Review Novel: Cantik Itu Luka


Image result for cantik itu lukaWarning: 17+
Judul   : Cantik Itu Luka

Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka UtamaTebal Buku : 479 Halaman
ISBN : 978-602-03-1258-3



Ketika pada suatu sore di akhir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematiannya”.

Sudah sejak lama saya ingin menulis review tentang novel dengan cover horor ini. Ya, tidak bisa dipungkiri, saya membeli buku ini karena tidak sengaja. Setelah keliling rak tidak menemukan buku yang cocok, mata saya tiba-tiba tertarik dengan tatapan wanita berkebaya (?) di cover buku ini seolah berkata bawa aku pulang...kamu tidak akan kecewa:ngakaksSebenarnya banyak orang yang sudah me-review novel ini. Ada yang menyoroti gaya bahasa penulis yang mengikuti jejak pakdhe Pramoedya Ananta Toer, ada yang berfokus (lebih tepatnya protes) pada kehidupan si Cantik yang hanya diceritakan seklumit, ada pula yang menonjolkan kehidupan gelap Dewi Ayu, bahwa ia 'terpaksa' menjadi pelacur karena keadaan. Well... Saya malah tertarik dengan "lorong waktu" yang diciptakan penulis.

Kisah diawali dengan peristiwa bangkitnya seorang (mantan) pelacur berkelas blasteran Belanda-Hindia (Indonesia kala itu), Dewi Ayu, dari kubur untuk membalas dendam dan menemui anak bungsunya. Perjalanan kilas balik dimulai dengan pengenalan kehidupan Dewi Ayu, yang merupakan anak hasil hubungan incest satu bapak beda ibu. Kakeknya, Ted Stammmler yang menikah dengan Oma Marietje dan beranak Henri Stammler, rupanya juga memiliki anak perempuan yang diberi nama Anneu Stammler, dari budak napsunya, Ma Iyang, yang saat itu sudah punya kekasih bernama Ma Gedik. Henri dan Anneu remaja saling jatuh cinta dan akhirnya kabur setelah melahirkan Dewi Ayu. Belakangan, Dewi Ayu remaja yang sedang mekar-mekarnya malah jatuh cinta pada Ma Gendik yang secara keturunan tidak lain kakeknya. Sampai di sini saja kita bisa bayangkan bagaimana asyiknya jalan cerita buku ini. :bettys

Ketika masa pendudukan Belanda mulai surut dan pasukan Jepang mulai memasuki pelosok Halimunda, banyak yang memilih kembali ke negerinya. Tersisalah Dewi Ayu, wanita kulit putih yang ditangkap pasukan Jepang dan diungsikan ke penjara khusus hingga angin nasib membawa Dewi Ayu untuk menjadi pelayan nafsu para prajurit. Pertemuannya dengan Mama Kalong menjadikannya Jugun Ianfu yang pada akhirnya melahirkan tiga dara cantik yang tidak jelas bapaknya, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Lantas apakah kecantikan ketiganya membawa keberuntungan dalam kehidupan? Nyatanya tidak. Kecantikan fisik yang tidak diimbangi dengan keteguhan moral dan iman, akan percuma karena hanya membawa petaka. Hal inilah yang membuat Dewi Ayu ingin punya anak yang buruk rupa. Doanya dijawab dengan kehadiran si Cantik yang bahkan dukun bayinya pun menganggapnya sebagai monster kutukan neraka. Ironis.

Lantas bagaimana si Cantik menjalani hidupnya ketika tidak berselang lama Dewi Ayu meninggal atas kemauannya sendiri? Wait, kemauan sendiri? maksudnya bunuh diri? Nope. Baca aja sendiri ya bukunya. Nyatanya, buku ini tidak berfokus pada si Cantik atau Dewi Ayu saja kok. 
  • Dibuka dengan kalimat yang sungguh asyik, buku ini mampu menghipnotis pembacanya hingga memasuki lorong waktu sejarah sejak kolonialisme Belanda, Jepang, hingga kedatangan paham komunisme dan peristiwa Gerakan 30 september 1965, juga kerusuhan di dunia preman yang entah bagaimana ‘ngawurnya’, mampu membuat saya tersenyum. Ditambah dengan penokohan yang diberi keseimbangan sifat baik dan jahat, penulis mampu dengan lihai mengecoh pembaca. Kehadiran Sang Shudanco, perwira yang selalu ingin diakui kelelakiannya; Kamerad Kliwon, yang dengan kecerdasannya mampu menyebarkan ide-ide komunis di tengah masyarakat Halimunda, dan Maman Gendeng, yang dalam imajinasi saya muka preman hati peri, semakin melezatkan buku ini. 
Tak ketinggalan penulis menyajikan konflik lugu yang menjijikan antara cucu-cucu Dewi Ayu bak kisah wayang hanya dengan menggunakan bahasa yang ringan namun tetap berbobot, dan berciri khas kejujuran, sehingga pembaca yang suka kisah klasik bertema keluarga seperti saya akan dengan mudah terbawa rasa penasaran dan tidak ingin berhenti di satu titik kecuali rasa kantuk melanda.
  • Dibutuhkan kehati-hatian lebih bagi pembaca yang selama ini selalu membaca buku yang ‘aman-aman’ saja, dikhawatirkan buku ini terlalu banyak mengandung unsur negatif kekerasan yang tidak pantas ditiru, pembantaian massal dan tema seksualitas yang terlalu ‘wah’ sejak jaman penjajahan yang akan membuat kita akan mengernyitkan dahi atau menahan napas dan berucap astaghfirullah... Bagaimana hubungan incest terjadi pada orangtua dan keturunan Dewi Ayu, pernikahan di bawah umur, hingga kehausan akan kasih sayang yang berujung pembunuhan semua dikemas rapi dan elegan. Walau menurut saya pribadi hal-hal tersebut memang banyak terjadi di zaman dahulu (kata nenek saya dulu), tetap diperlukan pengawasan orang berakal sehat bagi pembaca yang masih labil.
Meski di akhir cerita, penulis menempatkan satu tokoh dalam kehidupan yang mengambang dan membuat saya gemas serta bertanya, ‘lha terus ini gimana nasibnya?’ yang membuat saya tidak bisa tidur, namun secara keseluruhan buku ini cukup bisa menjadi cemilan rindu akan cerita sejarah masa lalu. Mungkin penulis sengaja membebaskan pembaca memilih akhir cerita tokoh itu sendiri.

Recomended untuk pecinta novel bertema keluarga dan sejarah. Rate: 8/10
Tulisan ini saya sertakan dalam Event Metaforia Karya Sastra Kaskus - Hari Sastra Indonesia (HSI) dengan editan seperlunya mendekati kacau, mwahaha.
 
smilies_fb5ly1xu2wka.gif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh