Insting
Kamu tuh jadi adek ngeyel banget sih dibilangin!
Kamu tuh nggak ngerti apa-apa, udah manut aja.
Kamu jangan begini, nggak usah begitu
Kamu disuruh ibu tuh (padahal dia yang disuruh)
Sering mendengar ucapan seperti itu?
Selamat, kalian sukses menjalani peran sebagai adik yang merana.
Kita sama.
Entah darimana asal peraturannya, setiap kakak di dunia ini pasti pernah bertindak semena-mena, dan seolah memiliki hak prerogatif untuk melakukan itu sebagai anak yang lebih tua (pada akhirnya gue menjalani ini juga ketika adek gue lahir, mwahaha). Tanpa bantahan. Bahkan pernah nggak sih kita merasa orangtua kita malah meminta kita sebagai adik yang mengalah? Gemesssh..
Apalagi saat kita masih kecil, rasanya semua terasa sangat tidak adil ketika kakak kita blaming semua kesalahannya ke kita, adiknya. Siapa yang berantakin mainan? Adeeek.. Siapa yang ngotorin meja? adeeek.. Siapa yang numpahin air tapi gak di lap? Adeek... Dan sebagai adek kita tidak punya hak untuk membela diri. Berontak pun malah kita yang dicibir. Bahkan pernah nggak sih kalian merasa salah banget hadir di keluarga, seolah nggak diharapkan, anak buangan, dan nggak pengin punya kakak kayak kakak kita? Kalau iya wajar sih, setiap adik pasti pernah merasa begitu haha
Dulu sebelum adek gue lahir, gue sebagai adik (anak kedua) tinggal bersama orangtua, sementara kakak gue tinggal bersama eyang di luar kota. Murni permintaan eyang, katanya dulu cucu pertama disayang banget. Umur gue dan kakak juga hanya berjarak 22 bulan, yaps, gue diproduksi saat dia umur 1 tahun kurang lol.
Alkisah kata ibu dan eyang, kehamilan ibu atas gue ini merupakan kehamilan yang paling dimudahkan. Ya gimana enggak, gue nggak sengaja diproduksi katanya, bahkan di usia kehamilan 4 bulan menginjak 5, ibu nggak menyadari kalau lagi hamil. Kalau nggak diingatkan tetangga (kala itu mendadak ibu hobi banget bikin bakwan dan rujak, lalu dibagikan ke tetangga), mungkin ibu nggak bakalan ke bidan. Parahnya lagi, ada saudara yang membujuk ibu untuk menggugurkan kandungannya dengan alasan kakak gue masih bayik. Edan nggak tuh? Sedih kan nasib gue? wkwk
Alhamdulillah ibu nggak termakan omongan setan. Alhamdulillah pula bapak dan eyang malah menyambut baik adanya anak kedua. Jaman dulu USG belum segampang sekarang. Pas hari kelahiran, ibu tidak merasakan tanda-tanda mau lahiran. Ibu gue katanya malah merasa ngantuk banget seharian. Dua jam sebelum kelahiran, tiba-tiba ibu merasa mules. Akhirnya eyang memanggil bidan ke rumah. Ibu sempat tidur saking ngantuknya, dan pas bangun udah bukaan besar, tanpa melilit lama (seperti saat kelahiran kakak dan adek gue yang sampai butuh perawatan di rumah sakit) dan keluarlah gue. Habis itu, ibu tidur lagi. Habis denger suara tangis bayi cewek, bapak malah pingsan saking senengnya (karena di keluarga bapak bisa dibilang keturunan perempuan itu langka. sepupu gue bahkan 15 cowok semua). Eyang gue ngurusin kakak yang masih bayik. Gue diurus bidan setelah lahir. Kurang kocak gimana cobaa... ðŸ˜
Ada kisah mengharukan sebenarnya, karena pas gue lahir kakak masih ng-asi, ibu terpaksa harus makan banyak tiap hari biar mencukupi kebutuhan asi dua anaknya ini. Tiap malem ibu berjuang juga pumping asi pakai alat pumping manual jadul yang katanya bikin sakit banget sekali perah. Belum lagi kalau dua anaknya ini laper berbarengan, dan si kakak menangis melihat sumber makanannya direbut sama makhluk kecil dipelukan ibunya. Bener-bener masyaAllah kalau inget perjuangan ibu kala itu. Belum lagi kalau ingat berapa banyak biaya yang dikeluarkan buat kebutuhan dua bayik yang udah macam anak kembar kala itu, nggak cuma baju, sakit pun bisa samaan waktunya.
Alhamdulillah Allah kasih kami tetangga dan saudara-saudara yang mau dengan ringan tangan membantu mengasuh kakak. Alhasil mereka punya ikatan kuat sama kakak. dan saat ibu bapak memutuskan pindah mengikuti kerja bapak, eyang, tetangga dan saudara keberatan jika harus berpisah dari kakak. Akhirnya dimanjalah dia di sana selama hampir 8 tahun tanpa saingan. Makanya ketika kembali ke pelukan ibu, dia merasa tersaingi dengan kehadiran gue, dan sejak itu dimulailah hari-hari penuh siksa. Tapi 6 tahun kemudian ketika adek gue lahir, kita berdua berada pada kubu yang sama. 😆
Well.. back to the topic, kenapa tulisan ini gue kasih judul insting?
Harus gue akui, tidak selamanya hubungan gue dan kakak itu buruk (pernah buruk banget haha). Ada kalanya kami sepakat dalam beberapa kondisi meski dulu gue selalu merasa benci dia yang sok berkuasa wkwk. Dan seiring berjalannya waktu dan kedewasaan (ceilah), gue dan kakak pada akhirnya bisa mencapai level dimana kami nggak perlu berteriak membela hak masing-masing. Sebuah level dimana kami bisa diam menahan ego saat yang lain berbicara, dan baru mengemukakan keberatan setelahnya. Cekcok jelas masih. Beda pendapat dan sudut pandang? oh, selalu! Tapi kami bertiga (udah ada adek gue dong) sepakat, untuk urusan terkait keluarga, kita harus menganut prinsip yang sama, untuk dapat saling melindungi dan menjaga satu sama lain, apapun yang terjadi, jangan sampai keutuhan hubungan keluarga inti kami dirusak oleh hal-hal dari luar. Keren gila! lol
Sore tadi gue baru menyadari satu kemungkinan yang cukup melegakan. Mungkin ini cara Allah menjaga ikatan kami dengan menjauhkan gue dan kakak dari orang yang mungkin memang bukan jodoh kami (yaps, kita berdua mengalami kejutan yang tidak menyenangkan dalam waktu yang cukup dekat). Dan memang, semuanya diawali dengan ketidakcocokan satu sama lain. Gue nggak cocok dengan yang kakak mau, di satu sisi kakak nggak cocok dengan yang gue mau. Dan kita sempat berdebat hebat sampai menuju ke arah diem-dieman, yang di fase sekarang ini udah termasuk sinyal bahaya yang bisa merusak atmosfer di rumah. Mungkin itulah sinyal dari insting kami masing-masing. Pada akhirnya Allah malah memberikan kejutan yang tak pernah kami kira, nggak ada yang berlanjut dengan hubungan masing-masing. wkwk. Awalnya memang kami bertanya-tanya, kok bisa. Tapi mungkin ini yang terbaik, cara Allah menjaga keutuhan keluarga kita. Ini cara Allah menyayangi keluarga kita.
Dan jujur, sangat lega rasanya ketika bisa diberikan kesempatan untuk berpikir sampai ke situ. Karena bisa jadi ada benarnya, jika kami berlanjut, kelak di masa depan akan ada hal-hal yang malah merusak ikatan kekeluargaan kami, ikatan yang sudah berusaha dibangun bapak dan ibu dari nol, ikatan yang tanpa sadar telah kami miliki ketika berbagi asi. Who knows? mungkin ini yang terbaik untuk saat ini, Karena doa kami, hanya ingin diampuni, dirahmati, dan bisa berkumpul sekeluarga lagi di Surganya Allah nanti.
Aamiin..
Komentar
Posting Komentar