Penunjuk Arah
Entah kesambet apa, saya yang akhir-akhir ini semakin malas berinteraksi dan hanya beraktivitas di rumah, tiba-tiba saja kemarin mengiyakan ajakan seorang teman untuk mengikuti job fair di kampus, buat rame-rame katanya. Selain karena memang sudah cukup lama tidak bertemu, ada sesuatu yang entah bagaimana menarik saya untuk datang. Meski pagi tadi ada sedikit hambatan yang membuat saya hampir membatalkan janji, 'sesuatu' itu tetap memaksa saya untuk berangkat dengan berbagai macam cara. Beruntunglah dia membawa seorang teman lagi, sehingga dia tidak perlu bosan menunggu kedatangan saya.hehe
Sampai kemudian datanglah moment itu, dimana saya, Adji, dan Kiki duduk lesehan di gedung untuk mengisi beberapa form pendaftaran sambil membicarakan masalah penempatan. Saya mencoba bercerita tentang larangan orangtua untuk tidak bekerja jauh (di luar Jawa Tengah). Tak disangka, Kiki yang jadi satu-satunya anak lelaki di keluarganya menimpali, dia memang diizinkan untuk mencari kerja dimanapun. Tapi dia tidak ingin bekerja terlalu jauh dari keluarganya. Lain pula pendapat Adji, dua bersaudara asli Banjarnegara. Dia mendapat izin dari ibunya bekerja di luar daerah, selama tidak berjarak sejauh banjar-surabaya atau banjar-jakarta. bahkan kalau bisa masih dalam satu propinsi saja (terdengar mirip dengan saya, yang biasa disebut anak mama.haha)
Lalu terasa ada sesuatu dalam dada yang ngilu, ketika teringat sebuah kenangan di masa lalu -di tengah obrolan itu-, dimana cita-cita bapak ibu agar anak perempuannya ini stay di daerah, bahkan kalau bisa bekerja di pemda, dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang amat sangat dangkal, biasa, dan bahkan tidak menarik. Dalam pikiran mereka, sudah bukan zamannya lagi anak perempuan hanya berakhir di kandang, menjadi ibu rumah tangga, emansipasi wanita katanya. Dalam pikiran mereka bahkan PNS sudah terlalu kotor, tidak memiliki wibawa dan peranan penting, bahkan dianggap sampah di mata mereka, khususnya yang selalu menjelekkan beberapa pekerja, saking bencinya. Mereka menganggap sama, generalisasi semua PNS, bahwa pekerjaan itu hanya makan gaji buta dan ongkang-ongkang kaki saja.
Tapi kemudian rasa ngilu itu berubah menghangat, terasa seperti lilin yang menyala dan terbakar, ketika saya merenungkan jawaban Adji dan Kiki. Mungkin dengan jalan yang seperti ini saya bisa diarahkan dan bisa membuktikan ucapan masa lalu itu tidak lagi ada. Mungkin dengan cara seperti ini kelak saya bisa mewujudkan mimpi yang pernah saya tuliskan dalam note facebook dan lembar terakhir buku tulis PPKn saya. Mungkin kelak dengan cara ini Alloh akan membimbing saya untuk bisa mendapatkan ridho ibu bapak, agar hidup saya bisa lebih bahagia dengan doa dan kerelaan mereka. Mungkin dengan jalan ini, saya bisa menemukan ladang tempat saya membagi kebahagiaan dan kasih sayang yang kelak saya punya. Ah, jika Kiki dan Adji saja bisa berpikir sesederhana itu demi rasa cinta mereka pada keluarga, kenapa saya tidak? Kita tidak tahu sampai kapan bisa ada di dunia untuk bisa mewujudkan kebahagiaan mereka, bukan? :')
Tapi kemudian rasa ngilu itu berubah menghangat, terasa seperti lilin yang menyala dan terbakar, ketika saya merenungkan jawaban Adji dan Kiki. Mungkin dengan jalan yang seperti ini saya bisa diarahkan dan bisa membuktikan ucapan masa lalu itu tidak lagi ada. Mungkin dengan cara seperti ini kelak saya bisa mewujudkan mimpi yang pernah saya tuliskan dalam note facebook dan lembar terakhir buku tulis PPKn saya. Mungkin kelak dengan cara ini Alloh akan membimbing saya untuk bisa mendapatkan ridho ibu bapak, agar hidup saya bisa lebih bahagia dengan doa dan kerelaan mereka. Mungkin dengan jalan ini, saya bisa menemukan ladang tempat saya membagi kebahagiaan dan kasih sayang yang kelak saya punya. Ah, jika Kiki dan Adji saja bisa berpikir sesederhana itu demi rasa cinta mereka pada keluarga, kenapa saya tidak? Kita tidak tahu sampai kapan bisa ada di dunia untuk bisa mewujudkan kebahagiaan mereka, bukan? :')
Terkadang, ketika penunjuk arah mulai terlihat samar dan bahkan menghilang, kita memang perlu bertanya dan memikirkan dimana jawabannya. Mungkin jawaban itu tidak bisa ditemukan dengan meditasi, tapi justru melalui kejadian sederhana seperti hari ini. Alhamdulillah..
Komentar
Posting Komentar