Renungan Tes Psikologi
"Mbak, kamu ini cepat bosan ya?"
Sebelum ibu psikolog bertanya demikian, tak pernah terlintas sedikitpun keinginan untuk berpikir tentang hal ini. Bosenan, satu kata yang selama ini entah sengaja atau tidak, selalu dianggap lalu dan dikesampingkan, tak pernah mendapat perhatian otak. Padahal sudah sering, sangat sering saya merasakannya.
Saat bekerja, saat melakukan suatu hal, saya mudah bosan, nggak bisa diam.
Baru sebentar, sudah ingin melakukan hal lain, selalu ingin kejutan yang lain.
Baru seminggu ganti tata ruang, ingin segera melihat segala sesuatunya berubah lagi.
mungkin inilah yang menjadikan hasil tes saya jauh di bawah teman-teman lain yang bisa fokus dalam waktu lama. Bukan berarti saya tidak bisa fokus, bisa. Saya bisa fokus, dan beruntunglah hal yang mendapat perhatian saya di awal, pasti akan selalu menjadi perhatian saya sampai akhir, walau pada proses tengahnya saya terkadang bosan, haha.
Jujur saja, saya ingin menertawai hasil tes yang tak sengaja terlihat di meja ibu psikolog. Grafik yang menunjukkan kekurangfokusan saya mengerjakannya nampak jelas, hasil semangat sangat terlihat di 5 baris pertama, lalu menurun drastis di baris selanjutnya, naik lagi, hingga di garis akhir performa saya kembali naik di puncak. Apa ini akibat kebiasaan, seringnya saya mengerjakan tugas jaman kuliah dengan sistem kebut semalam, alias baru bisa fokus mengerjakan kalau sudah mendekati deadline? Entahlah.. Hahaha.
Dari sini saya mulai bertanya-tanya,
is this the real me? apakah ini sifat sementara atau benar-benar sifat asli, yang selama ini tertutupi oleh 'introvert' saya? atau jangan-jangan saya ini sama sekali bukan introvert, dan jangan-jangan introvert hanyalah kepalsuan yang saya jadikan tameng untuk melindungi diri saya dari lingkungan yang sejak kecil (membentuk) menganggap saya ini pemalu, pendiam, dan minderan?
Kalau memang benar ini introvert hanyalah tameng, maka dia adalah tameng yang sangat tebal dan kuat yang sudah terbentuk seiring perjalanan saya dari kecil hingga sekarang ini. tameng yang selalu menggiring jawaban tes-tes psikologi saya menuju kesimpulan bahwa saya introvert. tameng yang selalu membuat saya aman, dengan berpikir 'oh, dia introvert, wajarlah dia berbeda'.
Lalu, jika benar ini tameng, dan ternyata sifat meledak-ledak ini adalah sifat asli yang seharusnya dikembangkan sejak kecil, bukannya ditutupi tanpa bimbingan, maka bisalah saya menerima, kalau saya memang pribadi yang mudah jenuh dengan fase meledak di awal - jenuh - medium - perlahan meningkat dan meledak di akhir. Dan bisa diterima juga, jika selama ini fenomena tersebut terjadi dalam hubungan dengan manusia, lawan jenis misalnya.
Dari dulu, saya entah bagaimana selalu diberi kesempatan untuk bisa melihat sisi unik seorang manusia. Saya bisa menemukan keunikan mereka, yang membuat saya tertarik, entah keusilan ngumpetin sepatu pas ditinggal sholat, ngumpetin tas pas ditinggal olahraga, hobi nginjek sepatu saat berdiri di dekatnya, cita-cita yang sama, wawasan yang luas dan pemikiran yang sealiran, misalnya, berhasil membuat saya mendekat pada mereka, yang entah bagaimana pula, mungkin mereka juga bisa melihat ke-excited-an saya pada mereka, hingga mereka mau mendekati saya. Itu fase awal, ketertarikan yang tinggi, meledak di awal karena kejutan selalu datang. Saya bisa memberi kejutan jika diberi kejutan.
Namun, ketika saya yang aslinya selalu ingin 'kejutan', tiba di fase dimana kejutan-kejutan itu perlahan mulai habis dan menjadi hal yang bersifat rutin atau biasa saja, saya mulai kehilangan ketertarikan. Orang yang tadinya menganggap saya menarik karena selalu memberi kejutan dan warna lain yang berbeda setiap harinya, perlahan menarik diri, setelah saya mulai menuju ke arah rutinitas kebosanan. Dampaknya, saya pun merasa jenuh yang berlipat karena tidak lagi mendapat kejutan yang saya harap 'layak' untuk saya terima. Ketika saya mulai menuntut, sayalah yang disalahkan karena dianggap terlalu banyak minta. dianggap tak bisa menerima. Lalu ketika saya diam saja, mereka menganggap saya tak lagi punya cinta.
Ah, tapi kalau dipikir lagi manusia memang seperti itu kan umumnya?
Walau dulu saya berpikir, hidup ya enak yang diatur, yang teratur, yang lurus-lurus saja, nggak usah neko-neko. Tapi entah bagaimana sekarang malah saya berpikir kelak saya harus bisa mendobrak pintu penutup itu dan mengambil alih kendali pikiran saya sendiri agar tidak lagi didikte oleh sugesti hasil didikan masa kecil.
Ya, tidak perlu neko-neko memang. Tapi bukankah kejutan itu menyenangkan?
But wait, kalau kamu merasa kejutan itu menyenangkan, bukankah seharusnya kamu juga perlu sedikit bersabar untuk menunggu kejutan jodoh dari Tuhan? siapa tahu Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang sealiran denganmu, yang selalu ingin memberi dan diberi kejutan. yang kelak akan membuat hidupmu menyenangkan dan bisa membuatmu lebih tenang memberikan segala sesuatunya untuk diberikan pada yang lebih membutuhkan?
Dari sini saya mulai bertanya-tanya,
is this the real me? apakah ini sifat sementara atau benar-benar sifat asli, yang selama ini tertutupi oleh 'introvert' saya? atau jangan-jangan saya ini sama sekali bukan introvert, dan jangan-jangan introvert hanyalah kepalsuan yang saya jadikan tameng untuk melindungi diri saya dari lingkungan yang sejak kecil (membentuk) menganggap saya ini pemalu, pendiam, dan minderan?
Kalau memang benar ini introvert hanyalah tameng, maka dia adalah tameng yang sangat tebal dan kuat yang sudah terbentuk seiring perjalanan saya dari kecil hingga sekarang ini. tameng yang selalu menggiring jawaban tes-tes psikologi saya menuju kesimpulan bahwa saya introvert. tameng yang selalu membuat saya aman, dengan berpikir 'oh, dia introvert, wajarlah dia berbeda'.
Lalu, jika benar ini tameng, dan ternyata sifat meledak-ledak ini adalah sifat asli yang seharusnya dikembangkan sejak kecil, bukannya ditutupi tanpa bimbingan, maka bisalah saya menerima, kalau saya memang pribadi yang mudah jenuh dengan fase meledak di awal - jenuh - medium - perlahan meningkat dan meledak di akhir. Dan bisa diterima juga, jika selama ini fenomena tersebut terjadi dalam hubungan dengan manusia, lawan jenis misalnya.
Dari dulu, saya entah bagaimana selalu diberi kesempatan untuk bisa melihat sisi unik seorang manusia. Saya bisa menemukan keunikan mereka, yang membuat saya tertarik, entah keusilan ngumpetin sepatu pas ditinggal sholat, ngumpetin tas pas ditinggal olahraga, hobi nginjek sepatu saat berdiri di dekatnya, cita-cita yang sama, wawasan yang luas dan pemikiran yang sealiran, misalnya, berhasil membuat saya mendekat pada mereka, yang entah bagaimana pula, mungkin mereka juga bisa melihat ke-excited-an saya pada mereka, hingga mereka mau mendekati saya. Itu fase awal, ketertarikan yang tinggi, meledak di awal karena kejutan selalu datang. Saya bisa memberi kejutan jika diberi kejutan.
Namun, ketika saya yang aslinya selalu ingin 'kejutan', tiba di fase dimana kejutan-kejutan itu perlahan mulai habis dan menjadi hal yang bersifat rutin atau biasa saja, saya mulai kehilangan ketertarikan. Orang yang tadinya menganggap saya menarik karena selalu memberi kejutan dan warna lain yang berbeda setiap harinya, perlahan menarik diri, setelah saya mulai menuju ke arah rutinitas kebosanan. Dampaknya, saya pun merasa jenuh yang berlipat karena tidak lagi mendapat kejutan yang saya harap 'layak' untuk saya terima. Ketika saya mulai menuntut, sayalah yang disalahkan karena dianggap terlalu banyak minta. dianggap tak bisa menerima. Lalu ketika saya diam saja, mereka menganggap saya tak lagi punya cinta.
Ah, tapi kalau dipikir lagi manusia memang seperti itu kan umumnya?
Walau dulu saya berpikir, hidup ya enak yang diatur, yang teratur, yang lurus-lurus saja, nggak usah neko-neko. Tapi entah bagaimana sekarang malah saya berpikir kelak saya harus bisa mendobrak pintu penutup itu dan mengambil alih kendali pikiran saya sendiri agar tidak lagi didikte oleh sugesti hasil didikan masa kecil.
Ya, tidak perlu neko-neko memang. Tapi bukankah kejutan itu menyenangkan?
But wait, kalau kamu merasa kejutan itu menyenangkan, bukankah seharusnya kamu juga perlu sedikit bersabar untuk menunggu kejutan jodoh dari Tuhan? siapa tahu Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang sealiran denganmu, yang selalu ingin memberi dan diberi kejutan. yang kelak akan membuat hidupmu menyenangkan dan bisa membuatmu lebih tenang memberikan segala sesuatunya untuk diberikan pada yang lebih membutuhkan?

Komentar
Posting Komentar