Sayur Asem Terakhir

Selamat malam pakdhe yang sudah tenang di alam sana,
hari ini aku melihat betapa besar kasih sayang Alloh padamu,
yang melegakan kepergianmu dalam lelap tidur lelah siangmu,
yang menyisakan ketegaran bagi keempat anak juga istrimu.

Pakdhe, malam ini aku menangis bukan karna kepergianmu,
aku menangis karena dengan melihatmu aku bisa kembali menyadari
betapa besar kasih bapak padaku,
seperti kasihmu pada anak-anakmu yang tak pernah bisa kau ungkapkan,
dan hanya tersimpan menjadi sesak di dadamu.

Pakdhe, malam ini aku sedih bukan karna takdirmu,
aku sedih karena aku belum bisa membuatkan lagi sayur asem terakhirmu
atau oseng tempe pedas kesukaan yang kau minta dulu
aku sedih karena mungkin tak ada lagi yang memujiku sebagai keponakan tercantik
calon ibu rumah tangga terbaik

Pakdhe, aku tahu kesedihanku tak beralasan
aku hanya mulai bisa menerimamu dalam hidupku
aku hanya mulai merasa nyaman saat aku bisa merawatmu
dan membuatkanmu secangkir teh dan sepiring mendoan
kala kau merasa bosan dan merasa kelaparan saat budhe di Semarang

Ah pakdhe, aku sedih saat mengingat bagaimana Risa berteriak ketakutan
lalu dalam sekejap bisa menerima kenyataan bahwa kau sudah tenang,
atau bagaimana jika aku sedang dalam kondisi kesal setengah mati
lalu bapak dipanggil Illahi, sungguh,
aku tak bisa bayangkan bagaimana kalau aku yang ditinggalkan
entah bagaimana aku bisa bertahan

Pakdhe, mungkin sekarang kau sudah berada di tempat baru
dimana kau bisa memakan empal, sate kambing, atau daging-daging kesukaanmu
tak ketinggalan sayur asem favoritmu
di sana pasti lebih enak semuanya pakdhe,

semoga kebaikan membawamu kepada khusnul khotimah ya pakdhe
doa keponakan cantikmu selalu bersamamu
selamat jalan pakdhe tersayang...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh