Bermimpi Berharap
Mimpi ya?
Mimpi dan harapan itu beda-beda tebel. Aku tak pernah takut bermimpi tapi aku selalu berpikir berkali-kali untuk berharap. Mimpi selalu bisa mewujudkan harapan alam bawah sadar, tapi harapan belum tentu mau mengabulkan mimpi, dia curang. Hidup di dunia mimpi juga menyenangkan. Kita bisa sesuka hati menciptakan apa yang tak ada dan tak bisa kita miliki di kenyataan. Hidup di dunia pengharapan itu bikin senam jantung. Kadang bikin deg-degan nggak karuan saking senangnya, tapi kadang harapan bisa amat sangat menjatuhkan perasaan. Jadi kalau sekarang istilah PHP *pemberi harapan palsu* ada, bukan pihak lain yang salah, tapi kita sendirilah yang membuat harapan palsu itu ada. Kalau kita nggak terlalu berharap akan sesuatu, nggak bakal muncul istilah itu. Harapan palsu itu cuma penolakan kita terhadap kesalahan sendiri. Terkadang harapan itu jahat. Dia bisa kapan saja muncul dalam bentuk semangat, tapi tiba-tiba dia pergi menghilang, menguap seperti kapur barus yang terlalu lama tersimpan dalam lemari, aromanya masih ada tapi bentuknya sudah gaib. Sementara mimpi, dia akan terus menemani kita. Apalagi kalau mimpi itu bisa melibatkan emosi kita saat tidur, tersenyum dan menangis haru saat bangun.
Meski pada dasarnya mimpi dan harapan punya tugas yang sama, membuat kita punya gairah dalam hidup, sama-sama membimbing kita memenuhi kebutuhan, tapi aku lebih suka bermimpi daripada berharap. Bagaimanapun mimpi tetap seperti tangan lembut ibu yang selalu mengusapkan air wudhu di tangannya kalau aku susah dibangunkan di pagi hari. Menenangkan. Dia menggerakkan kita dengan cara halusnya tanpa pernah menuntut seperti deadline tugas kuliah. Sementara harapan, walau dia lebih dekat dengan kehidupan saat kita membuka mata, tapi dia kasar. Harapan selalu menuntut nafsu untuk berhasil. Pilihan cuma ada dua, jadi ambisius atau menyerah. Kalau kita memilih untuk jadi ambisius, sekali kita terpeleset, rasanya seperti punya luka yang butuh penyembuhan lama. Kalau kita memilih menyerah pasrah pada keadaan yang menyeret kita, sekalinya gagal, pasti rasanya gemes dan akan muncul pikiran: 'kenapa nggak berusaha mewujukan harapan itu padahal seharusnya aku bisa!'. Berada di persimpangan keduanya pun sama saja, harapan bisa menyesatkan. Mau ambisius tapi terlalu pasrah, mau pasrah tapi sebenarnya dia punya ambisi.
Sekarang aku ada di persimpangan itu. Bingung, iri, gemas pada keadaan, dan hanya ingin berlari dan mengadukan semua pada mimpi. Karna aku yakin mimpi pasti akan memberiku visualisasi tentang harapanku yang selama ini terpendam dengan lebih baik. Mimpi nggak akan menjatuhkanku. Aku tahu aku harus berusaha lebih keras lagi dan aku butuh waktu lebih banyak lagi untuk bersabar, karna aku yakin Tuhan selalu punya cara terindah untukku. Dan sudah kubuktikan, beberapa mimpiku bertahun-tahun yang lalu baru bisa terwujud sekarang. Dan mimpi, mengajariku untuk bersabar. Tak seperti harapan yang selalu berhasil menjatuhkan pikiran dan perasaan.
Itulah kenapa aku lebih suka bermimpi daripada berharap.
komen ahhhhh
BalasHapus