Gemas


Kemarin malam bapak tiba-tiba mengirimkan sebuah gambar berisi tulisan tentang konsep "New Normal" di Indonesia yang akan mulai diberlakukan Juni nanti. Dan ketika gw buka kanal berita, sebagian besar dari mereka pun menampilkan skema "New Normal" sebagai tajuk utama. Dikatakan skema ini bertujuan salah satunya untuk dapat mengembalikan kestabilan ekonomi rakyat. That's a good point. 

Tapi ada satu hal yang menurut gw terlalu gatal untuk tidak dipertanyakan, kalau memang salah satu tujuannya untuk itu, bukankah selama ini ekonomi rakyat masih tetap nekat berjalan? Orang jualan di pasar, tukang sayur keliling masih jalan (membawa uang yang entah sudah berapa kali berpindah tangan, entah berapa banyak kuman yang nempel), mall pun masih buka - yang sekalipun omzet mereka mungkin turun, tapi tidak 100% hilang. (Yang paling gemes bahkan di daerah yang katanya PSBB ketat pun orang-orang masih bisa belanja desak-desakan, bebas keluar masuk daerahnya, menempuh jalur darat untuk melakukan yang namanya mudik atau pulang kampung wkwk. sedangkan yg terjebak di luar pulau jawa, yang nggak bisa balik kecuali pakai pesawat harus mengepalkan tangan saking gemesnya. haha).

Mungkin yang dibidik dengan penerapan "New Normal" di sini adalah untuk kalangan pengusaha menengah ke atas, ya? Untuk mereka yang kemarin semenjak wabah mulai merumahkan pegawainya satu per satu karena penurunan omzet penjualan dan pada akhirnya tidak mampu mengatasinya. :)

Jika memang 'pembukaan' public place ini menjadi sebuah solusi, harusnya edukasi tetap wajib dilakukan secara massive, kan? Yang gw lihat selama ini adalah kesadaran orang-orang sendiri masih rendah, tidak disupport oleh upaya edukasi yang memadai, jadilah, mereka bandel tetap keluar tanpa memperhatikan pengamanan diri sendiri dan oranglain.

Ya, mungkin bagi orang-orang ini, karena mereka nggak ada gejala, dan nggak merasakan langsung dampaknya bagi diri sendiri atau keluarga mereka nggak ada yang positif misalnya, mereka nggak akan peduli, tetep keluar tanpa masker, tetep ogah cuci tangan di tempat umum padahal sudah disediakan. Mungkin bagi mereka covid ini hanya sekedar flu biasa, kalau imun kuat nanti sembuh sendiri. Betul. 

Tapi salah kaprah jika mereka tidak bisa menempatkan diri sebagai carrier atau inang pembawa virus, yang justru lebih membahayakan oranglain dengan imunitas rendah. Jujur, gw sendiri lebih ngeri menjadi carrier tanpa gejala yang bisa nyebarin ke oranglain sih. 

Dikatakan, syarat dan ketentuan "New Normal" bisa berlaku apabila:
  1. Penyebaran dapat dikendalikan
  2. Deteksi, identifikasi, penanganan dilakukan dg cepat
Mohon maap, sudah dapat dikendalikan dan ditangani dengan cepat, kriterianya apa ya? :))) Negara lain mah ada itu massal rapid-test, jadi sekalipun tanpa gejala, bisa ketahuan kalau dia carrier atau bukan, sehingga pengendaliannya cepat. We can see it through the number of the death from the covid cases. Then, what about here? Mungkin di kita, kalau standar ditangani dengan cepat maksudnya adalah 'penjemputan' pasien positif dari rumahnya ke lokasi karantina ya emang cepet sih, kalau jaraknya deket, wkwk. Cuma kalau yang dimaksud adalah dari identifikasi sampai ke penjemputan itu, ya jelas tidak bisa dibilang cepet. Tunggu 14 hari sejak tes pertama katanya untuk bisa melihat perkembangan virus. Kalau hasil keluar, terus masuk karantina kalau positif reaktif. Lalu tunggu beberapa hari lagi diadakan swab-tes, baru bisa ketauan dia positif beneran atau kagak. Itu ya lama to?

Mungkin kalau rapid-test bisa diakses oleh semua orang, mereka-mereka yang bandel itu bisa lebih terkontrol kalau mereka menyadari dirinya bisa jadi carrier pembawa kematian bagi orang dengan imunitas rendah dan pesakitan. Dan dengan pembukaan public place untuk alasan kemaslahatan ekonomi, yaa..itu tolong upaya edukasinya diketatkan lagi ke masyarakat yang di bawah, di daerah-daerah (salut gw sama bupati dan kepala daerah yang mau turun ke pelosok-pelosok setiap hari buat mengedukasi warganya). 

Dan semoga Pemerintah bener-bener melihat ini demi kemaslahatan rakyat, bukan sekedar menyoroti bisnis elite pejabat. Karena ada celah juga, ketika nanti usaha rakyat kecil  malah tergerus oleh bisnis para petinggi yang dilabeli 'sudah menerapkan protokol kesehatan pemerintah RI'. Dan lagi, mereka yang sudah terlanjur pulang kampung/mudik, sekarang juga sudah diberikan aturan untuk tidak kembali lagi ke Ibukota atau daerah tempat dia bekerja dulu. Jadi ketika nantinya roda usaha mulai berjalan normal perlahan, usaha kecil bisa jadi kalah bersaing ketika dia tidak mampu lagi memenuhi permintaan pasar dengan kondisi produksi yang tidak bisa maksimal, akhirnya usaha elite ataslah yang memenuhi pasaran. dan pada akhirnya.... IYKWIM.

Cuma dengan kondisi kita yang seperti ini yaa....gimana lagi? haha.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh