In Memoriam Eyang - 2
Tak luput dari ingatan pula, malam itu 2 hari sebelum eyang tak sadarkan diri, ibu mulai terserang penyakit panik saat eyang benar-benar tidak bisa menelan apapun. Kondisi eyang masih sadar komunikasi dengan bahasa isyarat, Mulutnya terbuka, tapi beliau tidak bisa berkata apa-apa, Tubuh bagian kanannya lemas, seperti orang terkena stroke. Ibu berusaha membuatkan bubur bayi untuk tenaga eyang, bahkan Ibu membeli serenteng bubur bayi aneka rasa untuk eyang. Kami bergantian menyuapinya dengan gagang sendok agar bubur bisa langsung masuk ke mulut bagian dalam. Sedikit demi sedikit makanan bisa tertelan dengan dipancing tetesan air, alhamdulillah, kami masih punya harapan.
Pagi harinya, eyang masih dalam kondisi sadar saat diseka (dimandikan) dan disuapi oleh ibu di kasur. Setelahnya eyang tertidur. Kami pikir wajar, karna dalam kondisi kenyang orang bisa pulas tidur. Dua jam..Empat jam.. eyang tak kunjung bangun, tubuhnya tetap dalam posisi tidur yang sama sejak awal tadi. Kami pun berusaha membangunkannya untuk ditetesi air. Karna kami takut akan tersedak kalau eyang dalam posisi tidur miring. Mata Eyang terbuka, tapi tidak ada respon lagi yang bisa kami dapat, tidak kedipan, tidak pula anggukan. Pandangannya kosong. meski demikian, kami tetap menyuapi eyang dengan cairan, karena kami yakin eyang pasti kehausan dengan kondisi mulut terbuka saat tidur.
Malam harinya eyang sudah benar-benar tidak sadar. Beliau tidak lagi dapat membuka mata. Beliau tidur, nampak seperti orang tidur, kakinya dingin. Kami mencoba memanggil perawat yang tinggal dekat rumah, dan disarankan untuk segera membawa ke rumah sakit. Malam itu kami langsung berkumpul di kamar eyang dan berdoa bersama untuk kebaikan eyang berharap esok hari eyang bisa bangun. Pagi harinya saya sempat tercekat saat mengecek tekanan darah eyang yang turun begitu drastis. Segera saya berteriak pada bapak agar beliau menelpon ambulance. Sambil menunggu ambulance, ibu dan mamas tak henti-hentinya berdoa dan memeluk eyang. Lagi-lagi saya tak kuat menahan rasa sesak yang akan meledak di dada.
Saat ambulance tiba di pelataran IGD, hanya ada 2 perawat wanita yang menunggu kami. Akhirnya mau tidak mau saya harus ikut menggotong dan memindahkan yangti dari dragbar ke tempat tidur dorong rumah sakit yang sudah disiapkan. Rupanya, saat menyentuh tempat tidur dorong itu, eyang mengerang lalu membuka matanya sekejap memandang saya. Saya langsung menempelkan wajah ke eyang untuk menenangkan "mboten nopo-nopo nggih, eyang kalih tyas niki, eyang kuat nggih, bismillah.." (nggak apa-apa, eyang sama tyas di sini, eyang harus kuat ya, bismillah).
Pemikiran awal saya eyang akan langsung mendapat perawatan khusus. Rupanya harus menunggu hasil cek lab untuk menemukan perlakuan lanjutan. Perawat meminta saya membantu melepas pampers dan memasang kateter, sementara ibu pergi ke lab. Jujur saat melihat tubuh eyang menggeliat menolak suntukan infus dan selang-selang yang dipasang, hati saya sungguh tersiksa. Nyali saya tidak pernah menciut melihat adegan horor itu, tapi begitu sadar yang dihadapkan adalah nenek, sosok eyang dalam hidup saya, seketika saya keluar ruangan dan menangis di teras ditemani bapak dan sahabat dekat mamas. Saya menyadari betapa banyak dosa saya pada eyang selama ini.
Beberapa saat setelah hasil tes lab keluar, beberapa mahasiswa koas datang mengecek kondisi eyang. Kondisi gula darah eyang yang sangat tinggi mencapai 600 lebih membuat kondisi eyang mengalami kelemahan seperti orang stroke. Dengan usaha 5 kali suntik insulin, akhirnya kondisi gula darah eyang bisa turun perlahan. Namun ternyata tekanan darah eyang juga semakin turun. Akhirnya selang beberapa jam dokter pun datang dan memberi obat pemacu tekanan darah lewat infus. Saat itu urin yang dihasilakn eyang dengan 9 kantong infus pun sudah amat sangat sedikit. Ketika 2 orang dokter berkata kemungkinan sadarnya kecil, kami mulai pasrah, mungkin waktunya sudah semakin dekat.
Malamnya pukul 11, eyang dipindahkan ke ruang observasi untuk dilakukan monitor jantung karna memang tensi eyang sudah tidak bisa dinaikkan lagi. Di ruangan itu selain dipasangi alat monitoring jantung, eyang juga diberi obat yang dimasukkan ke dalam paru-paru. Ibu yang tidak kuat pun memilih keluar dari ruangan, sehingga hanya ada saya ditemani sahabat kakak saya yangmelihat bagaimana tim dokter berusaha membuka mulut eyang dengan alat sebesar palu kemudian memasukkan selang melalui mulut. Eyang sempat tersedak, Tapi masih dalam kondisi tidur. Malam itu bergantian kami berjaga di sisi eyang sambil membaca doa yang kami bisa.
Sekitar pukul 2 pagi, saya tengah berjaga saat tiba-tiba eyang mengerang cukup keras dan kejang. Sontak saya berlari ke perawat jaga. Namun setelah di cek mereka berkata tidak ada apa-apa. Namun entah kenapa perasaan saya berkata lain. Terbukti setengah jam kemudian, saya melihat di monitor bahwa tekanan darah eyang tiba-tiba turun drastis menjadi 60/30mmHg, secara reflek saya melihat wajah eyang dan saya tidak menemukan lagi gerakan nafas yang sebelumnya ada. Saya panik membangunkan ibu dan kembali berlari ke dokter jaga. Saat itulah, eyang mengalami henti nafas yang pertama kali. Tim dokter bergegas mengusahakan resusitasi jantung paru saat diperiksa masih ada detak jantungnya. Ibu, aku, dan mamas pun pasrah. Kami terus berdoa, sementara mamas menelpon bapak yang berada di rumah menemani si bontot yang takut sendirian dan takut rumah sakit.
Hingga subuh datang, kondisi eyang masih dibantu dengan alat kedokteran. entah sudah berapa perawat yang bergantian memompa udara ke paru-paru eyang. Kami tetap bergantian berada di samping eyang yang tangan dan kakinya mulai sedingin es. Sungguh terharu saat melihat mamas menangis di samping eyang sambil berbisik di telinga eyang agar eyang kuat menunggu sampai anak angkat eyang di solo datang. Mungkin ada keajaiban, kondisi kritis eyang tersebut tetap bertahan hingga sosok om budi sekeluarga datang sekitar setengah 6. Tim dokter meminta ijin ibu untuk menggunakan alat pacu jantuk kejut listrik, namun kami semua menolaknya, kami berpikir kasihan tubuh eyang pasti sudah merasakan kesakitan. Akhirnya, kami melepas kepergian eyang pukul 08.24 pagi itu.
Sungguh, ada sesuatu dalam dada ini yang seperti ikut tertarik keluar saat mendengar pengumuman pernyataan dari dokter. Saya langsung memeluk mamas saat itu karena takut pingsan. Ibu, anak kandung satu-satunya yang masih hidup berusaha berdiri tegar, (namun aku tahu pasti beliau amat sangat merasa lebih kehilangan). Sementara Iluq, adik yang penakut, tiba-tiba menubruk dan minta dipeluk, lalu menangis dengan keras di pundak saya. Badannya yang lebih besar membuat saya semakin hilang keseimbangan. Namun segera saya sadar, saya tidak boleh lemah di hadapan adik. Jadilah saat itu saya bagaikan memeluk boneka raksasa sementara dia harus membungkuk untuk memeluk saya kakaknya.haha.
Dan besok tepat 40 hari kepergian eyang. Selama ini ibu selalu tak ingin pergi jauh dari rumah karena masih merasa berat. Efeknya ibu harus beradaptasi dengan kondisi rumah tanpa eyang, dan pada akhirnya membuat beliau menjadi sensitif dan sedih. Lalu siapa yang 'bertanggung jawab' ada di rumah dan menemani ibu? Jelas saya. Itulah kenapa saya tidak bisa mengambil resiko untuk pergi jauh sekedar refreshing atau mencari pekerjaan di luar kota, karena saya merasa ibu membutuhkan teman di rumah untuk mengalihakn perhatiannya. Mungkin setelah 40 hari berlalu, ibu bisa sedikit demi sedikit saya ajak keluar untuk memandang alam sekitar lagi. Semoga setelah ini ibu bisa semakin ikhlas. Life must go on, right? Semoga.
Komentar
Posting Komentar