Romantisnya Bapak
Sudah dua hari bapak melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sudah menjadi hobi bapak (yang mungkin bagi orang lain adalah kewajiban) untuk menelpon mengabari orang rumah sehari minimal 3 kali. Dan sore ini saya ingin hanya bisa mengumpat haru saat melihat ibu terlihat begitu bahagia tertawa lepas saat mengobrol dengan bapak di telepon. Bapak, dengan segala sikap wagu dan sok pamernya, bercerita tentang sebuah kota seolah ibu tidak pernah tinggal di sana selama 4 tahun. Bapak juga dengan nylenehnya menjadi mandor jarak jauh menyuruh tukang yang sedang merenovasi kebun belakang untuk menebang pohon pisang sore ini. Bapak yang berhasil membuat ibu melupakan sengatan sakit syaraf kejepit diantara tulang panggulnya, hanya dengan menceritakan perjalanan-perjalanan gila, menyebrang jalan yang ramai seperti anak TK, atau menirukan orang tua yang sudah berumur dengan bergandengan tangan bersama teman-teman lainnya, seolah masa kecil beliau kurang bahagia, di mata kami itu romantis.
Meski nggak pernah mengumbar kata-kata sayang karena beliau banyak diam, marah diam, senang pun diam, tapi bapak selalu bisa menunjukkan kasihnya untuk ibu dan anak-anaknya dengan kesiagaan dan perhatiannya meski jauh. Dan bapak akan tetap jadi laki-laki paling romantis buat ibu, juga untukku dengan semua hal itu. Bapak, yang menurunkan sifat buruknya ke satu-satunya anak perempuan ini, akan tetap menjadi tempat paling nyaman untuk kembali. Bapak yang telah mendidikku jadi bermental separo laki-laki, akan selalu menjadi sandaran paling hangat yang bisa ku dapat setiap aku merasa hidup semakin berat.
Matur nuwun , bapak..
Komentar
Posting Komentar