Film Inside Out dan Konflik Perasaan
Inside Out, dengan tagline "meet the little voice inside your head"-nya, berhasil membuat saya terhibur menuju ke arah bahagia. Yap, film ini membuat saya tersenyum sepanjang pemutaran, karena saya merasa apa yang selama ini saya lakukan dan rasakan bisa terwakili di film ini.
Sebelum film ini ada, saya sudah terbiasa mendengarkan percakapan di dalam otak saya sendiri. Seolah di dalam sana ada sosok mereka-mereka yang mewakili setiap emosi, ada si bahagia, si sedih, si pemarah, si jijik dan menyebalkan, si penakut, dan bahkan si si si yang lain ( sementara di film ini hanya ada 5 jenis gambaran perasaan). Di otak saya, mereka semua sering, bahkan selalu setiap saat terlibat konflik saat akan memutuskan atau melakukan sesuatu. Masing-masing dari perasaan itu selalu punya sudut pandang yang berbeda, sehingga membuat pusat kendali otak saya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan orang lain dalam memutuskan sesuatu, bahkan untuk hal-hal sepele, karena jika tidak dipertimbangkan baik-baik, bisa-bisa salah satu dari perasaan yang ada akan ngambek dan bahkan mati, hingga terjadi ketidakseimbangan otak saya.
Misalnya saja, ada seorang teman yang sudah lama tak bertemu, tiba-tiba yang mengajak saya pergi. Si bahagia akan dengan senang hati mengiyakan karena merasa dianggap ada, namun si penakut justru curiga dan ragu, dan langsung memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi. Si sedih pun beraksi sedih, jika ternyata apa yang dipikirkan si penakut terjadi. Si sedih akan merasa tidak enak dan memikirkan perasaan teman saya jika saya menolak ajakan tadi. Di saat yang bersamaan, si marah pun muncul dengan pikiran negatifnya, kenapa baru sekarang ngajak pergi? kemana aja dulu-dulu? Ngapain sih masih ngladenin ornag yang dateng kalau pas lagi butuh tempat sampah doang? nggak kasihan sama perasaan kamu di sini, hah?. Kurang lebih seperti itu. Haha.
Dan jujur saja, amat sangat berat mengendalikan mereka semua, apalagi saya termasuk golongan ISFJ plus HSP yang benar-benar butuh waktu lebih lama dibandingkan oranglain untuk bisa menata dan mengenali diri saya sendiri. Makanya, saya benar-benar terhibur ketika menonton film Inside Out ini, yang menceritakan tentang perasaan-perasaan yang hidup di dalam diri Riley, gadis kecil yang sedang beradaptasi dengan lingkungannya. Seperti melihat parodi dari konflik mereka-mereka yang hidup di otak saya selama ini dengan tambahan, bagaimana pun sifat yang kita miliki, kita harus bisa menyeimbangkannya. Kita bisa merasa bahagia karena ada sedih, rasa kesal, marah, atau khawatir. Kita tak bisa selamanya memaksakan bahwa kita harus bahagia, bahkan dengan segala kekurangan dan ketidakbahagiaan yang ada. Memaksakan diri untuk jadi bahagia adalah cara yang salah, apalagi untuk HSP seperti saya. Yang bisa dilakukan adalah sebisa mungkin berdamai dengan diri sendiri. But how? Mungkin posting selanjutnya cerita tentang HSP aja kali ya..hihi
(Film ini recomended buat yang suka film fantasi ringan btw).
(Film ini recomended buat yang suka film fantasi ringan btw).

Komentar
Posting Komentar