Metamorfosis Gerimis

Awalnya aku hanya berteman dengan gerimis yang selalu hadir
bersamaan dengan derap langkah malasku,
kami bertemu di bawah naungan rumah Tuhan,
Ah..mengapa kelembutannya begitu terasa di mataku?
gerimis manisku, dengan segala polah lugunya..
***
Oktober Penghujung hari,
sekilas ku tengok bulatan jendela kapal pesiar,
bertengger dengan gagahnya di istanaku, berdebu, kotor.
cukup lama ketika aku meninggalkan kota tua ini, rasanya hampa.
Namun ketika mataku menangkap sekelebat bayangan gerimis kecil di dalam pigura mini,
hatiku tertawa.
***
Ini tentangnya,
Gerimis kecil yang manis,sahabat terbaikku
Dia terbiasa mendengarkan keluh kesah amarahku,
dan kemudian meluluhkannya dengan tetesan lembut terbaiknya, di kepalaku.
Terkadang,
ia menimpali lelucon absurdku dengan serbuan tetesan deras yang menusuk kulitku,
juga saat mataku butuh teman untuk melampiaskan sakit hati,
tanpa ragu ia mengulurkan jemari lembutnya dan menghapus air mataku,
tetesannya menyeruak ke dalam pori-pori kehidupanku..
***
Gerimis di penghujung November,
Lihatlah, aku pulang! Aku datang!
Langit mulai gelap, aku bersorak , lalu menunggu.
Sekilas nampak di langit barat, tetesan air mulai nampak turun dari langit,
aku bersorak, Itu gerimisku datang!
sambil terus tertawa aku menanti kedatangannya menyambutku.
Satu, dua... seribu,
aku menunggu.
Namun aku kecewa, saat terlihat awan diatasku mulai merekah
memperlihatkan bias sinar keemasan,
kecewa, mengapa gerimisku tak datang?
***
Berhari-hari aku menanti, hingga waktuku kian menipis di sini,
Aku kecewa, ini yang ke duapuluh lima kalinya aku berlari,
esok adalah hari terakhirku, dan hari ini adalah kesempatan terakhirku bertemu gerimisku, jika ia datang.
Wahai penjuru barat, timur, utara, selatan, taukah kalian dimana gerimisku berada kini?
Barangkali ia tersesat?
***
Sungguh, aku berharap bisa merapal doa pemanggil gerimis, Tuhan,
aku tak tau apa yang sedang dan akan segera terjadi,
tapi aku sangat merindukannya, Tuhan, aku yakin Kau pasti tau itu.
Tuntunlah ia agar menemukanku di sini, Tuhan..
***
22:06
Aku terkejut terbangun dari rajutan alam bawah sadarku, sesaat setelah terdengar gelegar petir tepat di atas rumahku.
Segera ku berlari dengan penuh cita, masih berharap jika gerimisku tiba.
Di luar gelap, aku mencium harum kedatangan gerimisku di masa lalu,
Ah..hatiku benar-benar terpikat, sungguh bahagia mampu meluapkan rasa ini.
Tanpa pikir lagi akupun berlari.
***
bertahan aku menanti di tempat lapang ini, menengadah.
Dari kejauhan terdengar tetesan air jatuh dari langit, bergerak serentak dari kejauhan.
Gerimisku datang! Terimakasih Tuhan!
aku terus tertawa, namun perlahan sirna 
saat ku sadari butiran air ini bukan milik sahabatku, dia bukan lagi gerimisku yang dulu.

"Tuhan, ini hujan, bukan gerimisku, Tuhan!
Aku ingin gerimisku kembali Tuhan, aku merindukannya, Tuhan!
Sudikah kau mempertemukanku dengannya lagi, Tuhan?"

***
Aku tertunduk, berlari di bawah derasnya tetesan air hujan,
Enyahlah, kau tak bisa melakukan apa yang dilakukan gerimis padaku!

***
Alunan melodi hujan terus menemani langkahku yang menjauh,
tapi perlahan tetesannya terasa lain,
aku mulai merasa mengenalnya, lembut, halus, menyenangkan.
Saat ku lihat langit, sebuah kelembutan datang tiba-tiba tuk menghapus tangis di wajahku,
"aku tak pernah bisa meninggalkanmu, boy.."

***
"Aku bukan lagi gerimis kecilmu, boy,
Tuhan telah meletakkan nyawa untukku agar berkembang menjadi hujan,"

"Teganya kau! tak taukah kau aku sangat merindukan kehadiranmu selama ini?"

"Aku tetaplah gerimis kecilmu, boy, di hatimu.
Dan kau tetaplah bocah kecilku yang rapuh,
kelak, sat kau temukan jalan hidupmu, mungkin kau akan bisa melupakanku,
dan mungkin saat itu aku harus bisa mulai melupakan,
semua keindahan dan kesedihan yang kita lalui bersama."

***
Aku menangis,
bocah rapuh ini benar-benar menangis
Aku tak pernah sekalipun ingin kehilanganmu, meskipun kita semua tlah berubah.

Sesaat ia melembut, menatapku,
"kemana saja kau selama ini, boy? kau tahu, aku sangat menderita saat harus memutuskan untuk menjadi hujan, atau tetap menunggumu yang menghilang kala itu dengan menjadi gerimis kecilmu."
Aku risau.
***
"Ah boy, kau masih terlalu muda untuk mengerti semuanya"

"akankah kau menghilang sepertiku dan meninggalkanku?" tanyaku lemah.

"selama Tuhan mengizinkan,aku kan tetap ada, aku ingin selalu tetap menjadi sahabatmu, aku ingin tetap menjadi yang pertama mendengar keluh kesahmu, segala omong kosongmu, semua luapan emosimu boy, sungguh..
aku ingin tetap ada dan selalu mendampingimu,boy, kapanpun,
ah boy, aku sangat merindukan semua itu... "
***
Egoku luluh, bagaimana mungkin selama ini aku buta, menghilang, lalu baru kembali mencarinya setelah sekian lama?
"aku masih tetap bocah kecilmu, meskipun kini aku pun tlah berubah, hujan.. seandainya bisa terwujud, aku kan mengamini setiap doa yang kau ucapkan untuk kita,
jika kau tau, aku pun merindukanmu, gerimis kecilku..."
***
Perlahan terasa arah angin malam berubah,
Hujan tersenyum, menyipratkan beberapa tetes air dengan keras ke arahku,

"Aku cukup bahagia mendengarmu menyebutku sebagai sahabatku.
Namun mungkin aku akan sangat bahagia selamanya jika kau tetap memperlakukanku sebagai sahabatmu, boy.."

Mendengarnya, otot-otot disekitar wajahku memaksaku tersenyum,
"Menarilah bersamaku wahai gerimis kecil sahabatku,
takkan ku lepaskan kau malam ini.."
***
Dan hingga keesokan harinya hujan terus menemaniku berkemas,
mengantar kepergianku,
mendengarkan sumpah serapah yang keluar dari mulutku
saat menjatuhkan benda-benda tua dan terpeleset dengan bodohnya,
tertawa saat ia mendengarkan kesialanku sejak aku meninggalkannya,

"Hujan, aku kan kembali padamu suatu hari nanti,
berjanjilah yang sama untukku..."
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh