Semarang-Jogja (1)

Terkadang aku lupa, aku masih punya mereka,
Semarang - Jogjakarta, perjalanan singkat yang ku tempuh kali ini sungguh terasa berbeda. Untuk pertama kalinya aku merasa ingin menangis karna bisa bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lama. Meski mungkin mereka merasa asing satu sama lain saat pertama ku pertemukan, tapi tak bisa dipungkiri, aku bahagia.

Di bukit sore itu, aku merasa kembali merasa dibelai masa lalu. Melepas rindu dengan sahabatku Anggi, melihat kepolosan sichong yang sudah berubah arah, bercanda dengan si jenong resi, mengobrol dengan adik kriwilku wisnu, mengingat kejadian masa lalu bersama Gias, dan merasakan sebuah kenyamanan yang tak tergantikan saat bisa menggoda sifat kepala batu si pembawa jaket merah yang sedang puasa hari itu, sulis. Tak ketinggalan, rasa aman yang selalu mengikuti saat aku berada di dekat kakak terbaruku, mas Affix. Aku bisa merasa waktuku berhenti, saat aku dan jenong dari kejauhan melihat mereka bisa mengobrol dengan akrab satu sama lain tanpa canggung, mungkin juga dipaksa dan dibuat tidak canggung, sembari menunggu selesainya mas Affix yang asyik menyesap kopi hitamnya di warung.
Malamnya aku menangis diam-diam, waktu Anggi sudah terlelap dan sebelumnya bercerita betapa nyamannya dia hari itu. Lalu sms dari sichong, wisnu, dan si kepala batu pembawa jaket merah, semakin membuat lambungku nyeri.
"Masa harus nunggu ada teman dari jauh datang baru mau pada kumpul kaya hari ini? Makasih dini maldini buat hari ini, udah mau bareng-bareng memunguti kebahagiaan kita yang tercecer."
"Makasih mbak udah mengenalkan aku sama teman baru. Main kaya tadi udah bikin tenang pikiranku."
"Makasih teh angetnya tadi, jangan ngajak ribut terus ya hujan :)"
 (to be continue)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh