Infus dan Melawan Kasihan
Tulisan ini hadir untuk memeringati moment pertama kalinya seumur hidup saya menyicipi yang namanya infus. Sensasi pegel dan nyeri setelah obatnya bereaksi, itu waaarrbiyasak! Tapi karena ini pengalaman pertama, saya nekat melihat bagaimana proses jarum infus masuk ke vena. Rupanya entah tangan saya yang kebal atau bebal, berkali-kali mencoba ditusukkan, jarum tetap tak bisa masuk. Pun ketika masuk, baru mau diplester sudah merembes bocor dan membuat kedua punggung tangan saya bengkak. Meski begitu mbak-mbak perawat tak menyerah begitu saja. Mereka berbagi tugas, ada yang dengan semangat ngetok-ngetok tulang saya sambil merasakan kalau ada denyut, ada yang semangat membolak-balikkan dan menyusuri tangan semacam mencari jejak, ada pula mbak perawat yang kebagian ngelapin keringat di telapak dan punggung tangan yang bengkak tadi. Nggak ada yang menyerah buat memasukkan obat ke tubuh ini meski saya sudah mengerang kesakitan berkali-kali.
Lucu, dan tidak nyaman, setelah hampir dua minggu menjadi pusat perhatian. Saya yang memang selalu berusaha menghindari keramaian kini diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan penasaran orang-orang yang datang menjenguk, atau yang hanya bertanya via chat. Tidak enak, rikuh, tentu jadi alasan utama, karena saya juga pasti sebal jika saya bertanya tapi oranglain tak meresponnya, begitu seterusnya hingga saya beberapa orang yang mengenal saya menyebut saya 'gampangan buat kasihan'. Haha. Entah sampai kapan saya akan bisa tega meninggalkan lingkaran 'nggak enak' ke oranglain.
Dan rupanya tepat dua minggu ini pula saya tidak mendapatkan lagi perhatian yang saya (pernah) harapkan datang. Ternyata tidak seburuk yang pernah saya bayangkan. Tenang, santai, tetap berjalan perlahan sambil pegangan. Lewat infus ini harusnya saya mengambil pelajaran, bahwa rasa kasihan tidak akan menyembuhkan apa-apa. Rasa kasihan hanya akan membawa pada rasa sakit dan tidak tega berikutnya. Nggak akan merdeka dari rasa sakit pokoknya. Sesekali rasa sakit harus dilawan, kalau tidak bisa sendiri ya panggilah bantuan, seperti perjuangan mbak-mbak dan mas perawat yang membantu saya memakan obat, meski lewat selang infus yang rasanya sakit setengah mamfus..
Komentar
Posting Komentar