Why am I here? - Flashback (1)


Harusnya jika menurut rencana manusia, sore ini gw udah berada di dalam pesawat menuju ke Jakarta, dilanjutkan perjalanan kereta api ke Purwokerto, hingga besok pagi udah bisa sahur di Purbalingga bersama keluarga tercinta. Tapi mari kita lakukan semua itu dalam mimpi saja. 

Mari siapkan mental untuk hari yang lebih berat, lebaran di tanah rantau. haha

Ini tahun kedua gw di Ternate. Iya, terasa seperti sudah lama memang, padahal baru tahun kedua. Apa yang membuat terasa lama? Nggak betah? Bukan. Justru sebagian besar orang kantor adalah keturunan jawa, dan bahkan yang non-jawa pun terlihat sangat njawani, wkwk. Jadilah seperti kerja di kantor bapak sendiri. :hammers

Dan kalau diingat lucu sih, kok bisa ya seorang gw yang anak rumahan bisa merantau dan bertahan sejauh ini, bahkan sampai jadi omongan tetangga dan saudara karena mereka nggak percaya. Jadi mari kita sedikit mengingat sambil menunggu saat berbuka puasa waktu Ternate..

Pertengahan 2018,
Berawal dari iseng mengikuti pendaftaran cpns karena sudah mulai merasa jenuh dengan kerjaan sebelumnya, plus merasa butuh kerjaan yang bener-bener memakai otak, karena dulu kerja di bagian pelayanan, berkutat dengan dunia marketing, skill komunikasi udah dapet, akhirnya sampai di titik jenuh (dan sekarang dikabulkan emang kerja pakai otak, cuma doanya kurang rinci, jangan yg maksa banget meres otak juga sih harusnya. Dasar manusia! :ngakaks). Jujur nggak pernah kebayang sama sekali buat jadi PNS dalam hidup, kalau bukan karena keinginan untuk berbakti sama orangtua, mungkin nggak ada diantara gw sama kakak yg mau daftar. Pernah 2014 dulu dipaksa daftar setelah lulus, ya gagal jelas, karena emang belum ada dorongan dari hati wkwk.

Tibalah saat pendaftaran cpns dibuka, gw pada akhirnya nekat 'menemani' kakak mendaftar, biar dia semangat kalau ada pesaing, apalagi adeknya haha. Memang pada akhirnya beda sih instansi yang kita tuju. Dan gw bener-bener nggak ngerti apa yang pengin gw tuju kala itu. Ada satu-dua instansi pusat yang gw banget, tapi kok syaratnya ribet, dan karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk ribet, gw akhirnya bikin kriteria sendiri, pertama cari instansi yang nggak mensyaratkan TOEFL, nggak ada tes fisik, dan cari yang bisa bawa jalan-jalan keliling Indonesia gratis! Yakk... tersaringlah 4 instansi kala itu, dg pilihan formasi auditor, keuangan, petugas lapangan koperasi (atau apa namanya), dan analis kebijakan.

Well.. karena yang sesuai sama ijazah dan pendidikan adalah auditor dan keuangan, namun pada dasarnya gw adalah tipe orang yang males dan anti bersentuhan langsung sama yang namanya uang, apalagi uang negara, jadilah pilihan gw jatuh ke formasi auditor, di sebuah instansi yang sekarang gw tempatin, yang dulunya sama sekali gw nggak ngerti ini instansi apaan dan bahkan baru pernah tau eksistensi instansi ini saat mendaftar itu. Tapi seiring berjalannya waktu, gw baru sadar instansi gw ini emang nggak terkenal kok. Terlalu humble dan menyembunyikan diri dg gerakan underground kayaknya. Karena setiap kali ada orang bertanya soal kerja dimana, kemungkinannya hanya ada 2, either si penanya mengira gw kerja di instansi lain yang namanya sama (sodara tiri sih), atau dia bakal tanya balik itu instansi apaan ya? Hahaha. Gapapa...selama gaji dan tukin aman, ya kita senyumin aja deh..  :)))

Lanjut, gw dan kakak dinyatakan lolos administrasi. Instansi kakak dapet jadwal tes yang berbeda bulan dg gw. Awalnya gw ragu mau ngangkatin atau enggak, karena tes harus di Jakarta, di Maria Conventional Hall, Jaktim. mungkin karena nggak tega nglepas anak ceweknya jalan sendirian dan tersesat di Jakarta, bapak akhirnya meminta kakak buat nemenin gw. Iya, untuk pertama kalinya gw naik kereta lagi saat dewasa (krn dulu terakhir TK kata ibu), naik kutojaya malam, yang seatnya 2-2. Pagi harinya gw berangkat ke lokasi naik gojek. Bingung asli, sendirian di lokasi yang super duper ramai dan semuanya baju item putih. Dengan modal SKSD yang gw dapatkan dari kerjaan sebelumnya, alhamdulillah gw dimudahkan buat sampai ke lorong registrasi instansi, dan akhirnya dipertemukan dengan 5 orang yang sekarang udah nggak komunikasi lagi sih, cuma tersisa satu orang gadis dari padang (sekarang udah nggak gadis lagi *plaak), mbak El gw panggilnya, yang lolos sampai tahap akhir, bahkan kita pernah satu kamar kos, sampai penempatan magang satu deputi bareng. Sekarang dia di barat dan gw di timur.

Sesaat sebelum tes jujur rasa minder gw memuncak tatkala gw melihat orang-orang (terutama 5 orang kenalan gw itu) terlihat begitu matang mempersiapkan otaknya. Saat mereka iseng lempar pertanyaan, gw cuma bisa bengong dan melongo nggak ngerti lagi dengan apa yang mereka bahas. Gw cuma berdoa ya Allah kalau ini belum rejeki hamba yaudah kuatkan nanti ya.. sambil pelan-pelan gw mlipir menghilang dari pandangan. Sesampainya di ruang tes ternyata peserta dibebaskan memilih tempat komputer masing-masing. Gw diseret salah satu kenalan gw buat duduk di pojokan bareng dia, nggak taunya yang lain ngikut. Akhirnya kita duduk sebelahan. Dasar cewek emang..

Selama ngerjain alhamdulillah gw nggak kebelet pipis, padahal ac nyala dingin dan di luar hujan. Alhamdulillah soal TWK dan TKP gw kerjakan dg lancar, karena gw suka sejarah, soal sejarah dan pemerintahan bisa gw lewati, iya lewati doang, kerjain yg gampang dulu. :sundulgans Gw mulai merasa mules hanya ketika melihat soal TIU, bagian matematika dasar. karena angka adalah hal selain jatuh cinta yang bisa bikin gw deg-degan. Beburu dengan waktu, akhirnya gw memutuskan untuk menekan tombol finish/selesai ujian dan keluar ruangan. Skor gw kala itu 354 dg total urut TWK, TIU, TKP 90,110,154, nggak bodo-bodo banget lah pikir gw kala itu yang penting udah di atas PG semua. 

Setelah keluar ruangan, gw berencana langsung ambil tas dan pulang untuk mengejar kereta jam 9 malam. Ternyata di luar masih hujan. Tenda tempat penyimpanan tas pun penuh dengan orang-orang yang berteduh. Setelah perjuangan mendapatkan tas, gw pun duduk kembali ke tenda peserta. Mau nggak mau harus menunaikan sholat di situ karena nggak ada ruang sholat, toilet amat sangat jauh, dan kondisi tidak memungkinkan. Semoga diampuni dan diterima, aamiin. Baru selesai gw tayamum, ada seorang duduk di depanku dan basa-basi menyapa. Rupanya dia peserta dari formasi lain yang kena apes tas-nya belum bisa diambil, dan dia berencana mengontak kakak/temannya melalui dm instagram, lewat akunku. Tanpa curiga gw pinjami handphone dan gw segera pamit sholat, dia pun 'melindungi' gw saat sholat, ketika banyak orang mulai duduk di sekitar gw dan ngajak ngobrol padahal gw lagi sholat. Makasih loh ya :))) dan satu orang ini akhirnya menjadi kawan sampai detik ini, setelah bertemu di tes selanjutnya, dan akhirnya kami lolos. kami terpisah penempatan, namun masih terasa seperti saudara karena sama-sama jawa dan enak aja gitu ngobrolnya. 

Huft.
Begini amat ya jadi orang yang dikasih memori detail, segala macam bentuk, suara, rasa yang pernah diingat, penginnya semua dituangkan aja gitu ke dalam tulisan. Maunya nulis A jadinya dongeng A-Z. Ini belum selesai, masih panjang alasan why am I here. Tapi mungkin untuk part 1 cukup segini dulu. 

Buat anak kecil yang kelak mungkin membaca tulisan ini, 
kalau kamu suatu hari menyadari kamu punya kemampuan mengingat detail dengan jelas, bersyukurlah nak, tandanya kamu anak mama beneran karena diwarisin gen itu. :)))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh