Cerita Cerminan
Malam ini di kelas brevet pajak untuk pertama kalinya aku tak bisa fokus. Pikiranku tertuju pada cerita seseorang yang duduk di sampingku, si gadis lugu yang baru keluar dari sangkarnya. Begitulah bagaimana dia mengartikan siapa dirinya, dan bagaimana persisnya aku memahami sosoknya, meski mungkin pemahamanku salah.
Gadis lugu itu tiba-tiba berbisik menceritakan kisah hidupnya tanpa ku minta saat dosen mulai menjelaskan materi yang sudah berulang-ulang diajarkan, bahkan sejak aku masih SMA. Entah ada angin apa, aku pun tak tahu. Tapi dari ceritanya itu, aku merasa sedang mendengar pantulan cerita tentang diriku beberapa waktu yang lalu, masa dimana aku merasa polos seperti gadis desa pelosok yang baru pertama melihat kehidupan kota, atau merasa bahagia menikmati sebuah kebebasan rasa jiwa yang seharusnya sudah ada sejak dulu. Persis. Perlahan dia membawaku ke dunia lama, tepat sebelum aku mengenal mereka, orang-orang hebat yang mengajariku melihat dunia.
Rasa-rasanya kepalaku seperti berputar dan terseret arus waktu saat mendengar bisikan kisahnya. Aku merasa seperti melihat sebuah film yang diputar tiada habisnya, dengan diriku sebagai bintang utamanya. Aku melihat wajah bapak ibu, mamas, adik, eyang, semua keluarga besar, teman, orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku. Semuanya jelas, dengan senyum mereka, bagaimana cara mereka memperlakukanku sejak aku kecil di beberapa memori yang masih ku ingat, bagaimana mereka menyayangiku, bagaimana mereka ada dan merubah hidupku, bagaimana mereka datang dan pergi, dan ah! semua visualisasi dalam otakku itu semakin membuatku terseret semakin dalam. Mungkin aku akan kehabisan nafas kalau adzan maghrib tak segera berkumandang. Astaghfirullohal'adzim..
Thats why I told you dear, there's something in my head but I can't figure it out
Ceritamu membuatku merasa telah menemukan beberapa keping pecahan jiwa yang selama ini terus ku cari. Ya, kamu melengkapi salah satunya. Ceritamu membuatku merasa utuh, semakin lengkap. Karna setidaknya aku bisa merasa semua langkah dan keputusanku di masa lalu ada hikmahnya. Karna setidaknya aku masih bisa menyelamatkanmu agar tidak mengurangi kecerobohanku dulu. Dan yang paling penting, ceritamu mengingatkanku betapa beruntungnya aku memiliki Allah S.W.T dalam hidupku. Allah..Allah..Allah..
Selamat, kamu telah berhasil merebut hatiku, cerminanku, anak kecil yang baru mengenal dunia.. :')
Komentar
Posting Komentar