Delapan Tahun Lebih
Namanya Satria Wahyu Ramadhan, dulu ku panggil satria baja hitam karna memang dia hitam nggak ketulungan. Cita-citanya menjadi wiraswasta. Kakinya panjang, jenjang, menambah kesan tinggi dan kurus. Rambutnya tak pernah terlihat rapi. Lagu kesukaannya sejak jaman TK sampai SD kelas 3 adalah Kupu-kupu, karna setiap ada pelajaran menyanyi di depan kelas selalu dia melantunkan lagu itu, dan hanya aku yang selalu memberinya applause di saat yang lain hanya diam atau malah asyik bercerita dengan teman sebangkunya. Dia selalu meminjamiku krayon dan pulas (pensil warna) saat kotak mewarnaiku kehilangan personilnya. Dia juga yang selalu menemaniku duduk di tangga masjid kecil sebelah TK karna memang hanya kami berdua yang rajin berangkat pagi. Jajan kesukaannya lekker dengan tambahan messes warna-warni dan susu coklat, sama sepertiku, hanya saja dia suka lekker bentuk bulat sedangkan aku suka yang berbentuk bintang.
Di SD, permainan favoritnya adalah lompat jauh di bak pasir yang penuh kotoran kucing. Tantangan katanya, apalagi saat hujan. Dialah bocah laki-laki yang pertama ku anggap sahabat. Dia satu-satunya bocah yang marah karna tak kupamiti saat pindah sekolah, dan hanya memandang diam dari balik jendela saat yang lain sibuk melambaikan tangan sebagai perpisahan. Dia juga bocah laki-laki pertama yang mau bermain surat-menyurat ala sahabat pena denganku, karna kami beda SMP, dan kami memanfaatkan salah seorang teman sekaligus tetangganya, yang juga teman sekelas ekstrakurikuler komputerku, untuk menjadi perantara surat kami sampai tiba saat kami harus menghentikan itu semua karna keterbatasan waktu dan perbedaan dibanyak hal, walau akhirnya kami sempat kembali dipertemukan dalam ketidaksengajaan. Dan lost contact dulu belum begitu terasa semenyakitkan sekarang, karna dulu kami hanya memiliki surat, bukan handphone canggih yang bisa setiap saat melihat kondisi seorang dari social media yang oranglain miliki. Lugu memang, lucu tur wagu...
Sekarang kami sudah punya kehidupan masing-masing.
Dan kami tenang, meski mungkin tak bisa lagi saling mengenal.
Untuk menjadikan diri tak lagi berjingkrak saat mendengar namanya, butuh delapan tahun lebih,
Untuk bisa berhenti berimajinasi dan menginginkannya kembali, butuh delapan tahun lebih
dan untuk menghentikan laju suatu rasa sederhana itu, butuh delapan tahun lebih
hingga tersisa bayang kenangan dan detail saja, tak lebih,
mati, bersih, tanpa ada hasrat apa-apa lagi.
Lalu bagaimana dengan rasa yang sudah terlalu dalam?
Butuh berapa tahun untuk bisa membersihkan dan menutupnya?
Komentar
Posting Komentar