MARKETING, dibenci dan dicari

Dua kali terdampar di perusahaan yang bergerak di bidang distribusi produk membuat mata pengamatan saya semakin terasa sensitif. Terdampar? ya..karna saya tidak pernah berminat dan berniat untuk berkecimpung di dunia yang saya benar-benar hindari terkait pekerjaan lapangan/marketing.

Ada satu hal yang menarik yang saya temui di kedua perusahaan ini. Persekutuan dua kubu, antara atasan-bawahan, serta bawahan (admin) dengan bawahannya lagi yaitu para sales force ataupun sales agent (re:SPG/SPB). Para petinggi setingkat manager terkadang suka bertindak semena-mena dengan membreakdown perintah pusat kepada bawahan, untuk dilakukan secepat dan setepat mungkin, nggak mau tahu bagaimana prosesnya. Di sisi lain, admin juga punya tanggung jawab terhadap apa yang ada di tangannya, tenaga sales. Mereka dituntut harus bisa mengakomodir kebutuhan sales demi kelangsungan penjualan. Adanya tekanan dari sana sini membuat admin sering stres nampaknya, hahaha. Di satu sisi, tenaga sales yang seharusnya jadi asset perusahaan kena imbasnya akibat kelelahan admin dan malah mendapat perlakuan sebagai orang dengan tingkatan paling bawah dari yang tebawah. 

Seringkali saya mendengar curhatan admin lain tentang ketidaksukaannya pada salesman/girl yang dikatakan manja, minta ini itu, dll, lalu meminta saya untuk memperingatkan mereka terus agar tidak manja. Sering pula saat sedang senggang ada sales yang tiba-tiba mengeluh karena telah dibentak-bentak admin lain (selaku admin marketing, saya jarang membentak, kecuali jika sales telat report dan retur barang dan ada barang yang dipinjam tapi hilang,haha). Mendapat garis besar opini dari dua sumber yang berbeda membuat saya seperti berada di pihak fasilitator atau pendamai di tengah kubu. Masalah yang sebenarnya sederhana, berubah menjadi rasa sengit yang amat hanya karena mereka tak pernah mau tahu apa yang pihak lain inginkan. Saya sebagai admin yang berada dalam satu tim bersama teman-teman sales, melihat sendiri bagaimana beratnya tuntutan seorang sales di lapangan. Saya pun turut kerepotan pada awalnya ketika harus 'melayani' permintaan sales yang minta serba cepat. Tapi kemudian saya berinisiatif membuka pintu obrolan, saya floorkan semuanya, bahwa saya memang harus pelan-pelan, bahwa kalau mau kerja dengan saya harus sejelas mungkin dan jujur, kalau mau kerja bareng saya akan sangat senang sekali kalau teman-teman juga membantu membimbing saya agar bisa tahu kondisi produk di pasaran, bagaimana agar masalah penjualan piutang bisa dipecahkan bersama, dll. Awalnya saya masih grogi dan gentar, namun lambat laun  teman-teman sales pun mulai bisa menaruh kepercayaan pada saya, dan pada akhirnya saat ini saya bisa melayani mereka, dengan mereka yang sudah bisa 'jinak' untuk diajak kerja sama juga, alhamdulillah..

Yah..lagi-lagi komunikasi. Admin lain memang tak pernah punya waktu untuk mengobrol dengan salesman/girl. Jangankan mengobrol, saat menerima setoran pun kebanyakan dari admin-admin tersebut sama sekali tidak ada yang memandang wajah tenaga sales tersebut. Saya teringat nasehat dari senior di kantor distributor sebelumnya ketika saya masih jadi admin gudang dan kasir, 
"Tenaga sales pulang keliling harus balik kantor lagi setor dan retur dalam kondisi capek. mereka menuntut prosesnya agar cepat ya wajar. Tapi mereka juga manusia sosial din, mereka asset perusahaan yang harus dicari dan dipertahankan, kalau kamu menghadapi mereka dengan ramah, senyum, dan kalau bisa ngajak ngobrol itu poin plus. Mereka curhat ya tanggapi saja dengan sok antusias, kalau kamu nggak bisa mengurangi kekesalan mereka, paling tidak kamu nggak menambah kesalnya mereka. Mereka akan menangkap kamu sebagai orang yang peduli dan menghargai pekerjaan mereka."
Jadi daripada dibenci kubu admin jika pada saatnya saya dianggap 'berkomplot' dan membela tenaga sales, atau dibenci kubu tenaga sales karena dianggap membela kubu admin, lebih baik saya tetap di tengah lautan kah? :)))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh