Keep Going!


-Setiap orang bisa berubah. Karena ada Allah yang Maha Membolak-balikkan hati.-

Beberapa hari yang lalu, seorang atasan mengirimkan sebuah link tes kepribadian MBTI di grup whatsapp kerjaan. Beliau juga menuliskan "...mengenal kepribadian adalah modal dasar untuk penempatan dan pembinaan karir..makanya golongan III.b wajib mengikuti tes ini di pusat". Seketika saya nyengir membacanya, gatel ingin berkomentar tapi tetaplah ditahan, atasan boss, wkwk. Iya pak, teorinya demikian, tapi nampaknya di instansi kita belum bisa menerapkan itu, apalagi untuk auditor yang mau nggak mau 'dipaksakan' untuk bisa suits dan switch dalam setiap keadaan, mau seperti apapun kepribadiannya, hehe. 

Paginya saat ada acara di aula, beliau mengajak saya berdiskusi sejenak. Beliau masih penasaran dengan statement saya yang menyatakan bahwa hasil tes MBTI beliau bisa berubah-ubah karena pengaruh lingkungan dan kondisi tubuh saat tes dilakukan. Bagi saya, tes kepribadian memang penting untuk melihat potensi seorang di suatu bidang, namun bukan hal yang mutlak, karena tidak menutup kemungkinan pengaruh lingkungan justru lebih besar dalam membentuk perkembangan diri seorang. Kalau lingkungannya bagus dan mendukung seirama, ya pasti bakal bagus juga perkembangan diri seorang itu, kalau lingkungannya justru sebaliknya, ya mau orang sebagus apapun pasti bisa terbawa jeleknya walau dikit. Makanya ada yang namanya hijrah, pindah, bergeraklah dari hal-hal yang membawa kemudhorotan, bisa sebagai cara menyelamatkan diri sendiri. 

Bagi saya, memelajari hal ini nggak buat ngejar karir sih, lebih sebagai upaya memahami diri dan sarana menambah rasa syukur, atas banyak hal yang selama ini terlewatkan. Makanya kalau ditanya, apa motivasi kamu jadi PNS? atau apa yang bikin kamu bertahan sampai sekarang ini? Saya selalu menjawabnya 'nggak tahu'. Hehe. 

Saya juga tidak tahu akan berapa lama saya bisa bertahan di field ini. Mungkin pada waktunya nanti saya akan resign, dan akan melanjutkan mimpi-mimpi lain yang belum bisa terwujud saat ini, menjadi guru TK misalnya? atau bahkan bisa memiliki rumah singgah untuk anak-anak yang kurang beruntung, yang tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dan layak dalam hidupnya? Mungkin saat itu saya sudah butuh tempat lain untuk berkembang dan Allah memberi jalan. Who knows?

Mungkin impian itu terlalu tinggi, tapi ya balik lagi, namanya juga mimpi hehe. Sama seperti dulu, saya bermimpi ingin bisa menapakkan kaki di Indonesia bagian Timur, cuma doanya nggak lengkap aja, malah dapat SK penempatan pertama di sini, wkwk. SK PNS pula, sebuah hal yang mungkin pernah saya impikan sekilas, namun tidak menjadi prioritas.  
Dulu, pikiran untuk jadi PNS hanya pernah sekali muncul pada masa SMA, dan semakin ketriger dengan adanya guru PPKN dan sejarah yang rajin menstimulasi otak saat membahas pemerintahan dan bela negara. Ya memang, sejak SD pelajaran yang paling saya sukai adalah sejarah. Entah kenapa rasanya otak selalu bersemangat kalau diminta untuk berimajinasi tentang cerita-cerita dalam sejarah.   
Masih tergambar jelas dalam pikiran kala itu, akan keren sekali ketika suatu saat saya bisa mengikuti jejak eyang buyut yang pernah jadi juru tulis pemerintah, eyang kakung dari bapak yang pernah jadi Asisten Wedana di sokaraja (nama bekennya mbah sisten - dari kata asisten wkwk), bapak sendiri pernah jadi ajudan bupati setelah lulus dari IPDN dan bergerak perlahan ke struktural pemerintahan daerah, lalu kalau anak-anak bapak bisa salah satu melanjutkan tongkat estafet ya keren aja gitu hihi.  
Lalu entah bagaimana, di kelas 3 SMA saya mulai berpaling. Saat itu sebetulnya saya sempat berpikir ingin masuk kebidanan, keperawatan, atau keguruan. Tapi keluarga tidak ada yang setuju. Setelah lulus kuliah mendaftar menjadi tenaga pengajar pun nggak pernah lolos. Rupanya takdir Allah berkata lain. Saya dituntun dulu untuk melewati beberapa fase penuh tantangan, yang pada akhirnya mampu membuat saya speechless, karena sekarang akhirnya saya bisa jadi tenaga pengajar walau masih level bantu-bantu, ngajarin nginstall laptop atau software tertentu untuk laptop orang-orang di desa misalnya. Sudah termasuk tugas mengajar juga kan? :)
Pun soal bertemu orang-orang baru dengan berbagai karakter dan 'level'. Di usia yang sudah 27 lewat ini, saya akhirnya bisa mencapai titik dimana saya bisa mulai mengerti kebutuhan diri sendiri, tanpa dikte dari siapapun. Dan memang sungguh indah rencana Allah membawa saya, dari yang dulunya penakut dan benar-benar selalu mengkerut saat harus berkomunikasi dengan orang baru, sekarang malah jadi berbeda 180 derajat, terlalu percaya diri dalam membuka percakapan baru malah. wkwk. 

Perubahan ini tidak terjadi dalam waktu singkat dan cara instant tentunya. Setelah hampir 3 tahun belajar ilmu komunikasi secara praktik langsung di pekerjaan sebelumnya, saya mulai bisa membuka diri dan belajar 'berdamai' dengan emosi. Lalu ketika saya mulai merasa semuanya bisa terkendali, saya mulai merasa butuh wadah yang lebih besar lagi daripada sebelumnya. Akhirnya dengan modal 'ingin mencari pengalaman' yang mana lebih ke arah kebutuhan pengembangan diri lagi, saya mencoba menikmati apa yang ada di hadapan saya. Maka kelak, ketika kebutuhan saya di level ini sudah terpenuhi, mungkin saya akan mencari wadah lain yang lebih bisa memenuhi, hingga saya bisa memaksimalkan lagi segala hal yang saya miliki untuk bermanfaat bagi orang lain. Itulah kenapa saya selalu percaya setiap manusia bisa berubah, tapi tergantung pada pribadi masing-masing juga sih, apakah ia mau dan mampu untuk berubah atau tidak.

Mungkin waktu saya berjalan lebih lambat dan pelan dibandingkan oranglain yang seumuran, tidak mengapa, yang penting saya tetap bisa berjalan, walau pelan-pelan. Karena saya punya zona waktu saya sendiri.

Jadi kalau ada teman yang bilang 'kok kamu berubah sih sekarang?', 
well... everybody's changing and I don't feel the same anymore, hehe. 
Selama itu membawa perubahan yang baik, 
keep going lah!

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ramai - Sunyi

Menyapa Sepi

Cermin Jauh