Semarang - Jogja (2)
Rabu, 20 April 2014
Bermodalkan rasa penat, resah gelisah nggak tenang, satu ransel, dan duit 200ribu, saya nekat melakukan perjalanan mendadak ke Semarang siang itu, tanpa rencana. Sehari sebelumnya saya hanya punya planning ingin mbolang ke Jogja minggu itu, berhubung 1 Mei libur nasional. Tapi ternyata di hari H, tiba-tiba hasrat ke Semarang muncul dan menguasai pikiran. Pagi itu juga, saya hubungi seorang teman dengan tujuan memaksanya untuk mau menampung selama saya butuh tempat tidur :p
Enam jam menuju Semarang dari arah Purbalingga/ Purwokerto, bisa ditempuh dengan banyak alternatif alat transportasi sesuai kasta. Bagi yang pengin irit dan masuk kasta nggak mabokan, bisa pakai bus Nusantara atau bus ekonomi lain jurusan Semarang dg tarif berkisar antara 40-60ribu. Buat yang cukup duit dan termasuk kasta mabokan, bisa pakai travel dengan bayaran kurang lebih 80 ribuan. Sampai di daerah Kariadi pukul 21.00, setelah mandi dan sholat saya langsung diajak teman makan Gongso, sejenis rica-rica dengan berbagai pilihan isi, nggak cuma daging. Lumayan mahal si, 8500 satu porsi plus nasi, tapi belum termasuk teh anget yang totalnya 11ribu. Mahal? Iyalah, secara di Purwokerto makan nasi rica es teh cuma bayar 7500,hahaha.
Pagi harinya setelah subuh, saya mulai melancarkan aksi sms serangan fajar kesiangan ke teman-teman jaman SMA yang kuliah di Unnes; Sicong, Sulis, Resi, Gias, dan Wisnu, untuk mengabarkan kalau saya sudah ada di Semarang dan memaksa mereka menjadi tour guide saya selama di sana.haha. Hari itu kami berjanji bertemu di Sam Poo Kong. Setelah ngobrol ngalor ngidul melepas kangen dan ribut menentukan dimana akan sarapan, dan kemana mau jalan-jalan, kami akhirnya membuat list tujuan wisata. Walau pada akhirnya gagal semua dan kami malah pergi ke daerah Sidomukti, Ungaran. Setelah menghubungi satu personil tambahan, Mas affix, berangkatlah kami selepas dzuhur.

Perjalanan satu setengah jam ke atas benar-benar bikin duduk nggak tenang, jadi butuh banget yang namanya cowok sebagai pengendara di depan. Tapi begitu sampai di atas, semua terbayarkan. Nggak sia-sia keluar uang untuk tarif masuk 10 ribu per orang, ditambah parkir 2ribu, ditambah lagi kalau mau naik ke daerah kedai kopi bayar 4ribu. Sore itu saya benar-benar merasa bersyukur bisa memandang langit bersama para kesayangan. Terpuaskan juga otak akhirnya bisa dialiri hawa segar pegunungan lagi. Langit di atas kami pun terasa amat sangat dekat. Benar-benar, Subhanalloh... Malam itu pun ditutup dengan acara makan di salah satu warung tenda dengan menu nasi godhog panas yang bener-bener nikmat karna disantap dengan hangatnya kebersamaan *duh.. T__T

Jumat, 2 Mei 2014
Saking lelahnya, jumat pagi saya dan Anggi bangun kesiangan, sehingga bubarlah segala rencana yang sudah kami susun malam sebelumnya. Pagi itu kami hanya mengitari semarang kota sembari mencari sarapan yang cocok, walau ujung-ujungnya tetep ramesan,mwahaha. Di warung kami bertemu dengan salah satu sohib Anggi bernama Septian *yang katanya digandrungi banyak cewek di kelasnya*. Biasa aja sih, masih kalah ganteng sama bapakku :D Lanjut, selepas dhuhur, saya bersiap packing untuk perjalanan ke Jogja, karna Mas Affix menawari pergi ke Jogja bersama lewat jalur Grabag, Magelang. Jadilah sore itu *ngaret beberapa jam sekalian nunggu ashar dan hawa agak ademan* kami meluncur ke Jogja. Setelah sempat diguyur hujan di daerah Magelang-Jogja, kami sampai di kos-kosan mas Jojo sekitar setengah sembilan malam. Entah kenapa malam itu badan berasa lemas pake banget. Sesampainya di kosan Hindun, saya baru menyadari kalau ini sudah memasuki waktu-waktu 'bulanan', mwehehe. Pantas saja rasanya nggak karuan. Sabtu paginya, Mas Jojo merealisasikan janjinya untuk mengajak saya bertemu keponakan cantiknya, dek Hani. Dengan berbekal kado boneka mungil untuk keponakan tersayang, kami datang. Minggu paginya, mungkin karena bawaan hawa 'bulanan', pagi itu mood langsung nggak enak. Tiba-tiba pengin pulang aja,haha. Jadilah setelah sarapan bubur dan mampir beli bakpia pesenan ibu, saya diantar Hindun ke pangkalan efi buat pulang tanpa sempet pamitan sama mas Jojo atau mas Affix. hehe
Entahlah, perjalanan kali ini benar-benar bisa membawaku menuju alam lain yang belum pernah ku temui sebelumnya. Seperti kata Sichong, mungkin ini yang dinamakan bahagianya memunguti kebahagiaan yang tercecer. Masih banyak kebahagiaan yang ada di luar sana, yang kalau dipunguti bersama bisa menguatkan lagi perasaan saling memiliki. Terima kasih Semarang- Jogja atas semua ini. :)

Perjalanan satu setengah jam ke atas benar-benar bikin duduk nggak tenang, jadi butuh banget yang namanya cowok sebagai pengendara di depan. Tapi begitu sampai di atas, semua terbayarkan. Nggak sia-sia keluar uang untuk tarif masuk 10 ribu per orang, ditambah parkir 2ribu, ditambah lagi kalau mau naik ke daerah kedai kopi bayar 4ribu. Sore itu saya benar-benar merasa bersyukur bisa memandang langit bersama para kesayangan. Terpuaskan juga otak akhirnya bisa dialiri hawa segar pegunungan lagi. Langit di atas kami pun terasa amat sangat dekat. Benar-benar, Subhanalloh... Malam itu pun ditutup dengan acara makan di salah satu warung tenda dengan menu nasi godhog panas yang bener-bener nikmat karna disantap dengan hangatnya kebersamaan *duh.. T__T

Jumat, 2 Mei 2014
Saking lelahnya, jumat pagi saya dan Anggi bangun kesiangan, sehingga bubarlah segala rencana yang sudah kami susun malam sebelumnya. Pagi itu kami hanya mengitari semarang kota sembari mencari sarapan yang cocok, walau ujung-ujungnya tetep ramesan,mwahaha. Di warung kami bertemu dengan salah satu sohib Anggi bernama Septian *yang katanya digandrungi banyak cewek di kelasnya*. Biasa aja sih, masih kalah ganteng sama bapakku :D Lanjut, selepas dhuhur, saya bersiap packing untuk perjalanan ke Jogja, karna Mas Affix menawari pergi ke Jogja bersama lewat jalur Grabag, Magelang. Jadilah sore itu *ngaret beberapa jam sekalian nunggu ashar dan hawa agak ademan* kami meluncur ke Jogja. Setelah sempat diguyur hujan di daerah Magelang-Jogja, kami sampai di kos-kosan mas Jojo sekitar setengah sembilan malam. Entah kenapa malam itu badan berasa lemas pake banget. Sesampainya di kosan Hindun, saya baru menyadari kalau ini sudah memasuki waktu-waktu 'bulanan', mwehehe. Pantas saja rasanya nggak karuan. Sabtu paginya, Mas Jojo merealisasikan janjinya untuk mengajak saya bertemu keponakan cantiknya, dek Hani. Dengan berbekal kado boneka mungil untuk keponakan tersayang, kami datang. Minggu paginya, mungkin karena bawaan hawa 'bulanan', pagi itu mood langsung nggak enak. Tiba-tiba pengin pulang aja,haha. Jadilah setelah sarapan bubur dan mampir beli bakpia pesenan ibu, saya diantar Hindun ke pangkalan efi buat pulang tanpa sempet pamitan sama mas Jojo atau mas Affix. hehe
Entahlah, perjalanan kali ini benar-benar bisa membawaku menuju alam lain yang belum pernah ku temui sebelumnya. Seperti kata Sichong, mungkin ini yang dinamakan bahagianya memunguti kebahagiaan yang tercecer. Masih banyak kebahagiaan yang ada di luar sana, yang kalau dipunguti bersama bisa menguatkan lagi perasaan saling memiliki. Terima kasih Semarang- Jogja atas semua ini. :)


asyik nih yang habis jalan-jalan.. :)
BalasHapus