Kalau Kata Pak Kyai..


Bismillahirrahmanirrahim, 

Sepekan ini berita di televisi dan media sosial tidak jauh-jauh menyoroti Raja Salman dari Saudi, yang kedatangannya bagaikan 'oase adem' bagi sejumlah umat muslim di Indonesia di tengah maraknya kasus penistaan agama yang tak terlihat ujungnya. Berbondong-bondong rakyat menyambut raja dari dipinggir jalan kehujanan sampai mengejar foto selfie.

Awalnya saya sedikit lega, paling tidak pikiran orang Indonesia bisa dengan mudah dialihkan dan diredakan dengan berita seperti ini. Rupanya saya salah. Kedatangan raja Salman ternyata (diikuti) bersamaan dengan pemberitaan datangnya beberapa penceramah dari luar ke Indonesia seperti Dr. Zakir Naik, sampai kunjungan seorang penceramah di suatu daerah yang tiba-tiba diusir karena isi ceramahnya dianggap berbeda, dan bisa merusak akidah juga NKRI dan memecah belah umat, malah semakin ramai (hipotesis darimanaaa cobak..)

Berbicara tentang perbedaan, 
saya teringat dulu pernah beberapa kali mengobrol dengan kawan yang sudah nyantri dari kecil. Sebagai orang awam, yang bodo, dan lemah pemikiran, suatu hari saya pernah ditanya oleh dia, kala itu kami masih SMA, 
"coba yas, kamu tau ndak, sampai saat ini islam diaku-aku oleh 2 golongan, apa saja?"
tanpa pikir panjang, saat itu dengan percaya dirinya saya menjawab, tentu saja NU dan Muhammadiyah lah mas, (anak kecil juga tahu). Mendengar jawaban sok saya, kontan saja suara di seberang sana tertawa terbahak. Satu jam obrolan berikutnya, saya baru tahu bahwa 2 golongan yang dimaksud adalah Syiah dan Sunni. NU dan Muhammadiyah yg dulu (sampai sekarang sering konflik karena oknum tertentu), adalah ormas, bukan apa-apa karena masih saudara dan pendahulunya, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari sama-sama pernah nyantri pada guru yang sama, yakni kyai Shaleh. Aslinya ya mereka akur dan punya 1 tujuan mengislamkan masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Yang bikin konflik itu ya golongan berkepentingan yang membawa nama kedua ormas tersebut. 

Dulu pernah juga mengobrol dengan seorang kyai 'nyentrik' di Serayu, beliau pernah membahas tentang perbedaan keyakinan 'tahlilan' dan beberapa hal basic lain antara NU dan Muhammadiyah yang saya rekam di handphone saya.
"Kalau hanya karena perbedaan eyang dua itu berantem, nggak bakal ada islam kita sekarang. Ulahnya orang yang punya kepentingan saja yang pintar memanfaatkan nama dua ormas besar ini. Gampangnya kan kembali ke kita masing-masing. Dasarnya kita memang harus kembali ke Al Quran dan Hadist. Tapi kita juga harus jeli, jangan dengan mudah menjudge dan menyinggung perasaan dengan mengatakan oranglain bid'ah, ini itu. Bid'ah itu luas maknanya. dan kita harus tahu, orang Indonesia itu sensitif dengan kata itu dan sulit menerima perubahan. Jadi tirulah kedua eyang kita itu, beliau beliau mampu menjaga islam di lingkungan yang berbeda dengan damai.
Kalau dalam acara 'tahlilan' kita niatkan untuk ajang silaturahim, atau bahkan diisi dengan pengajian, atau saling meminta maaf dan mengingat kematian, bukan dengan tujuan menyekutukan Allah, ya nggak masalah. Kita kan tidak tahu juga, apakah bapak-bapak yang hadir itu sehari-harinya ngaji? siapa tahu mereka membuka al quran hanya saat ada acara tahlilan itu. Jangan persempit arti tahlilan hanya acara 'baca yasin-makan-pulang'. Yen kowe yakin kalau mendoakan mayit tidak diterima? Yasudah tinggalkan. 
Kalau kita mendapati orang-orang yang ziarah kuburan niatnya raup berkah dari si mayit, mungkin mereka belum tau kalau niat seperti itu sama dengan syirik. Rangkullah mereka, dengan bahasa yang halus dan sesuaikan dengan karakter mereka, tanamkan dalam pikiran mereka ziarah itu untuk mengingat kematian, mengingat perjuangan dan kisah hidup yang telah almarhum jalani, teladani kebaikannya dan hikmahnya, dan berdoa (selain di kuburan) agar kebaikan tersebut bisa kita ikuti supaya kita bisa mendapat berkah Allah. Dan kalau ada yang tidak setuju atau di lingkungannya tidak demikian, ya tinggalkan, mungkin bisa mengingatkan, tapi pelan-pelan. 
Kalau ada tetangga non muslim hajatan, atau tetangga nonmuslim kita meninggal,dan kita tidak datang dengan alasan 'dia kafir' dan malah menghujat yang datang, itu ya lucu. Wong islam itu rahmatan lil alamin, Islam aja mengajarkan utk berbuat baik dengan tetangga, apa susahnya kita datang, ucapkan senang/turut berbela sungkawa atau memberi semangat pada anak-anak kecil yang ditinggalkan. Terus pamit pulang, nggak perlu mengikuti acara makan, atau prosesi pemakaman atau upacaranya, kan selesai. Tetangga merasa teranyomi, kitanya nggak perlu menjadi bagian agama lain juga kan? 
Kalau ada orang yang melakukan acara syukuran 4 bulanan atau 7 bulanan kehamilan, jangan langsung menolak dan menjudge 'haram', atau kowe bakal dibenci tetanggamu seumur hidup. Datangi dan ucapkanlah doa dan perkataan yang baik untuk kehamilan si ibu dan anak, seperti yang dilakukan nabi Ishaq 'Alaihi Salam, pada kandungan istrinya yang saat itu belum diketahui ternyata berisi anak kembar, Nabi Yaqub 'Alaihi Salam dan saudaranya Ishu (kemudian pak kyai bercerita tentang pertengkaran yang terjadi diantara keduanya hingga dewasa, diawali karena yang didoakan terlebih dahulu itu Nabi Yaqub, lantas Ishu dengan mudahnya diganggu setan untuk iri). Mendoakan kebaikan itu ibadah, yang tidak boleh adalah jika dibumbui dengan alasan tolak bala, buang sial, dll yang menyekutukan dan meremehkan kekuatan Allah. Kalau ada yang mengundang dengan ritual tertentu? Ya datang niatkan mendoakan, tapi nggak usah mengikuti jalannya ritual. 
Tidak semua orang Indonesia, apalagi orang jawa kayak kita, mau menerima 'penghakiman' langsung apalagi dari orang yang dianggap 'sepantaran'. Pandai-pandailah menjaga diri, terutama lisan. Kalau belum mampu mengubah, ya cukup jaga tingkah. Kalau nggak cocok ya tinggalkan. Jangan kita berniat mengubah apa yg sudah mendarah daging di masyarakat tanpa bekal ilmu. Esensi dakwah ya di situ, merangkul, bukan menggurui. Kalau tidak suka dengan keadaan, jangan menjauh, rangkul mereka agar lebih paham, bukan langsung mencemooh apalagi nyinyir seperti kebanyakan orang bodo di jaman sekarang kaya kita ini ya, PPKN, Pada-Pada Kakehan Nyangkem. Hahaha.."
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh