jauh lebih melegakan,
daripada terjebak dalam ketidakpastian yang melelahkan
Komentar
Posting Komentar