Refleksi 22


21 tahun udah lewat ya? Kok rasanya masih anak-anak ya? Haha
Kalau tahun lalu aku punya mereka yang dengan kurang ajar datang ke kamar kosan saat hujan, hanya satu jam setelah kami pulang dari kelas malam. Lalu ada kamu, yang siang itu datang membawa bingkisan warna merah. Saat itu aku merasa, wah, mungkin dengan adanya mereka aku akan bisa benar-benar lebih dewasa. Aku tidak akan menghadapi segalanya sendiri lagi. Aku siap menyambut dunia pendewasaan diri!

Tapi baru beberapa bulan berlalu, mereka pergi satu per satu. Apalagi kalau bukan karena skripsi yang bisa membuat kami emosi setiap hari. Tak terkecuali dia juga pergi. Kali ini memang karena salah diri ini, emosi karena bawaan skrispi. Mungkin memang hanya skripsi yang menyita hampir sebagian besar perhatian dan membuat hidup terasa lebih patut disyukuri. Sabar, jeli, tabah, tawakal, kuat menghadapi cercaan, ejekan, sindiran, amukan. Irit, nabung demi bisa membagi uang untuk ngeprint di fotokopian depan kosan dan juga isi perut yang kelaparannya semakin meningkat seiring bertambahnya bab skripsi. Tahan diri, jaga amarah, jaga emosi, jaga hati. Berusaha memahami kalau itu semua hanyalah proses menuju jalan yang lebih baik. Berusaha mengerti oranglain, sekalipun tidak ada orang yang bisa mengerti diri ini. Seems lebay, right? Tapi memang begitulah keadaannya :)

Menjelang pertengahan tahun, menjelang ujian kelulusan, Tuhan memanggil orang-orang tersayang, Pakdhe, dan Eyang. Sudah pasti aku takkan pernah melupakan senyum pengharapan mereka untuk melihatku diwisuda. Memang bukan perkara mudah menghadapi segalanya sendiri, karena aku bukan orang yang bisa begitu saja mengandalkan teman untuk berbagi hati. Tapi mengingat betapa keluarga menopangku sepenuhnya, aku hanya berharap bisa mengabaikan rasa kosong ini sampai waktu yang tidak ditentukan lagi. Kapan lagi aku bisa ada untuk mereka, kalau mereka telah lebih dulu tiada?

Dan di akhir penghabisan satu tahunku (lagi), meski saat ini aku masih merasa seperti anak kecil (lagi); meski sampai detik ini aku belum juga mencerna, apalagi mengerti, apa yang telah terjadi dalam setahun ini; meski aku belum lagi menemukan orang yang bisa diajak berbagi (lagi); meski sampai sekarang aku masih belum (bahkan mendekati tidak tahu) apa yang harus aku lakukan sebagai manusia normal -dalam versi apa yang orang umum anggap normal-. Ya mungkin aku termasuk dalam kategori normal-nya orang biasa. tapi aku juga makhluk langka, diantara orang-orang yang dinormalkan itu. Introvert, BPD, OCD, anti bergaul kalau memang tidak ada yang benar-benar perlu dibicarakan, tidak suka berada di tempat ramai dan penuh banyak orang, bukan tipe orang yang suka menghabiskan waktu dengan shopping, hangout, atau bahkan ngerumpi. Malas. Tidak penting. Aku hanya melakukan apa yang menurutku penting dan itu menyangkut kepentingan orang banyak. Individualism? Jadilah sosok yang bisa kuanggap teman, lalu aku dengan ikhlas akan membiarkanku dimanfaatkan.

Jadi kalau ada kesimpulan yang bisa ku ambil dari perjalanan setahun ini adalah, CARILAH ORANG NORMAL LAINNYA, MAKA KAMU TAKKAN MERASA HAMPA. karena selama kita, sebagai orang normal yang tidak normal ini bersatu, maka paling tidak kita bisa menemukan tujuan hidup. Jadi, misi saya di perjalanan 22 nanti adalah MENCARI ORANG NORMAL YANG TIDAK NORMAL untuk menemani saya menghadapi hari. Sekian refleksi malam penderita insomnia kali ini. Salam gila hahaha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh