Introvert Bukan Alien

Manusia dilahirkan dengan segala keunikannya masing-masing. Ada yang dikaruniai keunikan lahir juga ada pula keunikan batin. Diantara keunikan-keunikan yang Allah ciptakan untuk kita, ada satu hal yang membuatku tertarik untuk bisa mempelajarinya, yaitu sebuah ilmu yang secara dasar membahas tentang keunikan yang ada di dalam diri manusia. namun mungkin bukan takdirku bisa mendalami ilmu itu lewat bangku pendidikan karna suatu hal.hehe

Berbicara tentang ilmu dan manusia,  ada satu mata kuliah yang awalnya I'm soooo excited, tapi sekarang buat masuk kelas aja kudu berdoa biar niat karna suasananya yang kurang hidup,haha. That's Organizational Behaviour (OB) subject. Mata kuliah itu cukup banyak mengulas seluk beluk keprilakuan yang nyerempet ke psikologi manusia. Salah satu materi yang paling saya sukai sekaligus paling saya benci adalah saat membahas tentang 'The Big Five Personality' yang terdiri dari opennessconscientiousnessextraversionagreeableness, dan neuroticism. Berikut gambaran singkatnya:
Openness
berkaitan dengan sikap keterbukaan, memiliki nilai imajinasi tinggi, mudah bertoleransi, kapasitas untuk menyerap informasi, menjadi sangat fokus dan mampu untuk waspada pada berbagai perasaan, pemikiran dan impulsivitas. 
Conscientiousness 
Berhubungan dengan keteraturan dan self discipline seseorang. Seseorang yang conscientious biasanya sangat tepat waktu dan ambisius
Extraversion
dicirikan  memiliki antusiasme yang tinggi, senang bergaul, memiliki emosi yang positif, energik, tertarik dengan banyak hal, ambisius,workaholic,  ramah terhadap orang lain, juga dominan dalam lingkungannya. Extraversion mudah termotivasi oleh perubahan dan variasi, tantangan sehingga mudah bosan.
Agreeableness
mengindikasikan seseorang yang ramah, memiliki kepribadian yang selalu mengalah, menghindari konflik dan memiliki kecenderungan untuk mengikuti orang lain, senang membantu, pemaaf, dan penyayang.
Neuroticism
menggambarkan seseorang yang memiliki masalah dengan emosi yang negatif seperti rasa khawatir dan rasa tidak aman, mengubah perhatian menjadi sesuatu yang berlawanan, mudah mengalami kecemasan, rasa marah, depresi, dan memiliki kecenderungan emotionally reactive. Kesulitan dalam menjalin hubungan dan berkomitmen, memiliki tingkat self esteem yang rendah.

Oke, lantas kenapa aya menuliskan benci pada pembahasan di atas?
Alasannya simple, di kelas OB kemarin, ada sebuah kalimat dari dosen yang telah selesai menjelaskan The Big Five Personality di atas,yang cukup menggelikan:
"jadi..dimana-mana, orang ekstrovert itu yang paling pantas jadi manajer. Orang ekstro dan open itu paling bagus kerjanya. Mana ada manajer atau pegawai introvert bisa berhasil, kalau ada klien umpetan, kalo ada kunjungan direksi selalu mengelak bertemu, halaaa..."
sejenak saya cuma bisa nyengir agak kasihan ke dosen. Gimana enggak, yg dikatakan bapaknya itu adalah membandingkan antara manajer ekstro dengan seorang manajer pengecut, bukan manajer introvert!

Saya, yang memang introvert akut, sering mengalami yang namanya dicemooh karna "diamnya" saya. karna itulah dulu saya sampai menganggap saya sakit jiwa, hahaha. Bahkan hingga saya tau sedikit tentang teori Jung hun yang membahas ekstro-intro, saya pun masih belum begitu percaya kalo introvert merupakan suatu sifat yang benar-benar unik dan langka 'spesies'nya di dunia. Hingga saya mendengar cemooh tentang intro hari itu, sekarang saya benar-benar menyesal karna pernah menuliskan introvert sebagai suatu kekurangan saya dalam sebuah sesi diskusi perkuliahan dahulu.

Kenapa musti menyesal?
Saya tiba-tiba teringat kondisi ayah saya, ‘penderita’ introvert akut yang sukses dalam pekerjaannya, yang mengharuskannya berbaur untuk memberdayakan masyarakat, menjalin komunikasi dan hubungan erat dengan orang atas (propinsi dan pusat). Ayah saya merupakan salah satu contoh nyata tentang bagaimana introvert bisa sukses selayaknya manajer ekstrovert. Mungkin seharusnya sebelum memberikan teori ini bapak dosen seharusnya bertemu dengan ayah saya lebih dulu, supaya beliau tahu, seorang introvert pun bisa menjadi manajer, orang yang memanage segala hal dengan baik dan terorganisir, seorang introvert pun tetap bisa bergaul selayaknya orang normal, tetap bisa mempunyai dan menciptakan hubungan kerja yang amat sangat baik dengan atasan maupun bawahan, bukan malah lari seperti pengecut.

Saya menyesal karna dengan menempatkan introvert sebagai kekurangan, berarti saya sama saja mengolok-olok introvert sama seperti yang dilakukan bapak dosen tadi. Dan artinya, saya juga  tidak menghargai diri saya sendiri.

Sebuah keyakinan baru pun muncul, tidak ada benar dan salah dalam kepribadian kita. Introvert bukanlah penyakit jiwa, kami bukan alien, kami hanya manusia yang lebih 'memiliki' dunia kami sendiri. Introvert bukan orang buruk yang dicap anti sosial, kami cuma manusia normal yang bisa bergaul dengan kapasitas lebih sedikit dibandingkan lainnya. Jadi ingat sebuah kutipan tentang introvert:
"Jika kamu ingin berteman dengan kami, mendekatlah ke dunia kami, ajaklah kami bicara, maka kami akan dengan senang hati tersenyum untukmu"
Yang kami perlukan hanyalah ketrampilan untuk mengolah kepribadian dan emosi yang kita miliki tersebut menjadi sebuah sumber daya yang potensial. Jika Emosional bisa dikelola dengan baik, mau introvert atau ekstrovert, semua bisa jadi manajer, bukan alien, Pak!

Komentar

  1. top kiye... markotop.. lanjut postinge ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. maturnuwun pak,hehe siap laksanakan :D

      Hapus
  2. aku juga sering dianggap aneh,karena aku juga seorang introvert,dan rasanya sangat mengesalkan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh