In Memoriam Eyang -1

Lima menit yang lalu, tepat setengah jam sebelum tengah malam, baru saja terdengar pengumuman kabar lelayon dari masjid, tetangga satu komplek perumahan namun berbeda RT kembali ada yang dipanggil Sang Maha Kuasa. Innalillahi Wainnailaihi Roji'un..

Seketika saya teringat almarhumah eyang putri, yang kepergiannya membuat suasana rumah tak sama lagi. Kepergian tetangga malam ini di rumah sakit dekat rumah juga sama seperti eyang kami, hanya saja malam itu kami masih diberi kesempatan untuk terus membisikkan syahadat dan doa yang kami bisa lantunkan. Selama di Rumah Sakit waktu berjalan begitu lambat, walau pada kenyataannya tak sampai 24 jam eyang sudah wafat. 

Saya masih ingat kejadian di suatu pagi, 5 hari sebelum eyang memasuki fase 'tidur panjang' tidak sadarkan diri, eyang masih bisa berkomunikasi dengan bergumam. Saat itu saya membeli jajan Lupis dari beras ketan yang lembut. Saya pun iseng bertanya pada eyang apakah beliau ingin mencicipi Lupis yang juga makanan kesukaan eyang. Kondisi eyang yang sudah lemas nglempuruk (duduk pun harus ditopang 2 tangan saya, juga eyang sudah mulai kesulitan untuk memakan nasi/ketupat yang dilembutkan) membuat saya berpikir jawaban beliau akan menolak. Namun ternyata saya salah. Sambil tertawa lemah Eyang pun mengangguk dan berkedip seraya berkata "ya gelem banget wong panganan enak" (ya mau banget kan itu makanan enak). 

Pada suapan awal, eyang masih bisa menelan seujung cuilan sendok makan. Namun di suapan ketiga, eyang mulai nampak kesulitan menelan, lalu beliau minta untuk minum. Di sinilah moment yang benar-benar mengiris perasaan saya terjadi. Eyang yang biasanya bisa minum dengan gelas langsung atau dengan sedotan dalam botol yang disediakan khusus untuk keperluan malam hari di kamar, saat itu tidak bisa lagi menyedot air dengan sedotan. Sosok kuat keras yang berada di samping saya sudah berubah 180 derajat menjadi makhluk yang lemah, amat sangat lemah. Beliau telah mencapai siklus terakhirnya sebagai manusia, setelah melewati fase 'bayi sepuh' dulu. Di sini saya menahan tangis sambil menyuapkan air menggunakan sendok kecil untuk bayi, karena ternyata dengan sendok makan ukuran normal pun air tidak bisa tertelan. 

Setelah ibu selesai menjemur pakaian, ibu melirik ke kamar. Seketika tangis kami pecah. Saat itu aku hanya ingin berada di samping eyang dan memeluknya selagi bisa. begitu juga dengan ibu. Berkali-kali ku bisikkan kata maaf di telinga eyang yang bersandar lemah di kedua lenganku. Ku pintakan maaf pula untuk bapak ibu, juga mamas dan adikku, yang dibalas dengan tangis oleh eyang dan perkataan pelan tersendat bahwa beliau juga ingin dimaafkan oleh kami. Saat itu baru terasa betapa beratnya perjuangan eyang bertahun-tahun menahan rasa sakitnya yang tumbuh berkali-kali lipat karena kecelakaan, dan betapa tidak pengertiannya kami, betapa kurang sabarnya kami merawat beliau selama ini...  (to be continue)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh