Dua Puluh Tujuh~
Beberapa hari yang lalu saya mendapati postingan salah satu teman, laki-laki, yang isinya bernada mellow, tentang harapan untuk segera menemukan jodohnya dan menikah, di usianya yang sudah akan jadi 28 tahun ini.
Saya ingat betul, Januari 2013,
dulu kami pernah sepakat jika kematangan usia untuk menikah adalah 27 tahun. Seiring berjalannya waktu, saya sebagai perempuan, sewajarnya mulai merasakan kegalauan-kegalauan yang mulai mengintai. Sampai enam tahun berlalu, kekhawatiran masih ada. Bohong kalau saya tidak merasa takut ketika belum dipertemukan dengan jodoh saya. Apalagi kadang rasa iri dapat muncul dengan mudahnya, ketika melihat satu per satu kawan, dari yang seumuran, hingga yang lebih muda jauh di bawah saya, mulai dilamar, menikah, punya anak satu, punya anak dua, tiga...dst.
Apalagi di mata teman-teman saya adalah tipe orang yang dianggap asyik untuk berkomunikasi, mudah akrab dengan laki-laki, juga mudah berteman dengan segala kalangan, kok sampai sekarang malah belum menemukan pasangan? I'm overqualified I guess, mwahahaha...
Kemudian saya ingat sebuah tulisan, entah di youtube, instagram, atau mana saya lupa, kutipan ini dari gambar pertama hasil search di google, kurang lebih isinya mirip. Membacanya cukup memberikan pencerahan dan bisa dijadikan moodbooster dikala ketakutan itu melanda.
"EVERYONE HAS THEIR OWN TIMEZONE"
Ada yang sukses karir, menikah di usia muda tapi belum dikaruniai anak. Ada yang belum punya pekerjaan tetap, menikah di usia matang, tapi langsung diberikan rizki anak. Ada yang kehidupannya terlihat begitu sempurna dan memiliki segalanya, pekerjaan, keluarga, pasangan, tapi dia punya masalah lain yang membuat hidupnya tidak tenang, dia hanya berusaha menyembunyikannya. Muncul rasa iri? wajar kok, tenang, manusiawi, selama tidak berlebihan..
Ada yang sukses karir, menikah di usia muda tapi belum dikaruniai anak. Ada yang belum punya pekerjaan tetap, menikah di usia matang, tapi langsung diberikan rizki anak. Ada yang kehidupannya terlihat begitu sempurna dan memiliki segalanya, pekerjaan, keluarga, pasangan, tapi dia punya masalah lain yang membuat hidupnya tidak tenang, dia hanya berusaha menyembunyikannya. Muncul rasa iri? wajar kok, tenang, manusiawi, selama tidak berlebihan..
Jujur saya pun dulu pernah berpikir dan berkata,
"aku kok serba telat dan lambat ya dalam hal apapun dibanding teman-temanku?"
Saya pernah mempertanyakan kenapa saya lemah di bidang matematika sampai saya dapat nilai 2,5 di ulangan sementara teman-teman lain aljabar bisa dengan mudahnya, rupanya saya butuh satu semester untuk memahaminya ketika teman saya hanya butuh dua minggu.
Saya pernah mempertanyakan kenapa saya tidak paham akuntansi sementara ibu saya adalah mantan guru akuntansi. Ternyata Allah membawa saya ke dalam 'ketidakpahaman' agar saya mau diberi bimbingan tambahan oleh guru di sekolah, yang pada akhirnya saya malah bisa lolos mengikuti lomba ekonomi hingga tingkat propinsi, sebuah moment yang bisa membuat ibu dan bapak menangis terharu.
Saya pernah mempertanyakan juga kenapa skripsi saya dulu begitu penuh perjuangan, kenapa tidak bisa secepat teman-teman lainnya? juga mengapa saya sempat menganggur 4 bulan dan begitu dapat pekerjaan malah resign, dapat lagi dengan gaji yang cuma separuhnya? Lucunya jawaban pertanyaan tersebut baru saya dapatkan 2 tahun kemudian. Rupanya, Allah menggariskan demikian agar cerita hidup saya tidak monoton. dan ketika datang saatnya saya mendaftar cpns, kisah hidup saya itu menjadi sebuah hiburan dan mampu menunjukkan pada bapak pewawancara bahwa saya dianggap sebagai pribadi yang pantang menyerah, berprinsip, dan pantas untuk bergabung dengan instansi.
mungkin sama halnya dengan saat ini, kenapa sampai sekarang saya belum dipertemukan dengan jodoh sementara teman-teman yang lain sudah bahagia dengan kehidupan rumah tangganya masing-masing? jawabannya ya karena saya hanya belum sampai pada zona waktu saya utk menikah dan berkeluarga. Hehe..
But...
menunggu time zone bukan berarti kita duduk termangu, sembari menunggu, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Sama seperti urusan jodoh, yang katanya adalah cerminan diri. Kita ingin memiliki jodoh dengan kriteria macam-macam, alim, rajin sholat dan kajian, sholeh/sholeha, hafal quran, sayang orangtua, sayang keluarga, pinter, punya kerjaan tetap, dll, dengan harapan kita bisa 'dibimbing' oleh jodoh kita jadi lebih baik. Apakah dengan menunggu saja cukup? Tentu enggak dong..
Paling tidak kita harus berusaha agar bisa sekufu dengan kriteria calon yang kita inginkan, sembari menunggu tiba di timezone tersebut. Kalau kita ingin dapat jodoh yang rajin sholat, paling tidak kita dapat berusaha dengan menjaga sholat kita agar bisa lengkap dan dilakukan diawal waktu. Kalau kita ingin jodoh yang sayang dengan orangtua dan keluarga, maka kita bisa berusaha dengan mengasah hati kita agar lebih sayang kepada orangtua dan keluarga kita sendiri. Ngaco ya kalau kita berharap yang perfek tapi kitanya masih suka membantah atau berkata keras kepada orangtua sendiri, huhu..
Kita harus membuat perubahan pada diri sendiri, barulah Allah akan mengubah nasib kita.
Seperti janji Allah dalam QS Ar Raad ayat 11, yang intinya dikatakan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu berusaha merubah nasibnya sendiri.
Tapi,..tapi lagi nih.. yang namanya perubahan itu pasti membutuhkan waktu, tidak serta merta dapat kita lakukan secara konsisten, lalu yang kita inginkan tiba-tiba ada (kecuali dengan kekuasaan Allah ya "Kun Fayakun"), apapun itu, selalu butuh waktu. inilah yang saya kaitkan dengan konteks Timezone tulisan tsb.
Alhamdulillah, merantau dapat memberikan saya ketenangan, karena tidak lagi dikejar-kejar pertanyaan kapan nikah oleh sanak famili atau teman yang usil. Kalaupun ada, ya jawab saja, jodoh sudah ada namanya kok, cuma masih disimpen Allah dan belum dipertemukan waktunya aja. Karena mau sengotot dan semaksa apapun kita sama Allah, kalau belum waktunya dan belum jatahnya, kita nggak akan pernah mendapatkannya.
So...just take a deep breath...your time will come!
be happy and chill! :)

Komentar
Posting Komentar