Pembuktian

Sebut saja namanya Sari, kawan sekolahku dulu. Semasa sekolah, dia memang bukan murid yang menonjol di bidang akademik, tidak pula non akademik, namun dia terkenal sebagai bahan bullying. Tiada hari tanpa 'menganiaya' Sari, begitu kata teman-teman sekelasku dulu. Memang jika dilihat dari fisiknya, ia hanyalah golongan 'bocah laki-laki' konyol yang terlihat begitu 'bocah', sehingga wajar saja jika dia jadi bahan bully-an. Sari tidak pernah marah, pun jika marah ia hanya curhat sebentar, dan beberapa saat kemudian ia kembali lagi jadi bocah yang tak kenal dendam. Tapi tak sembarang orang bisa mendengar curhatan Sari, karna ia bukan orang yang bisa menceritakan semua hal pribadinya secara gamblang. Lagipula, jika Sari curhat, ceritanya bisa sambung menyambung tak pernah berujung, sehingga banyak orang yang menganggapnya umbrus atau banyak omong, dan malas mendengarnya bercerita. Jika obrolan di kelas terbatas teguran bu guru, setelah bel istirahat berbunyi ia tak segan melanjutkan ceritanya lagi. Haha. Kalau sedang tidak mood, emosi memang hawanya jika mendengar ceritanya. Tapi banyak nggak teganya sih, jadi saya dan teman sebangku saya mau tidak mau selalu mau mendengarkan celotehnya. Haha. Kala mendapati cerita sedihnya, kami berdua hanya bisa berdoa supaya kelak Sari tidak jadi bahan bullying lagi, supaya dia bisa membuktikan dirinya.

Sekarang Sari nampak berbeda. Keputusannya untuk meninggalkan studi di Universitas yang sama dengan saya, dan pindah ke Sekolah Tinggi terkemuka di Indonesia pada tahun kedua nampaknya menjadi awal terkabulna doa kami. Kegigihan dan ambisinya untuk ke sana mengalahkan segalanya. akhirnya setelah dua kali mencoba ia diterima. Hanya pendidikan setahun, ia ditempatkan di kalimantan sana. Barulah beberapa hari kemarin saya terkejut sekaligus terharu melihat foto Sari di sosial media bersama dengan calon istrinya *aamiin*. 

Segala kenangan tentang polah Sari dahulu begitu kontras dengan kondisi sekarang. Kini kesan wibawanya begitu nampak. Gaya bicara di chat pun sudah mulai menunjukkan kalau ia melakukan segalanya demi ibadah, tidak lagi prengengesan. Calonnya pun terlihat cantik dan serasi. Subhanallah... Saking terharunya, saya dan teman sebangku dulu pun hanya bisa kembali berdoa, semoga memang ini jalan yang terbaik untuk Sari. Semoga memang ini jawaban dari doa kami dulu demi kebahagiaan hidup Sari yang selalu di bully. Semoga ini jalan pembuktian Sari, bahwa ia tak lagi layak di bully. You're rock Sar! :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh