Mojojojo

Ahmad Gesang Setyo Prasojo. Dari namanya yang njawani saja aku bisa merasakan kalau suatu hari kita bisa nyambung dan punya koneksi sekuat wifi. Dan memang benar, musik, film, dan kisah masa lalu membuat kita tak pernah kehabisan bahan celaan. Perkenalan pertama aku masih memanggilnya mas Gesang, karna dulu aku pernah ngefans sama kakak kelas jaman SD namanya mas Gesang yang sama-sama suka seni, tapi kemudian setelah tahu kalau temanku ini nyleneh jauh dengan profil mas Gesang jaman SD-ku dan 'agak-agak', jadilah aku mengikuti panggilan umumnya, mas Jojo. Percakapan pertama diawali dengan bahasa Indonesia, tapi akhirnya sampai detik ini kita selalu menggunakan bahasa jawa, dari pembicaraan serius sampai bahasan paling gila. Bahkan teman-temanku sampai mengira mas jojo ini sepupuku, karna seringnya aku bercerita tentang aib dan kegilaannya yang menggunakan bahasa jawa. Di lingkungan kampus memang aku jarang menggunakan bahasa jawa *bawaan lingkungan* kecuali dengan saudara.

Pertemuan kita pertama terjadi setelah beberapa bulan kenalan dengan perantara dupa, di tengah-tengah crowded-nya pasar di sekitaran malioboro *lupa nama daerahnya*. Waktu itu dengan hanya bermodalkan foto profil facebook, aku bisa mengenali wajahnya yang mirip om-om kurang bahagia. Jadi ceritanya aku, temanku dan teman-temanku *yang sekaligus sahabatnya | bingung? | sama..* janjian buat ketemuan di halte sekitaran arah malioboro. Nah temanku sebut saja Hindun *nama tidak disamarkan untuk ketenaran* mengajakku turun dari bis di halte yang agak jauh dari halte tempat kita janjian, demi mengajakku cuci mata. Sambil nyusup-nyusup ke dalam pasar, aku tetap berusaha waspada njagain tas takut ada tangan tak diundang. Tiba-tiba dari kejauhan aku samar-samar melihat sosok rambut bergelombang berjalan mendekat. Aku pun semakin mengeratkan cengkaramn tasku. Tapi sosok itu lama-lama makin terlihat jelas wujudnya dan tidak asing. That's him. Selanjutnya terjadi percakapan seperti adegan sinetron...
Me              : "Mas Jojo?" *dengan mata berbinar*
Him             : "Iyas?" *dengan mata melotot*
Bakul pecel :  "pecele mbaak..mas..pecel..jajane mas niki monggoh dipundhut..pecel pecel.."
Me              : "lho liyane pundi?"
Him             : "Iku do ngenteni nang halte. aku tak tumbas batre kamera sik."
Hindun        : "kenapa mau ora sms dewek kon numbasna disit ya yas?" 
Him             : "alaah iyo...ah wis ah tak rono sik" 
Iya, adegan sinetron yang di potong karna tidak layak -___-

Well...meski sampai saat ini aku belum bisa mengenal sifatnya secara dalam *karna terhalang dinding kegilaan yang dia buat* tapi ada kalanya aku bersyukur sudah diberi kesempatan mengenalnya. Meski dia mengaku dia nggak alim, dia nggak bisa memotivasi lewat kata-kata, dia nggak bisa berpuisi untuk menggerakan dunia, setidaknya dia selalu ada dengan gitar dan suaranya untuk menghibur kita, terutama wanita, entah itu teman, gebetan, bahkan mantan gebetan. Mas jojo tak pernah lupa mengajariku tertawa seperti apapun keadaan yang ada. Sedih, sakit, senang, marah, emosi, bahkan saat mules, tertawa dan menyanyilah, begitu inti ajaran yang aku dapat darinya. Absurd. Nggak jelas. Nggak penting. Itulah slogan kita. Oh ya satu lagi semboyan kita, selalu Avai'love'able bagi siapapun, termasuk jika hanya menjadi pelarian semata *ttssssaah. Bersama mari kita tertawakan duniaaa!!

Kamar kosan, 7 Januari 2014
Tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang kepadanya. Dibuat dengan paksaan, rasa kasihan dan kejar tayang dalam waktu sesingkat-singkatnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh