INTROVERT PART 1 *KETIKA AKU MENYADARI....*
Mungkin keanehan kepribadianku sudah banyak tertangkap teman-temanku. Awalnya aku mungkin terlihat sangat biasa, namun bagi yang telah cukup lama bersamaku, maka orang itu akan menemukan sosok aku yang berbeda dengan oranglain. Kadang aku senndiri stres menghadapi kenyataan bahwa aku berbeda. Aku sadar aku ini berbeda.
Sejak kecil, aku ingat, aku selalu merasa nyaman saat aku menyendiri. Di Taman kanak-kanak dulu misalnya, aku bermain ayunan sendiri, seolah terlihat bahwa aku tidak punya teman. Padahal saat itu banyak teman yang mengajakku bermain boneka. Saat menginjak bangku sekolah dasar, aku smakin terlihat tertutup pada teman-teman. Namun, hanya kepada seorang sahabatku, agung dan guru kelas 3 Ibu Khamah, aku mau bercerita apa masalahku. Sejak kepindahanku ke SD di kota lain saat mengikuti bapak pindah tugas, entah bagaimana pandangan hidupku berubah. Yah...di tempat baru, aku mendapat penolakan cukup kuat dari siswa lainnya. Mereka pikir aku main uang dengan guru ( waktu itu ayahku menjadi camat di daerah tsb, ditambah karna aku sering mengikuti lomba-lomba SD hingga juara di kabupaten, suatu prestasi yang amat membanggakan bagi SD-ku yang sebelumnya tak pernah memenangkan satu perlombaanpun) membuat teman-teman mungkin iri padaku. Di sana aku hanya punya 2 orang sahabat yang benar2 setia dan kupercayai. Dengan lainnya, aku berpikir, kalau mereka butuh,pasti mereka akan mendekatiku. Dan parahnya, aku sering dimanfaatkan teman-teman untuk berbagai kepentingan pribadi mereka yang berurusan dengan guru! What a hell *setelah menyadarinya sekarang* !!!
Waktu SMP, agak mendingan. Aku masih bisa ikut seleksi lomba mapel rumpun ipa, meskipun gagal, tapi di sini aku mulai menemukan banyak teman yang cocok denganku. Aku menemukan ‘the real and the best friendship ever’, nurul,yang seorang putri dokter, anggi,nisa dan rima yang merupakan putri PNS sama sepertiku, dan visata yang merupakan anak tentara yang tomboy. Semua terasa indah saat aku mulai mengenal dunia bersama mereka, aku merasa aku punya pegangan hidup bersama mereka. Untuk pertama kalinya aku nyaman dengan sebuah ‘komunitas sahabat kecil’ seperti ini yang tak pernah ku alami sebelumnya... J mungkin karna status sosial kami yang ‘setara’ dan gak beda jauh gaya hidupnya,misalnya aja kami suka ngangkot dan naik becak bersama... J
Di SMA nampaknya ketertutupanku pada dunia luar makin berkurang. Aku mulai terbiasa bergaul dengan orang banyak dan juga lawan jenis. Aku bahkan punya secret admirer, seorang adik kelas, pas awal kelas 2, hehe. Aku punya tambahan 3 orang sahabat setia yang selalu mendukungku saat aku jatuh, berduka, menangis, dan berbagi tawa. Resi, hindun, dan nofia. Berkat restu orangtua dan dukungan sahabat2ku, aku bisa mengikuti seleksi lomba mapel dan olimpiade hingga tingkat propinsi. Namaku pun perlahan mulai terkenal di sekolah. Dalam organisasipun aku tak mau kalah. Aku ikut kegiatan ekstrakulikuler PMR yang membuatku makin mengerti makna hidup. Bagaimana tidak, di sini aku dibimbing oleh seorang yang memiliki aura positif yang terpancar kuat dari dalam dirinya, yang membuatku slalu merasa kuat dan ingin terus mencoba apa yang belum pernah ku coba, inovasi, dll. Di PMR pun aku menemukan seorang partner kerja yang benar2 cocok denganku, dani. Kami berdua selalu mampu menyelesaikan semuanya jika bersama. J
Saat memasuki perkuliahan, nampaknya ini menjadi fase penurunanku. Aku yang tadinya gila kerja, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus memilih banyak kegiatan yang tidak aku sukai. Kegiatan pun berasa membosankan, karna di sini gak ada UKM yang sesuai minatku. Kehidupan di kos pun membosankan. Kau tahu, pagi hingga siang kuliah, sore ngerjain tugas hingga malam, lalu tidur. Terus berulang, hanya itu. Aku menempati sebuah kos yang berisi 55kamar, yaa...memang terlihat seperti barak, namun suasananya yang tenang membuatku nyaman di sana, seandainya saja harganya tak semahal ini dan juga para penghuninya tak berkelompok2, aku yakin aku betah. Satu hal yang perlu kau tau, di sini kebanyakan penghuninya dalah kaum menengah atas yang berasal dari kota metropolitan maupun kota fashion. Mereka bergaul akrab,karna mereka berasal dari ‘satu kaum’. Awalnya aku pikir hanya aku yang merasa begitu, tapi ternyata temannku pun merasa demikian, juga kakak kelasku, kami bertiga adalah mahasiswa dg jurusan terlangka di kos, akuntansi. Di saat kami menyendiri di kamar untuk mengerjakan tugas, mereka asik tertawa di sebuah kamar di lorong, tempat mereka biasa nongkrong. Di saat kami belajar untuk kuis, mereka malah menaikkan tune volume pada TV di kamar mereka masing2. Oh ya, di sini tiap2 kamar selalu memiliki TV, sedangkan aku? buat bayar kos+listrik aja mahal banget!
Kupingku sudah kebal mendengar bisik-bisik tentangku yang gak pernah bergaul, keluar dari kamar hanya pada saat tertentu, ngobrol hanya saat bertemu, dll. Mereka gak akan pernah tau siapa aku, sampai kapanpun. Karna sampai kapanpun aku gak akan pernah mau merubah sesuatu yang membahagiakanku menjadi sesuatu yang mengerikan yang akan membunuhku secara perlahan. Memang, pada awalnya aku merasa risih dengan bisik2 mereka yang tiap malam selalu ku dengar, juga omongan langsung dari kakak kos yang dengan lugas mengatakan “kamu bolak balik terus, kenapa gak dilaju aj?apa gunanya ngekos??”. Rasanya detik itu juga pengin aku mithes itu mbak2! Suka2 gue donk mau PP ato gak! Gue jg di sini bayar! Kita sama2 numpang!:@
Selain itu, seorang teman yang sekos denganku,dia juga ‘tampak berbeda’. Jujur saja, aku gak cocok dengan gaya hidup seperti dia, yang maniak fashion, dari mulai tas, sepatu, baju, sendal, hingga gelang! Dia pun hobi dolan. Aku sering dongkol klo ditinggal sendirian, apalagi kalo malam2 aku harus jalan kaki nyari makan sendiri di tempat seramai jalan kampus! *ingat hal yang ku benci karna membuatku tak nyaman* . Dia selalu shopping bareng teman2 ‘normal’ lainnya. Ya, mungkin bagi kalian itu wajar bagi cewek, tapi gak wajar buatku. Dan sejak saat itu aku kepikiran untuk PINDAH KOST dengan segera! Sekarang aku baru berada di semester 2, aku gak bisa bayangkan bagaimana kedepannya kalo aku tetap di sini!
Jauh dalam hati, aku pun sebenarnya merasa was-was apakah aku normal atau tidak. Mengapa aku berbeda dengan oranglain? Mengapa aku tertutup? Mengapa aku justru tak suka keramaian? Mengapa aku cenderung menghindari oranglain? Mengapa aku tak suka shopping dan bertemu orang banyak? Mengapa aku merasa risih jika harus berbicara pada orang yang belum ku kenal sebelumnya? Mengapa Aku merasa asik dengan diriku? kenapa Aku lebih suka berdiam diri dikamar ( sampai-sampai keluarga dan tetanggaku memanggilku ANDE-ANDE LUMUT )? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang mengitari kepalaku.
Aku terus bertanya pada orang yang kuanggap tau tentang diriku sejak kecil, ibuku, tapi beliau nyatanya hanya memberikan jawaban dengan inti aku normal. Aku tanya pada sahabat2ku, mereka hanya bilang “seperti apapun kamu, kamu tetap sahabatku...”. karna tak kunjung mendapatkan keterangan pasti, akupun bertanya pada mbah google!! Dan di sana aku menemukan banyak kasus sepertiku yang menunjukan bahwa aku ini seorang INTROVERT! Sebuah kepribadian minoritas di dalam mayoritas dan aku termasuk di dalamnya! Subhanallah...entah aku harus sedih atau bangga? who knows? ( to be continue.....)
bagus.. semangat kakak :D
BalasHapusdisyukuri aja anugerah Tuhan YME, asal kita sebagai manusia bisa bermanfaat bagi orang lain dan mempunyai kelebihan khusus pasti dihargai dan dihormati orang lain.
BalasHapuskebahagiaan ada pada diri kita sendiri, be your self
I feel u :)
BalasHapus