Sarjana Bukan Dewa


Sebagai lulusan S1 dari jurusan sejuta umat, saya masih mencoba peruntungan agar bisa segera bekerja. Memang, dua bulan yang lalu saya sempat bekerja di sebuah perusahaan distributor tembakau ternama di Indonesia, namun resign karena kesehatan ibu yang tidak bis ditinggalkan. Bagi saya, menjaga orangtua adalah jalan menuju surga, sehingga setelah saya menyelesaikan tanggungjawab saya pada masa training, saya pun menghadap supervisor dan HRD, yang langsung mengizinkan. 

Di sini saya merasa beruntung, pernah mendapat ilmu di sini, sekalipun tidak bisa mendapat surat keterangan kerja karena resign saat masa training sebelum 6 bulan. Dan saya akui, perusahaan ini amat sangat profesional, dari awal saya mengikuti seleksi, dimana tes-tes dan wawancara dilakukan dengan santai, hingga saya ditraining dan resign, semuanya sudah tertata rapi. Dari segi gaji pun sangat menjanjikan, meski jam kerja memang menyesuaikan. Semua karyawan di sana bebas untuk tertawa dan mengobrol, selama pekerjaan bisa terselesaikan hari itu juga. Memang, jika kesan pertama baik, image yang terbentuk pun akan baik, hingga terbawa ke dalam bawah sadar masing-masing karyawan, bahkan hingga sales, yang bekerja dengan bahagia. Sungguh, jika bukan karena kesehatan orangtua, saya ingin bertahan di sana. 

Mencari pekerjaan di kota kecil tempat tinggal saya, bukanlah perkara mudah. Yang tersebar di sini kebanyakan adalah perdagangan, sementara untuk industri paling besar hanya sebatas pabrik rambut, wig atau bulu mata, dan sapu. Hampir semua usaha tersebut hanya mencari lulusan sekolah menengah, Di sisi lain, ayah pun tidak mengizinkan saya untuk latihan berbisnis, pola pikir tradisional, harus kantoran katanya. Hal inilah yang membawa saya pada hari kemarin, dimana saya mendapat informasi dari teman, tentang lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan keluarga milik sahabatnya, yang memiliki usaha bermacam-macam dan berkuasa di kota kecil ini. Sehari setelah saya mengirimkan email, saya mendapat panggilan untuk datang ke bagian pengolah aspal. Meski saya sedikit merasakan kejanggalan, karena proses yang begitu cepat, tapi melihat ibu yang begitu bahagia saat membayangkan anak perempuan satu-satunya ini bisa bekerja di kota sendiri, saya akhirnya datang.

Pertama melihat lokasi yang cukup mblesek atau terpencil untuk diakses, membuat saya tidak nyaman, karena keterbatasan saya yang trauma menggunakan motor sendiri dan lebih nyaman menggunakan kendaraan umum. Suasana awal begitu memasuki ruangan kantornya pun saya merasa aura ketidaknyamanan. Pertama kali saya dipertemukan dengan bapak berbaju biru yang cukup ramah. Beliau bertugas menyiapkan segala berkas yang saya kirim. Karena beliau ramah selama mengobrol, iseng-iseng saya bertanya, sudah berapa orang yang datang wawancara? Beliau hanya tertawa ringan sambil menjawab "baru mbaknya aja, wong yang kirim email juga cuma mbaknya".

Dhuaarr! Ketika perasaan saya bertambah tidak enak, saya dipanggil ke ruangan sebelah untuk bertemu dengan bapak-bapak berbaju putih, yang tanpa basa basi tanpa perkenalan diri, langsung memberikan saya perintah untuk membuat rancangan sistem dan program untuk perusahaan secara keseluruhan, baik keuangan hingga administrasi, agar efisien secara ilmu ekonomi, karena ternyata perusahaan tersebut belum memiliki SOP sama sekali. Lalu bagaimana perusahaan berjalan? apalagi kalau bukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun dari keluarga pemilik, berdasarkan fleksibilitas, tanpa aturan yang jelas. Bahkan untuk urusan gaji, semua disamaratakan baik itu lulusan sekolah menengah atau yang sudah duduk di bangku kuliah, karena tidak ada standar yang pasti. Sampai di sini, seketika pikiran saya melayang pada saat ujian kelulusan pendadaran, 
"Setelah anda dinyatakan lulus dan membawa nama almamater ini, kelak, anda pasti akan bertemu dengan orang-orang, dalam hal ini pengusaha, baik skala kecil maupun sedang, yang masih memiliki pola pikir tradisional, yang menganggap bahwa lulusan S1 harus bisa melakukan segalanya, bahkan ada yang mendewakan dan tidak mau tahu, menyerahkan keputusan perusahaan di tangan anda. Bagaimana anda akan menghadapi orang-orang seperti itu dengan ilmu yang anda miliki?" ---ini sih pendadaran kedua :p
Ya, saya tiba di saat itu, bertemu dengan orang yang menganggap S1 harus bisa melakukan segalanya, apalagi jika nilai yang tercantum di ijasah terlihat baik, termasuk membuat sistem yang belum pernah ada dan harus bisa diwujudkan dalam waktu seminggu, dan mengambil keputusan apapun tanpa harus tergantung konsultasi pada atasan, dalam hal ini pemilik perusahaan keluarga tersebut. 

Kaget memang, ketika kita yang sama sekali tidak tahu bagaimana aktivitas dan kondisi nyata perusahaan, sebagai orang luar, tiba-tiba diperintahkan untuk berlaku demikian. Apalagi sebagai lulusan S1 saya mengakui, ilmu yang kami dapat hanya sebatas teori di kelas, apalagi jika mahasiswa tersebut tidak pernah mengikuti kegiatan pembantu seperti magang. Jangankan kami mantan mahasiswa, dosen senior yang juga bergabung dengan beberapa perusahaan sebagai konsultan, untuk pekerjaan sampingan, tidak ada yang berani merubah suatu tatanan perusahaan, terlebih untuk perusahaan kecil menengah yang berjalan hanya berdasrkan insting bisnis, bukan aturan baku, karena membentuk sebuah sistem itu tidak bisa dilakukan secara instan, tidak seperti yang diminta bapak berbaju putih tersebut. Dibutuhkan pondasi yang kuat agar sistem bisa berjalan berkelanjutan.

Di sini, saya mencoba menguraikan penjelasan maupun ide rancangan kepada bapak berbaju putih tersebut, namun respon yang beliau berikan malah membuat saya berkali-kali menahan diri untuk tidak emosi, karena beliau tidak mau tahu, dan hanya ingin rancangan sistem yang beliau inginkan ada di depan mata saat itu juga. Ketika beliau tidak mendapatkan apa yang diinginkan, beliau langsung mengolok-olok dan menyalahkan saya karena dianggap tidak kompeten jika bekerja di sana, sarjana tapi tidak bisa apa-apa. Mungkin karena tidak saya tanggapi, beliau secara tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan berkata bahwa alasan saya meninggalkan tanggung jawab di perusahaan sebelumnya, hanya karena keluarga itu tidak masuk akal. Okay, sampai di sini saya sudah benar-benar muak dan segera ingin pergi dari ruangan ini, apalagi setelah jeda beberapa menit dalam diam, dan beliau berkata, "nanti saya coba telpon pak kepala dulu, anda mulai kerja di sini kapan, apa besok atau lusa.". Apapula itu setelah saya dihina semena-mena tiba-tiba beliau berkata demikian. Hahaha

Karena memang sudah kehilangan minat, saya sengaja memotong sebelum beliau menyentuh telepon, sambil berkata ingin berdiskusi lagi dengan keluarga. Beliau menatap saya dan bertanya;
Bapak itu :
"untuk apa berdiskusi lagi, anda kan S1, harusnya bisa ambil keputusan sendiri.". 
Tanpa permisi saya pun langsung menjawab,
"mohon maaf pak, keluarga bagi saya adalah segalanya. Saya selalu mendiskusikan apapun keputusan hidup saya dengan keluarga. restu orangtua juga segalanya. Jika bapak keberatan, saya pun bisa keberatan. Di perusahaan sebelumnya saya dihargai hingga kepala 3, walau saya hanya S1 dan pekerjaan saya ecek-ecek sebagai karyawan. Tapi di sini, jika hanya standar UMR, bahkan saya bekerja harus membuat sistem yang bukan keahlian saya dan bukan seharusnya, saya harus berdiskusi dulu dengan keluarga."

Lalu drama siang itu pun berakhir setelah bapak itu terdiam mendengar jawaban saya lalu meminta maaf dan saya langsung pamit undur diri. Well.. dulu saya bisa menjawab drama pertanyaan tersebut secara teoritis, namun pada kenyataan yang asli, saya hanya bisa tertawa sekaligus gemas seperti ini. Betapa sulitnya menjelaskan kalau lulusan S1 juga manusia pelaksana, bukan titisan dewa yang bisa melakukan segalanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh