Dear Past Story, I'm sorry!




Pernah dengar Bening Septaria? Ya, itu dia bocah kedua dari kiri, sebelah bocah gembul di pinggir yang tidak lain adalah saya saat masih khilaf. Penyanyi yang sedang gencar meniti karir itu adalah adik kelas saya semasa SD, terpaut satu tahun. Dulu hobi kami sama. Sifat kami pun mirip. Prestasi kami bisa dibilang 11:12 kala itu. Kami sering diikutkan lomba-lomba yang bisa mengangkat nama baik sekolah, terlebih jika ada lomba yang mengandung unsur seni, menyanyi, musik, geguritan, puisi, hingga tari. Hasilnya tidak buruk, juara 1-2 terkadang kami raih bersama, berkat bimbingan Pak Suheri, wali kelasku, yang juga pecinta seni, dan dukungan orangtua, bapaknya Bening, juga ibuku, yang memang memiliki darah seni. Dulu kami sering dilatih menyanyi privat oleh Pak Heri, di waktu istirahat, atau sepulang sekolah di ruang perpus SD yang sempit, atau di pendopo kecamatan, di depan kantor dinas bapak. Kami senang, karna hobi bisa tersalurkan.

Namun, diantara banyaknya kesamaan, Pak Heri dengan kepekaan seninya mampu menangkap perbedaan yang menyolok diantara kami. Bening, memiliki vocal yang cenderung bulat dan mampu mengeluarkan suara utuh namun tidak bisa maksimal di nada tinggi, tapi tetap bisa dipoles hingga bisa memunculkan semuanya secara sempurna. Sementara saya, dikatakan memiliki suara tinggi dan melengking, namun punya kelemahan di suara rendah. Pertama mendengarnya, saya langsung patah semangat dan sukses melewatkan beberapa kesempatan yang mungkin bisa mengasah kemampuan saya dulu, sementara Bening tetap melaju hingga kini terwujud jadi artist. Saya pun artist, dalam rekaman hp sendiri, hahaha..

Yang sebenarnya ingin saya tulis adalah, tentang 'kebiasaan' patah semangat yang sering saya lakukan hanya karena mendengar pendapat oranglain. Mungkin memang kebiasaan dari kecil yang penuh tekanan dan terbiasa 'harus selalu manut', sehingga apapun yang dikatakan orang selalu saya dengarkan dan masukkan ke hati juga pikiran. Seperti halnya saat kuliah, saya 'pernah' cinta akuntansi. Begitu cintanya sampai saat SMA saya bisa mengikuti lomba-lomba yang bisa membawa piala untuk sekolah, sekalipun saya belajar akuntansi dari nol karena bodo banget dulu. Dan momentum menyerah itu mulai saya rasakan saat kelas 3. Tradisi di sekolah adalah, siapapun yang bisa menyumbang piala untuk sekolah, nilai bakal ditanggung. Alhasil nilai rapor saya kelas 2 hingga kelas 3 selalu terlihat cantik dan menggemaskan. Aman pakai banget buat daftar PMDK yang hanya setor nilai rapor ciamik, maka kamu akan langsung diterima. 

Hingga datanglah momentum Ujian Nasional, dimana guru IPS menjagokan saya untuk bisa dapat nilai sempurna di pelajaran ekonomi-akuntansi, karena mereka pikir saya sudah ngelotok banget, namun pada akhirnya malah hasilnya sangat mengecewakan bagi saya, yang menargetkan dapat nilai minimal 9, hanya dapat 82. Kecewa berat jelas. Ditambah saya mulai mendengar suara-suara dengungan yang menyebutkan nama saya 'sing lomba be mung entuk 82...'. Akhirnya saya merasa dikhianati oleh ekonomi-akuntansi, ngambek, lalu tanpa sadar kembali 'melewatkan kesempatan mengembangkan diri' selama pembelajaran di kampus. Yang membuat saya bertahan di kampus hingga bisa bertelur dengan IPK di atas normal hanya satu, kasihan bapak ibu yang sudah membayar SPP dan mengharapkan saya jadi anak pinter. Hasilnya, saya malah jadi anti-akuntansi hari ini. Hahaha.. 

Saya tidak menyesalinyaa... Justru bersyukur, karena kalau tidak melalui fase itu, mungkin saya tidak akan bisa mengambil hikmahnya, buat pelajaran agar semakin mawas diri dan tidak tergesa-gesa untuk 'ngambek' lalu melewatkan banyak kesempatan lagi. Nggak pengen lagi deh apalagi kalau sudah menyangkut masa depan di umur segini, huhuuu... Semoga masih terus ada kesempatan memperbaiki diri dari yang sudah terlewatkan itu, aamiin..aamiin..aamiin..yaa rabb...


Komentar

  1. Welok tenan, nilai ujian matematikaku juga mbiyen 8, hahaha.. di guyu kanca kancaku.

    Suwun wes mengingatkan..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh