Nostalgia Bocah


*Mantan macam apa yang nggak tahu rumah mantannya*
Jujur saja kalimat pendek penuh makna itu langsung terngiang di otak saya sejak pertama kali membacanya. Seketika ingatan saya kembali ke masa SMA dulu dimana saya sedang merasa jaya-jayanya dan punya segalanya. Bocah, walau sekarang masih tetap bocah, tapi bocah yang dulu berbeda. Pertama kalinya saya dekat dengan seorang lalu memiliki 'status' yang kebanyakan orang sebut pacar. Dulu, saya tak pernah menganggap itu pacaran karena memang saya dan adek kelas itu hampir tidak pernah jalan bareng atau melakukan aktivitas bersama, paling jauh hanya mengobrol di depan ruang uks dan osis tempat dimana kami sering bertemu, atau di perpustakaan, ketika tanpa sengaja kami sedang ditugaskan mengambil buku untuk pelajaran di kelas.

Pembicaraan kami pun tak pernah menjurus seperti orang kebanyakan. Paling banter hanya membahas kegiatan anak-anak organisasi atau obrolan kurang penting lainnya, haha. Pernah saya nangis dan curhat ke dia karena nilai rapor saya turun di beberapa mapel, dan itu cukup membuat saya cemas karena syarat pmdk adalah nilai harus stabil, hihi. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun kemarin, saya cukup terkejut karena dia masih mengingat detail peristiwa saya nangis itu dan malah dijadikan salah satu bagian cerita detektif yang ia tulis dengan nama khayalan tentunya. :)))

Saya nyaman dan senang ketika dia selalu memberi perhatian ketika bertemu *karena saat itu hp dia sering error jadi tiap mau ketemu harus nitip pesen lewat teman-teman kami haha*, terlalu nyaman malah hingga menimbulkan ketidaknyamanan karena saya merasa saya tidak berhak mendapat perlakuan istimewa dari siapapun. dan ketika ibu saya mendapati anaknya sedang dekat dengan seorang, insting pelindungnya menyuruh saya untuk segera mengakhiri kedekatan itu tanpa alasan yang bisa diterima. Awalnya saya juga agak frustasi dan bingung bagaimana mengatakannya. Sampai akhirnya suatu hari saya berani menyampaikan apa yang ibu minta, dengan sedikit berbohong kalau itu ide saya. Menyakitkan memang, nggak mengatakan sejujurnya kalau itu disuruh ibu. Sampai dua tahun saya masih belum bisa menerima 'kenapa', tapi di tahun-tahun pertama kuliah perlahan saya mulai sedikit mendapat pencerahan tentang arti perasaan sebenarnya, tentang kebenaran pesan ibu yang minta saya putus dan tidak main pacaran lagi dengan siapapun. Boleh dekat, tapi jangan sampai menyandang status mainan seperti itu. Pada akhirnya setelah hampir 5 tahun akhirnya kami bisa berdamai dan saling menerima masa lalu dulu. Dia sudah sukses dengan kehidupannya, dan saya sudah bisa memaafkan diri saya sendiri yang pernah menyakitinya dulu dengan kalimat minta putus. 

Lucu memang, masa lalu yang dulu terasa aneh dan menyakitkan, sekarang terlihat seperti "ih kok bisa ya aku dulu begitu?". Di sinilah saya merasa saya sudah bahagia melepaskan bocah masa lalu yang selama ini tinggal di dalam tubuh saya. Saya sudah berhasil berdamai dengannya. Keisengan bocah yang membawa saya pada satu-satunya status 'pacaran' dulu, selalu membawa nostalgia tawa. Jadi ketika suatu hari dia berkata 'mantan macam apa yang nggak tau rumah mantannya', maka dalam hati saya berkata 'mantan mainan keisengan bocah', karena saat ini saya menyadari betul, dulu itu nggak pantas disebut pacaran, dulu itu kami lebih seperti bocah yang tengah asyik bermain dengan mainan kesayangannya yang sangat menarik dan tidak ingin dilepas. Jadi saya tak pernah menganggapnya mantan, karena status yang dulu disandang adalah hasil pemikiran bocah yang bahkan belum matang secara akal diantara kami. Karena pacaran yang sebenarnya pantas disebut pacaran ya saat udah nikah kelak, sama pasangan halal masing-masing. Ah... bahagianya bisa menertawakan diri sendiri di masa lalu. :)))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh