Kau!
Lama ia menatap cermin, sedikit tersenyum melihat pantulan bayangan di hadapannya. Gadis itu terpaku, alisnya mengerucut mengkerut menjadi satu.
"Kau masih mengenalku?"
"Tentu saja"
"Oh, ku kira sudah lama kau melupakanku sejak peristiwa itu"
"Maksudmu?"
"Ya, ku kira kau ingin membunuhku juga. Aku bahkan sudah bersiap untuk saat seperti ini, sebelum akhirnya kau membuangku bersama kenangan sedihmu itu. Aku ingin menamparmu selagi aku bisa"
"Bagaimana mungkin kamu tega berpikiran seperti itu padaku?"
"Sebab kau tlah mengacuhkanku terlalu lama. Kau biarkan aku membeku kedinginan di dalam sana bersama sampah yang ingin kau hancurkan. Apa kau tau bagaimana aku berjuang menahan segalanya di dalam sana hanya agar kau tak merasakan apa-apa lagi di luar sini? Kau bahkan tak pernah menanyakan kabarku di sini. Katakan saja kalau kau ingin membuangku. Kau sudah tak butuh aku lagi kan?"
"Aku tak pernah berkata seperti itu. Aku bahkan selalu mengkhawatirkanmu sepanjang waktu. Aku kira kau yang sengaja mendiamkanku. Kau meredakan segalanya di dalam sana, lalu segalanya seperti terasa mati rasa. Aku pikir kau yang menjadikanku membeku. Kau tak tahu kan betapa rindunya aku untuk bisa menyapamu?"
"Aku tak percaya kau bisa mengabaikanku"
"Hey... aku tidak akan...."
"Sudahlah. Mungkin lebih baik aku tetap di sini membantumu membekukan hati sampai aku ikut mati. Lekaslah berbalik. Abaikan saja aku"
"Jika itu maumu, tolong penuhi permintaan terakhirku, anggap saja sebagai perpisahan seperti yang kamu mau."
"Apa?"
"Tolong peluk dan hangatkan sedikit saja hatiku"
"......"
"Aku tahu beratnya perjuanganmu membantuku membekukan hatiku untuk mematikan rasa itu. Tapi aku tak bisa berbohong aku rindu ketika aku bisa menangis lagi bersamamu. Aku rindu ketika kita bisa bermunajat hingga pagi menjelang dari sepertiga malam, kau ingat kan, saat kita mencurahkan segalanya hanya pada Sang Kuasa. Kau belum lupa kan bagaimana aku dan kau saling memeluk erat dan mengusap kesedihan dalam sepinya malam?"
"......"
"Aku tahu kau pun merindukanku. Kita hanya salah paham"
"Kau tidak tahu..."
"Tidak. Aku tak akan pernah tahu, karena kau bersembunyi dalam diriku. Kaulah satu-satunya teman bicaraku yang selalu ada di saat aku takut bercengkrama dengan manusia. Kaulah yang membantuku selama ini. Jadi bagaimana bisa aku ingin mengacuhkanmu?"
"Aku..."
"Sudahlah tak usah kau pikir lagi, kau tidak akan mati saat ini. Kita akan mati bersama kelak, saat maut mendekat. Saat jiwa dipisahkan dari jasad"
"Kau memang kurang ajar"
"Aku tak peduli.."
"Kau memang jahat"
"Diamlah, kemari dan peluk aku sekarang. Aku ingin kita bisa kembali menangis lagi dalam gelapnya malam. Hanya ada kau, aku, dan Tuhan"
"Kau.. kau memang..."
"Ssttt..."
***
Komentar
Posting Komentar