Generasi Gadget
Beberapa hari ini saya kembali mendapat panggilan dari sekolah untuk menemani adik-adik belajar dalam rangka persiapan olimpiade. Tidak ada alasan bagi saya untuk menolak permintaan guru saya, karena meskipun saya sudah berkilah sedang menyelesaikan pekerjaan, beliau tetap memaksa. Jadi sekembalinya saya dari urusan kantor dulu, saya langsung mempersiapkan diri untuk ke sekolah.
Menemani anak-anak tujuh angkatan di bawah saya ini bukanlah perkara mudah. Saya yang generasi 'lawas' sedikit tertawa saat mendapati junior-junior ini tidak menyanding buku-buku materi sama sekali ketika belajar dan diskusi, melainkan hanya memegang tab yang di dalamnya berisikan soal-soal yang telah dikirimkan oleh salah satu lembaga pendidikan yang bekerja sama dengan sekolah untuk menyalurkan update soal latihan. Cara penyerapan materi mereka pun unik. Bayangkan saja, di perpustakaan sekolah ini, anak-anak ini ada yang berkeliaran kesana kemari sambil membawa gadget, ada yang membaca buku sambil tiduran di karpet seperti rumah sendiri, ada pula yang serius membaca materi di laptop sambil tengkurap. Tak ketinggalan, ada juga anak yang tangannya sibuk menulis essay sambil mendengarkan musik lewat headset sekaligus menghentak-hentakkan kaki ke meja dan membuat sedikit kegaduhan layaknya anak band. Tapi satu hal yang saya tangkap, mereka semua FOKUS sekalipun tidak ada guru yang mendampingi.
Kondisi ini seketika membawa ingatan saya kembali ke jaman dulu, ketika saya dan teman-teman tim sekolah masih mengandalkan buku-buku dan materi lain dalam bentuk hardcopy, yang bisa dicorat-coret sesuka hati sampai benar-benar mengerti. Saat belajar, kami pun terkesan monoton. Duduk, diberi materi, mengerjakan soal, lalu diskusi. Jika jenuh, kami hanya jalan-jalan ke kantin dan mengobrol dengan anak-anak dari tim lain. Semuanya terkesan serius dan fokus saat ada guru yang mendampingi, tanpa gadget canggih di tangan kami. Jangankan bertanya, untuk mengobrol dengan guru tentang hal diluar pelajaran pun kami rikuh (canggung). Sangat kontras dengan yang saya sanding saat ini, dimana anak-anak ini bertanya ceplas ceplos sesuka hati bahkan membantu temannya menjawab soal yang bukan bidang lombanya (karena kurikulum 2013 terkait lintas jurusan). Bahkan ketika saya bertanya materi manakah yang belum terjawab, mereka hanya nyengir kuda karena sudah mengerti semuanya. Lalu untuk apa saya berada di sini?? Hahaha.
Sepertinya guru-guru di sekolah kami ini belum memahami karakter anak-anak generasi gadget ini, sehingga mau tidak mau beliau-beliau masih memakai 'sistem lama' dengan mendatangkan senior-senior untuk mendampingi dan mengajari mereka. Kocak sungguh, mati gaya. haha.
Melihat junior-junior cerdas ini, mendadak saya termotivasi untuk mencari jalan bagaimana agar kelak saya bisa mengarahkan dan mendidik anak-anak saya untuk semangat membaca dan agar buku-buku yang ibunya kumpulkan sekarang ini bermanfaat untuk perkembangan otak dan imajinasi mereka. Juga agar ibunya bisa mendampingi mereka jadi anak-anak yang cerdas, yang tetap bisa menjadi manusia tanpa ketergantungan gadget. :))
Komentar
Posting Komentar