Tahun-tahun sebelumnya
Katanya, orang rela melakukan apa saja demi mengobati kerinduan. Mungkin ini yg sedang terjadi pada sy. Apalagi mendekati hari lebaran yg sudah di depan mata, rindu rumah semakin terasa. Pagi ini mata sy tak bisa terpejam. Pikiran melayang membayangkan kue nastar yg nanti sore akan datang, sengaja saya pesan dari tenaga harian lepas di kantor, sekalian untuk tambahan dia lebaran. Rela sy mengeluarkan uang yg tidak sedikit utk membeli nastar dan cookies demi bisa merasakan 'rasa lebaran', meski mungkin nanti pada akhirnya kue-kue itu bakal beredar di kamar anak² kos saja. Wkwk
Ini sudah H-2 ya?
Biasanya di rumah ibu sudah memesan kue ke tetangga juga. Sudah sekitar 6 tahunan kami tidak membuat kue sendiri, sejak meninggalnya eyangti, walau kadang sy masih suka iseng membuat brownies kesukaan adek, atau ibu membuat tape ketan hijau kesukaan bapak.
Di hari-hari ini ibu biasa mengajak sy ke pasar, untuk berbelanja bahan makanan menu lebaran. Menu hari pertama standar, opor ayam, balado kentang, sambal ati, dan kerupuk udang. Sudah 3 tahun belakangan ini sy mendapat hak eksklusif utk memasak balado dan sambal. Ibu hanya tinggal membumbui opor. Haha. Oya.. Kami jarang membeli ketupat karena biasanya selalu ada kerabat yg mengirim ke rumah. Lalu biasanya setelah sholat ied dan silaturahim dg tetangga, kami menuju ke rumah eyang dari bapak, sebelum eyang meninggal, semua berkumpul dan makan besar di sana. Tapi sejak eyang dari bapak pun meninggal, rasanya sudah tak ada lagi magnet yg menarik di sana. Kenapa? Karena yg saya nantikan adalah moment dimana eyang bernostalgia menceritakan masa mudanya dulu. Menceritakan bagaimana kenakalan anak-anaknya 6 orang dan 3 anak angkatnya yang laki-laki semua (iya, sampai 15 sepupu pun lakik semua, cuma 3 ceweknya, makanya kami makhluk langka, mhehehe), yang entah kenapa meski diceritakan setiap tahun, rasanya tetap menarik dan lucu.
Di hari kedua biasanya kami memasak pecel atau kluban (urap), rebusan daun-daun buat mengimbangi santan yg kami cerna hari sebelumnya. Hari ketiga dan keempat jika opor belum habis, kami hanya menambahkan rebusan labu siam dan timun utk penyeimbang, karena biasanya di hari ketiga kami mulai keliling ke luar kota mengunjungi rumah saudara² dan kerabat dari eyang yg sudah sepuh. Hari kelima sampai ketujuh biasanya saudara² jauh mulai berdatangan bergantian. Berhubung Purbalingga terletak di perlintasan selatan bagian tengah, rumah kami sering jadi tempat transit menginap kerabat dari barat (jakarta) atau pantura (tegal, pemalang) yg akan ke jogja, dan sebaliknya. Seru, ketika sy yg tadinya kebagian urusan dapur khusus menggoreng mendoan dan menyiapkan kudapan, lalu beralih mengurusi bocil-bocil yg tidak pernah mau diam dan selalu berisik, haha. Bahagia rasanya ketika dikelilingi anak-anak.. :)
Then..
Ketika waktu kunjungan keluarga habis, dan sebelum kembali bekerja, sy dan ibu mulai puasa lagi, biar ada temen, ibuk dengan puasa syawalnya, sy dengan bayar hutang puasa wajib. Tenang rasanya kalau hutang sudah dibayar di awal (padahal aslinya males aja kalau harus puasa sendirian saat balik perantauan haha), setidaknya sunnah syawal masih bisa menyusul.
Memang, moment lebaran kali ini akan amat sangat terasa berbeda, bahkan untuk sholat ied saja mungkin harus munfarid. Bahkan jika di kantor ada acara makan-makan pun, pasti akan terasa nelangsa, ketika yang duduk bersama kita bukanlah orangtua.
Tapi yasudah, kita bisa apa?
Terima saja, sambil terus berdoa semoga sebelum akhir tahun paling tidak kita bisa berjumpa lagi dengan mereka, memeluk, serta mencium tangan-tangan yang mungkin semakin keriput, yang telah merawat dan mengasihi kita..
Komentar
Posting Komentar