Let It Go, Let It Flow

Let it go, let it go, you only need the light when its burning low
Let it go, let it go, you only miss the sun when its start to snow
Here I stand, and here I'll stay,
let it go, let it go, the cold never bother me anyway

Menemukan mashup lagu Let it Go dan Let Her Go kreasi Sam Tsui tersebut seperti menemukan asupan gizi untuk kembali menulis tentang rasa yang sama yang ingin saya teriakan, udah biarin aja..

Beberapa minggu ini ada beberapa orang (teman, keluarga, hingga dosen) yang mulai komplain karena menganggap saya berubah menjadi sedikit lebih cuek, santai, tidak peduli, dan menganggap semuanya bisa diatasi. They're absolutely right. Seseorang bahkan telah salah menafsirkan curhatan perubahan ini karena dia menganggap saya berpikir saya berubah karena oranglain, sementara dia bersikeras meyakinkan kalau saya berubah karena kemauan saya sendiri untuk menjadi berbeda *halah ribet*. Ya pokoknya gitu. Mereka menuntut saya, yang sebentar lagi menyandang gelar sarjana, harus memiliki rencana taktis sekaligus jangka panjang guna menunjang kehidupan. Mereka menuntut, saya harus bisa menjadi 'planner' seperti dulu, dan bisa menentukan apa yang terbaik bagi kehidupan saya sesuai 'standar baik' mereka. Ya wajarlah, mereka nggak tau seberapa ngoyonya saya dulu. Mereka nggak tau betapa kerasnya saya selalu mencoba menjaga perasaan oranglain dan mencoba menyenangkan mereka meski saya juga mendapat kepuasan dari 'tugas' tersebut. But, tidak bisakah kalian memberi saya kesempatan untuk memilih jalan sendiri?

Oke, sorry, mungkin lebih tepatnya 'tidak bisakah kalian memberi saya kesempatan untuk menikmati waktu yang saya miliki sebentar saja?', karna sejujurnya saya masih belum bisa yakin untuk memilih jalan saya sendiri, saya masih ketergantungan dengan oranglain untuk membantu meyakinkan saya dalam memilih apapun.haha. Enjoying My Time, yap. Saya sendiri masih sedikit takjub dengan perubahan yang saya alami untuk menikmati waktu saat ini, yang saya rasa muncul sejak melepaskan diri dari cengkeraman skripsi. Mungkin tanpa disadari skripsi mengajari saya untuk tidak lagi berharap terlalu banyak, dan hanya berharap  pada Sang Pemilik Segalanya. Dan kalau dulu saya seorang planner yang bersikeras menggunakan prinsip Think Before You Act dalam setiap langkah, skripsi berhasil membuat saya membalikkan prinsip tersebut menjadi Act First, Think Later, yang entah bagaimana bisa saya anut hingga sekarang. Memang hidup itu berputar, otak isi jadi kosong, otak kosong pun jadi semakin goblok. sementara suatu saat yang goblok malah akan menjadi dianggap berisi. Haha

Mungkin nanti saya akan kembali lagi menjadi seorang planner, setelah bosan dengan nikmatin aja apa yang ada seperti ini. Mungkin suatu hari ketika keinginan dan ego untuk menguasai kehidupan yang lebih baik muncul, saya akan kembali menjadi orang yang penuh ambisi, orang yang selalu bersemangat hingga menuliskan keinginan-keinginannya di kertas yang tertempel pada dinding kamar. Mungkin nanti di suatu hari saya akan kembali memenuhi paru-paru ini dengan segarnya udara tempat-tempat lain yang ingin saya kunjungi, dengan biaya sendiri lagi. Mungkin suatu hari saya akan kembali memanjakan lidah orang serumah dengan membuat kue-kue kesukaan mereka atau masakan tradisional lainnya. Mungkin. Kita lihat saja nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh