Sudah sekian lama sejak terakhir kali aku mengalami krisis identitas, Berusaha menggali siapa sih aku sebenarnya? and how can I fits in ? Pada akhirnya aku bisa menerima dengan lega jika aku introvert, yang juga highly sensitive person (HSP), tidak ada yang salah dengan semua itu. Case closed . Lalu di umur menjelang 33 tahun ini, tiba-tiba kehidupan ini terasa seperti kembali mendapat serangan krisis bertubi-tubi. Kali ini targetnya lebih ke mental health issues sih. Pikiran setiap malam sibuk bertanya kenapa aku bisa seperti ini? apa kaitannya dengan trauma masa laluku? apa yang harus ku lakukan ketika 'badai' datang? dan apa yang harus ku lakukan agar bisa kembali 'dilihat' dan 'diterima' sbg seorang individu yang utuh? Memanglah benar kata orang, patah hati di umur 30an rasanya bukan seperti kehilangan cita saja, tapi lebih ke kehilangan motivasi hidup dan terkadang berujung pada keputusasaan karena kehilangan self-esteem yang ya menguap gitu aja entah kem...
Banyak hal di sekitarku yang berubah, Dan meski sudah beberapa kali mengalaminya, ku rasa saat ini agak sedikit berbeda karena aku mulai bisa memaknainya. Teman yang tadinya sangat dekat, tiba-tiba menarik diri tanpa memberi kabar lagi pada kelompok kami. Ketika bertemu? Ya awkward. Entah kenapa tak bisa lagi ku rasakan kedekatan kami yang dulu. Ada gap yang sangat lebar yang tidak bisa dijelaskan. Tak bisa lagi ku jumpai kehangatan persahabatan di antara kami. Tapi kali ini aku bisa menerimanya. Dia ingin pergi? Ya gak apa-apa. Mungkin memang sudah waktunya pertemanan akrab kami berhenti di sini. Pun ketika seorang yang sangat berarti dalam hidup ini tiba-tiba harus menarik dirinya dari hidupku, seberapa keras aku berusaha meyakinkannya utk bertahan, kalau aku bukan pilihannya lagi, yaudah mau gimana lagi? Gak apa-apa. Kekosongan jelas akan tetap ada. Dan bukan tugasnya lagi untuk membereskannya karena sepenuhnya tanggung jawabku. Ini lukaku. Meski menyakitkan, ...
Dalam riuhnya waktu di kepala ku pejamkan mata, ia muncul tiba-tiba entah dari mana. Pikirnya, hidupnya, alurnya, serupa, seperti cerminku yang lama tak bersua. Rasa kagum, takjub, bergumul dalam dada, Semua bertanya, menari arti rasa tuannya. Adakah ini hanya bayang semata? Meski yang kami ingin ada padanya semua. Namun saat mata ini terbuka, hanya jurang lebar yang terhampar. Jauh, ia melambai di seberang sana. Mungkinkah takdir yang membawanya tuk jadi pelipur lara? Hanya dalam doa harapku terucap, Semoga ku temukan ia yang serupa di jalan yang lebih tepat.
Komentar
Posting Komentar