Pelajaran dari Adonan Gagal
Practise Makes Perfect,
sebisa mungkin praktis tapi tetap perfect! Halah.
Ada sebuah pelajaran menarik ketika pertama kali saya modal nekat membuat yang namanya pancake. Kue dari tepung dan telur yang bentuknya kaya dorayaki itu sekilas terlihat guampang banget ditiru resep dan cara pembuatannya. Telur dikocok, campurkan dengan tepung terigu, susu cair, gula, mentega, lalu tuang di wajan/teflon dengan api kecil. Well..hasil pertama menunjukkan kegagalan, benar-benar gagal. Dengan resep yang sama entah bagaimana adonan yang saya buat tidak ada bedanya dengan rasa tepung pisang goreng yang lembek dan belum matang di dalam, ketambah bau amis telur pula. Beberapa minggu kemudian saya mencoba memodifikasi sebagian resep dengan tidak menggunakan telur, ganti jenis susu, atau menambahkan tepung beras yang ujung-ujungnya malah bikin adonan kulit lumpia manis. Gagal parah!
Sempat kesal karena gagal akhirnya saya mencoba beralih ke tepung ketan dan kanji. Dulu, percobaan pertama membuat kue gabus keju berbahan tepung kanji sukses pol. berbekal kepedean itulah saya mencoba mewujudkan cemilan yang kalau beli di toko jajanan kiloan itu termasuk muaahal. Namanya keciput wijen, atau onde-onde ciput. Tapi sayang, resep sesat yang saya dapatkan dari googling itu terbukti menyesatkan. Herannya saya juga tergoda untuk manut resep, dengan mencampurkan air pada adonan tepung. Haaaaaa... Thats the foolish thing that I've ever done in this month. Hasilnya agar bisa dimakan, terpaksa toples keciput wijen saya buka semalaman agar amem-melempem-atau berkurang kerasnya hingga bisa dikunyah saking kerasnya.hahaha. Butuh 3 kali percobaan dengan resep yang saya modifikasi sendiri, akhirnya terwujudlah keciput wijen yang layak makan, dan alhamdulillah bulatan-bulatan imut itu sudah jalan-jalan sampai ke Jakarta. :')
Dan malam ini, ketika hujan turun dan lidah begitu menginginkan cemilan yang manis-manis, saya pun nekat kembali membuat adonan pancake. Kali ini saya tambahkan sedikit soda kue dan mentega cair, tanpa telur, dan jumlah tepung sesuai mood *halah*. Bismillah...sambil harap-harap cemas berkali-kali saya buka tutup teflon untuk menegok kondisi adonan. Bulatan pertama, not bad lah, walau masih agak terlalu keras bagian luarnya (karena api kegedean), tapi bentuknya sudah bulat sempurna mirip dorayaki. Berlanjut ke siraman adonan kedua. Well...ini yang benar-benar bikin kaget. Hasil bulatan kedua ini benar-benar lebih bulat, tebal, gemuk, luarnya coklat tanda matang, dan begitu diiris dalamnya udah mbentuk lapisan-lapisan sarang lebah kaya dalem martabak. Mwahaha! Alhamdulillah...finally, siraman ketiga dan seterusnya pun mengikuti. Setelah dipikir lagi ternyata adonan itu emang lebih baik didiamkan dulu selama 5-10 menitan biar lebih ngembang. Entah disebut apa kue ini, luarnya mirip dorayaki gemuk, tapi dalamnya tekstur martabak, yang jelas ibu bapak dan adek suka suka suka :')
Ternyata memang harus bersabar untuk sampai pada titik dimana kita sadar bahwa selama ini kita kurang sabar dalam mencapai apa yang kita inginkan, bahwa selama ini kita tidak menyadari kalau kita sebenarnya bisa kalau terus mencoba, dan bahwa tidak semua yang orang katakan, anjurkan, dan tularkan, itu baik pula untuk kita tularkan. Maturnuwun, Gusti.. :')
Komentar
Posting Komentar