Siapkah?
Menikah sama sekali bukan perkara gampang, itu kesimpulan yang bisa saya dapatkan dari obrolan dan diskusi beberapa hari ini dengan pak kyai, ibu, juga teman. Mungkin dari luar, terlihat menyenangkan, kita bisa melihat indahnya kebersamaan dua keluarga besar yang saling menyatu, megahnya gedung atau rumah dengan dekorasi bunga, meriahnya pesta resepsi, dan yang tidak kalah penting khusyuknya acara ijab qobul yang paling utama. Memang, menikah menyenangkan.
Tapi kemudian seperti yang pak kyai tanyakan, apakah setelah serangkaian acara itu hati kita akan tetap sama? tentu tidak. Kita akan hidup bersama dengan pasangan baru kita, membangun rumah sendiri tanpa uluran tangan orangtua, lalu sedikit demi sedikit mulai menjadi manusia baru yang mandiri, siap menghadapi omongan oranglain di dunia luar, entah apa yang pasti akan selalu ada. Jelas, akan memalukan jika kita hanya memikirkan enaknya saja.
Tengoklah perkara sederhana dalam rumah tangga,
Bagaimana jika suatu hari kita tidak bisa memasakkan makanan kesukaan suami saat kita tiba-tiba sakit? Bagaimana jika kita tidak bisa menjahit kancing baju suami yang lepas padahal harus segera dipakai? Bagaimana jika kita kehabisan uang di pertengahan bulan sementara kita tidak bekerja dan hanya mendapat pemasukan dari suami saja? Apa masih mau meminta kepada orangtua? Belum lagi jika kita tak kunjung diberi kepercayaan untuk menimang anak, atau jika rumah yang kita miliki terlalu kecil dan berantakan karena kita tidak bisa menatanya. Siapkah kita jika mendapati keburukan pasangan yang susah diatur? jangan lupa tanyakan pada diri sendiri apakah kita sudah pantas menjadi pasangan bagi pasangan kita, dengan satu set sifat yang kita punya. Bayangkan jika diri kita adalah oranglain, apakah kita mau menikah dengan orang yang memiliki sifat seperti kita itu? apakah sudah pantas? apakah ada yang mau? *ehhh
Seseorang pernah mengatakan, menjadi istri dan suami itu naluri, jadi akan mengikuti sendiri setelah mengalami. Nggak sepenuhnya salah sih, tapi ya tetap saja ada yang mengganjal dalam pernyataan ini. Menjadi istri itu memang naluri, tapi jika kita tidak melatihnya dari sekarang apakah kelak naluri atau insting kita kelak akan terlatih peka? jujur saja saya kurang respect kepada orang yang menganut prinsip demikian sebagai alasan untuk tidak berlatih memasak, atau mengerjakan tugas rumah tangga.
Lihat saja, banyak kasus pertengkaran dalam rumah tangga pasangan yang baru menikah dan punya anak, cekcok karena istri tidak bisa membeli susu bagi anaknya sementara suaminya tidak bisa mengusahakan adanya dana. Begitu juga msalah sekolah anaknya. Karena mungkin saat menikah dulu mereka hanya berpikiran tentang enaknya saja, tanpa terlebih dahulu merencanakan atau minimal memiliki modal pikiran luas, juga pekerjaan untuk membangun rumah tangga. Bagi saya tetap saja, tugas mencari uang ya tugas suami,hehe.
Sebelum menikah, lebih baik tanyakan lagi pada diri sendiri, apakah yang akan kita lakukan setelah menikah? siapkah kita memulai mendayung kapal sendiri? siapkah kita menjadikan menikah sebagai ibadah hingga kita mati? siapkah kita menjadikan suami sebagai orang kepercayaan menggantikan peranan orangtua dalam hidup kita? siapkah kita menjadi orang yang bangun paling awal dan tidur paling akhir dalam rumah setelah semuanya tidur? siapkah kita mengurangi ke-perfectionist-an kita dan menyatu bersama sifat pasangan kita untuk membuat visi dan misi yang lebih baik lagi? siapkah kita menjadi pemoles keluarga yang bersahaja? siapkah kita untuk tidak mendengarkan perkataan buruk, tidak memasukannya ke dalam hati? siapkah kita membagi cinta dengan adil kepada suami, orangtua, dan mertua kita, bahkan keluarganya? siapkah meningkatkan ibadah setelah menikah? siapkah hidup kekurangan setelah menikah? siapkah mengurangi keburukan, mengendalikan amarah, dan menjaga nama baik suami serta keluarga kelak? hingga pertanyaan tentang kesiapan yang lain akan segera mengikuti...
Jadi intinya ya gitu lah,haha
jangan menikah hanya karena membayangkan enaknya saja. Itulah kenapa Islam mengajarkan bahwa wajib hukumnya bagi muslim untuk menikah apabila telah MAMPU secara fisik maupun psikis. Bukan mau materialis sih, hanya mencoba realistis. :)
Mungkin tulisan ini hanya sekedar rasa penasaran saya yang alhamdulillah belum menikah da belum dipertemukan dengan pasangan hidup,hehe. mungkin kelak saat bertemu dan memiliki kesamaan visi misi satu per satu pertanyaan kesiapan itu akan dicoret dengan jawaban SIAP, seperti sahabat saya yang pagi tadi melangsungkan pernikahan dengan pasangannya. Tak ada yang tau seberapa besar kesiapan seorang. Yang bisa kita lakukan hanya mendoakan semoga ia bisa mendapatkan yang terbaik slalu dari alloh SWT bersama keluarga barunya kelak.
Bismillahirrohmanirrohim... Aamiin aamiin yaa rabbal'alamin..
Komentar
Posting Komentar