Meski Tak Sempurna

Kedewasaan dalam berpikir bukan merupakan jaminan suatu hubungan bisa bertahan lama. Dia yang bisa selalu membuatmu tertawa, juga bukan hal yang menjanjikanmu bahagia selamanya. Keinginan berubah menjadi lebih baik tanpa mau merubah diri sendiri dan hanya menggantungkan diri kepada oranglain untuk diubah, sama halnya ingin makan tanpa perlu mengunyah dan menelan. Kesamaan dalam berbagai hal justru akan membawamu pada kebosanan. Sementara di sisi lain, kesamaan dalam cita-cita saja tak cukup untuk dijadikan dasar sebuah komitmen. Tapi, perbedaan yang ada pun tak bisa dipaksakan untuk terus bersatu.

Mungkin memang harus lebih bersabar,karna semua sudah digariskan, yang terbaik adalah mereka yang mengenal Tuhan-nya, setidaknya tahu dan mau melaksanakan kewajibannya sebagai orang beragama, bukan yang hanya tau namun selalu memiliki beribu alasan untuk mengelak. Dia yang mengenali Tuhan, akan melakukan segalanya atas nama Tuhan, dengan petunjuk-Nya, termasuk membahagiakan orang-orang yang dia sayangi, bukan hanya tergerak berdasar naluri ingin memiliki. Dia yang akan datang kepada orangtuamu  bersama orangtuanya untuk memintamu menjadi miliknya hidup dan mati. Dia yang akan menjadi ayah bagi anakmu kelak. Dia yang akan selalu mengecup ubun-ubunmu dan mendoakanmu setelah membuatkannya segelas kopi, sebagai tanda terimakasih dan kecintaannya padamu. Dia yang akan selalu membangunkanmu sebelum adzan subuh terdengar untuk bersiap menghadap-Nya. Ya, dia.. meskipun tak ada yang sempurna, setidaknya dia punya agama yang bisa menyelamatkannya dan kamu yang ada bersamanya..

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh